Kencan Singkat Bersama Toyota C-HR, Kesannya… | | dapurpacu.id

Kencan Singkat Bersama Toyota C-HR, Kesannya…


JAKARTA (DP) – Kalau ditanya soal kesan pertama setelah ‘kencan’ dengan Toyota C-HR, jawabannya jelas, yaitu passionate to drive, alias bikin nafsu untuk menggebernya.

Tak berlebihan jika Dapurpacu.id bersama awak media lain ingin mengeksplorasi habis crossover bergaya modern dan dinamis ini, karena selain desainnya yang atraktif, platform anyar yang digadang mampu meningkatkan kestabilan, pengemudian dan pengendalian, memang patut dicoba. Tapi sayang, keinginan itu tak kesampaian karena waktu yang diberikan untuk mencoba langsung model terbaru Toyota ini terlalu singkat, baik saat mengemudi maupun ketika menjadi penumpang.

Tapi meski singkat, acara bertajuk All-new C-HR First Media Impression itu sudah cukup untuk memberikan gambaran bahwa C-HR adalah kendaraan yang fun to drive.

Sebelum acara test drive khusus media itu digelar, Product Knowledge Planning Division PT Toyota Astra Motor, Gandhi Ahimsa Putra, sudah gembar-gembor bahwa C-HR asyik dikendarai berkat pemakaian platform anyar bernama Toyota New Global Architecture (TNGA).

“Platform TNGA ini mampu meningkatkan kenyamanan dalam mengemudi. TNGA juga memberikan responsive handling berkat penguatan pada struktur bodi sehingga bodi lebih rigid,” kata Gandhi di Jakarta medio pekan ini.

Gandhi juga menjelaskan bahwa dengan TNGA maka proses produksi lebih efisien serta bisa lebih fleksibel dalam menerapkan sistem penggerak, yaitu bisa penggerak roda depan (FWD), roda belakang (RWD) maupun semua roda (AWD).

“Selain itu, mobil dengan TNGA akan memiliki tingkat visibility lebih baik dan juga posisi pengemudi lebih nyaman,” imbuhnya.

Yang jelas, kata dia, keunggulan dari platform TNGA adalah driving quality, satisfying driving, spacious, fuel efficiency dan comfortable. Bukan itu saja, dengan TNGA, semua fitur dan utilities bisa disematkan pada kendaraan.

“Tapi yang paling menarik dari penggunaan TNGA adalah dapat menghasilkan kendaraan dengan desain emosional yang mampu mencuri perhatian serta memberikan aspek keamanan tingkat dunia,” ucapnya.

Baca juga:  AASD Gelar Touring Ceria ke Situ Gunung Sukabumi

Memang benar apa yang dipaparkan Gandhi tentang TNGA. Ketika masuk ke kabin C-HR dan mobil mulai bergerak dari kecepatan rendah hingga tinggi, kesenyapan kabin boleh diacungi dua jempol. Melibas permukaan jalan bervariasi di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, mulai jalan beraspal, jalan rusak dan paving block, tingkat kesenyapan kabin tetap terjaga.

Bahkan ketika melalui permukaan jalan yang berbeda, yakni jalan beraspal dan paving block, suara dari ban hampir tak ada perbedaannya. Dan saat melibas jalan berlubang yang cukup dalam, penumpang C-HR tak sampai terguncang parah layaknya mobil yang menggunakan platform biasa.

Driving feeling C-HR cukup bagus. Mobil tidak takut diajak melintasi jalan rusak. Juga, body movement lebih kecil dibandingkan dengan mobil non TNGA. Kolong C-HR yang rata selain untuk meningkatkan aerodynamic, juga dapat mengurangi suara bising dari kolong mobil,” kata Ghandi.

Pernyataan Gandhi tersebut ada benarnya, karena selain kabin senyap, bantingan C-HR ketika melibas jalan rusak tidak membuat penumpang, terutama di bangku belakang, seperti dikocok-kocok.

Kondisi itu, selain karena struktur bodi yang kuat berkat pemakaian TNGA, juga karena ditopang suspensi belakang yang mengadopsi sistem double wishbone. Dengan suspensi double wishbone, sudut kemiringan roda akan mengikuti kontur jalan, sehingga guncangan akibat melindas permukaan jalan jelek dapat diredam.

Kestabilan C-HR layak dapat bintang, karena selain handling yang lebih presisi dan responsif, titik bobot yang lebih rendah dipadu dengan fitur Vehicle Stability Control (VSC), membuat pengemudian makin mantap, dan saat melibas tikungan tajam dengan kecepatan tinggi, gejala bodi limbung sangat kecil.

