Inikah Tanda-tanda Kematian Mesin Diesel Sudah Datang? | dapurpacu.id

Inikah Tanda-tanda Kematian Mesin Diesel Sudah Datang?


JAKARTA (DP) – Skandal mesin diesel yang melibatkan Volkswagen bagaikan bola salju yang akan menggilas industri otomotif dunia, terutama dalam hal pengembangan mesin diesel. Mesin peminum solar ini sepertinya sudah memasuki akhir kehidupannya.

Di beberapa negara dengan regulasi emisi yang sangat ketat, seperti Eropa, bisa saja tanda kematian mesin diesel sudah di depan mata. Hal itu tergambar dari terus meningkatnya penjualan mobil hybrid, plug-in hybrid dan listrik. Sebaliknya, mobil bermesin diesel lambat laun mulai ditinggalkan konsumen.

Kabar terbaru datang dari Nissan, yang mengumumkan akan mulai menghentikan penjualan mobil penumpang bermesin diesel di Eropa secara bertahap demi mengikis emisi karbon.

“Bersama dengan pabrikan lain dan sejumlah lembaga industri, kita sudah melihat tren penurunan mesin diesel. Tapi kami belum mengira mesin diesel akan mati dalam waktu dekat ini,” kata juru bicara Nissan.

Tapi Nissan belum menetapkan tenggat waktu untuk menghapus mesin diesel dari jajaran produknya. Alasannya, saat ini masih banyak konsumen yang memilih mobil dengan mesin diesel modern. Jadi, mesin diesel belum sepenuhnya akan dihapus dari daftar dapur pacu yang ditawarkan Nissan saat ini dan dalam beberapa tahun ke depan, meski volumenya akan dikurangi secara perlahan.

Baca juga:  AASD Gelar Touring Ceria ke Situ Gunung Sukabumi

“Di Eropa, di mana kami mengkonsentrasikan penjualan mesin diesel, tekanan dari program elektrifikasi akan memaksa kami menghentikan diesel dari jajaran mobil penumpang ketika model terbarunya keluar,” sebut sang jubir yang tak diungkapkan identitasnya itu.

Dengan langkah terbaru dalam hal menekan kadar polusi udara, berarti Nissan bergabung dengan Fiat Chrysler (FCA) dan Toyota untuk menghentikan penjualan mobil diesel di Benua Biru.

Tapi berbeda dengan dua rivalnya yang sudah menetapkan waktu untuk menyetop penjualan mobil diesel, Nissan belum tegas menetapkan tenggat waktunya.

Pada awal tahun ini, Toyota menyatakan akan menghentikan penjualan seluruh mobil penumpang bermesin diesel di Eropa pada akhir 2018. Sedangkan Fiat Chrysler mengumumkan tak lagi menjual mobil diesel pada 2022.

Bagi Nissan, jika mereka buru-buru untuk menghentikan penjualan mobil diesel dalam waktu dekat, sejumlah analis mengira hal itu akan mengganggu posisi mitra aliansinya, yakni Renault, yang dikenal sebagai pabrikan mobil raksasa di Eropa dengan menghasilkan banyak model kendaraan bermesin diesel.

Baca juga:  AASD Gelar Touring Ceria ke Situ Gunung Sukabumi

Namun yang jelas, perlahan tapi pasti, mesin diesel akan semakin terdesak oleh mesin bensin berteknologi hybrid, mobil listrik dan fuel cell hidrogen.

Apalagi di sejumlah negara di Eropa, salah satunya Jerman, mulai melarang mobil diesel memasuki kawasan perkotaan di beberapa kota tertentu. Contohnya di Jerman, di mana pengadilan di negeri itu akan mengizinkan Stuttgart dan Düsseldorf melarang beberapa kendaraan diesel tertentu memasuki pusat-pusat kota guna mengurangi polusi udara.

Jika di Jerman saja, yang notabene adalah penghasil mobil-mobil mewah bermesin diesel canggih dengan performa ciamik, sudah melarang mobil-mobil diesel tertentu memasuki sejumlah kota, itu artinya lonceng kematian siap dibunyikan.

Tapi untuk punah sama sekali keberadaan mesin diesel di dunia, sepertinya belum saatnya. Pasalnya, di beberapa negara yang tak memiliki aturan ketat soal emisi, terutama di negara-negara berkembang, mesin diesel masih menjadi pilihan karena dinilai irit dan bandel. Kalau itu alasannya, tentu belum bisa bicara banyak tentang standar emisi karbon yang ketat, yang tak hanya mensyaratkan teknologi mesin diesel yang memenuhi standar Euro, melainkan juga tentang bahan bakar diesel yang ramah lingkungan.

Baca juga:  AASD Gelar Touring Ceria ke Situ Gunung Sukabumi

Contoh paling gampang adalah di Indonesia. Di Tanah Air, teknologi mesin bensin kendaraan yang beredar saja belum semuanya memenuhi standar Euro 4. Padahal di Benua Biru sudah menetapkan standar Euro 6 yang lebih ketat lagi. Kalau begitu, bisa dibayangkan bagaimana kadar emisi karbon yang disemburkan knalpot kendaraan bermesin diesel di Indonesia?

Di sini, yang sangat dibutuhkan adalah peran dan tanggung jawab pemerintah untuk dapat menyusun aturan dan standar ketat untuk menekan kadar emisi karbon dari kendaraan bermotor, terlepas itu bermesin bensin atau diesel.

Jika para pemangku kepentingan tak punya aturan baku yang mengacu pada upaya penurunan polusi secara global, jangan pernah mengestimasi kendaraan bermesin diesel akan mati di Indonesia, yang ada malahan semakin banyak orang sakaratul maut akibat terlalu sering terpapar logam berat dari asap kendaraan, terutama kendaraan niaga yang rajin mengepulkan asap hitam pekat, karena untuk mendapatkan sertifikat lulus uji emisi hanya perlu menyelipkan amplop berisi duit ke tangan petugas penguji. [dp/TGH]