Lagi-lagi, TNGA berperan besar di sini, karena sejatinya platform ini secara signifikan meningkatkan rigiditas bodi kendaraan yang membuat pengendalian lebih responsif. Penggunaan baja berkekuatan tinggi pada sejumlah area penting, menjadi kunci dari peningkatan rigiditas bodi C-HR. Imbasnya tentu membuat respons sasis menjadi lebih baik dan pada akhirnya menghasilkan kualitas pengemudian prima.

Baca juga:  AASD Gelar Touring Ceria ke Situ Gunung Sukabumi

Bagi orang yang berada di belakang setir, mengemudikan C-HR makin nyaman dan percaya diri karena selain kestabilan kendaraan amat baik, semua instrumen dan tombol mengarah ke pengemudi, termasuk layar infotainment yang menjorok dari dashboard.

Suasana nyaman itu dirasakan Dapurpacu.id ketika mendapat giliran berada di belakang kemudi C-HR berkelir putih. Feeling dari lingkar kemudi cukup bagus, meski ringan pada kecepatan rendah, tapi terasa tidak terlalu ringan. Begitu juga saat melaju pada kecepatan tinggi, setir tetap nyaman dan tidak terasa berat.

Untuk performa, C-HR yang mengusung mesin berkapasitas 1.8 liter ini lumayan galak, terutama bila memilih mode pengemudian Sport. Meski menggunakan CVT, tapi dengan sistem CVT yang lebih baru, kebiasaan ‘lemot’ saat akselerasi tak ditemukan lagi di C-HR. Ketika dilakukan kickdown, C-HR akan langsung berakselerasi dan muncul sedikit hentakan ketika terjadi perpindahan gigi layaknya transmisi non CTV. Jadi aura sport tetap keluar.

Namun, bila Anda lebih ingin mengedapankan efisiensi ketimbang performa, pilih saja mode Normal atau Eco. Indikator yang menunjukkan mode pengemudian itu muncul di multi information display (MID), tepatnya di antara speedometer dan tachometer. Mengoperasikannya cukup mudah, yakni tinggal menekan tombol mode di lingkar kemudi sesuai keinginan. Pemilihan mode pengemudian bisa dilakukan saat mobil berhenti atau melaju.

Pengereman pada C-HR cukup lembut dan ‘nurut’. Karakter pengereman dari C-HR ini tak banyak ditemukan pada beberapa model Toyota lainnya.

Baca juga:  AASD Gelar Touring Ceria ke Situ Gunung Sukabumi

Toyota C-HR menggunakan rem tangan elektrik, dengan cara pengoperasian menekan dan menarik tuas kecil di belakang tuas perseneling. Di situ juga ada juga tombol ‘Hold’ dan fitur stability control. Asyiknya, ketika mobil berhenti, tidak akan bergerak maju atau mundur meski pedal rem tidak diinjak, karena dibantu oleh fitur Hold yang beroperasi secara otomatis. Kemudian, ketika tuas perseneling berada di posisi P, rem tangan akan mengunci otomatis tanpa mengoperasikan rem tangan, sehingga menambah rasa aman saat berkendara.

Rasa aman kembali tercipta berkat keberadaan fitur rear cross traffic alert, dengan menampilkan lampu peringatan di spion luar ketika ada obyek yang menghalang saat mobil mundur. Fitur ini sangat memberikan rasa aman ketika keluar dari area parkir dan ada pejalan kaki atau kendaraan yang melintas di belakang mobil.

Adapun beberapa fitur keselamatan aktif lain yang dicangkokkan pada C-HR meliputi 7 SRS Airbags (D+P+S+CSA+D-Knee), Anti-Lock Braking System (ABS), Electronic Brake-force Distribution (EBD), Braking Assist (BA), Vehicle Stability Control (VSC), Hill Assist Control (HAC), Traction Control, Auto-Brake-Hold, Impact Absorbing Structure, dan Blind Spot Monitor.

Hmm… sayang sekali kesempatan yang diberikan untuk mencoba sensasi berkendara C-HR sangat singkat. Tapi pengalaman singkat ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai karakter dan pengemudian crossover yang ditawarkan mulai Rp488,5 juta ini.

Juga ada harapan C-HR versi update mendatang sudah dilengkapi power outlet di kabin belakang, karena meski terlihat sepele, tapi fitur ini sangat penting bagi para pengguna gadget yang ingin mengisi ulang perangkat genggam mereka. Apalagi C-HR juga untuk menyasar kaum muda atau yang berjiwa muda, yang notabene sangat bergantung pada gadget dalam aktivitas keseharian mereka.   [dp/TGH]