Toyota, Nissan, Honda Patungan Bikin Baterai Padat Untuk Mobil Listrik


JAKARTA (DP) – Toyota, Nissan, Honda dan Panasonic dikabarkan bergabung untuk membentuk konsorsium guna meluncurkan program penelitian dan pengembangan (Litbang) baterai padat untuk mobil listrik (EV).

The Consortium for Lithium Ion Battery Technology and Evaluation Center (Libtec) akan mendapat dukungan hibah senilai $14 juta (Rp196,3 miliar) dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang, demikian dilaporkan Nikkei Asian Review.

Teknologi baterai solid-state (padat) dinilai akan menjadi lompatan besar dalam mendukung pengembangan mobil listrik. Baterai jenis ini menggunakan elektrolit padat yang menawarkan densitas energi lebih tinggi ketimbang baterai jenis lithium-ion cells. Keunggulan lain dari baterai padat ini adalah suhunya lebih rendah ketika digunakan. Tak hanya itu, baterai padat akan lebih rendah biaya dalam pengembangannya dalam skala besar, selain juga lebih aman dan lebih handal dibandingkan jenis baterai yang dipakai sekarang oleh kebanyakan mobil listrik.

Baca juga:  Mitsubishi Motors Tampilkan SUV Listrik di Tokyo Motor Show 2019

Tujuan akhir dari Libtec adalah bersama-sama mengembangkan teknologi baterai yang dapat mendukung daya jelajah hingga sejauh 800 km untuk sekali pengisian pada 2030 mendatang. Untuk target jangka menengah, daya jelajahnya sekitar 550 km. Angka itu sudah cukup untuk mengalahkan mayoritas mobil listrik yang beredar sekarang.

Sebelumnya, Toyota Motor Corp. meningkatkan kerjasama dengan produsen baterai Panasonic Corp. untuk menciptakan teknologi bersih, dan mempercepat program pengembangan mobil listrik.

Dalam kerjasama itu, Panasonic dan Toyota mengeksplorasi pengembangan sel prismatik dan juga baterai padat (solid-state). Jadi kolaborasi antara tiga pabrikan mobil Jepang dan produsen baterai asal Negeri Matahari Terbit itu dilihat sebagai kelanjutan dari kerjasama yang telah dijalin antara Toyota dengan Panasonic.

Untuk diketahui, Panasonic selama ini memasok sel lithium-ion untuk disematkan pada sejumlah model hybrid Toyota, seperti plug-in Prius. Panasonic dan Toyota telah menjalin kerjasama sejak 1996, dengan membentuk perusahaan patungan bernama Primearth EV Energy Co., yang memproduksi baterai jenis lithium-ion dan nickel-metal hydride. Di perusahaan itu, Toyota menguasai 80,5 persen saham, dan sisanya dimiliki Panasonic.

Baca juga:  Honda e Resmi Dijual Mulai Musim Panas 2020

Dengan bergabungnya tiga raksasa otomotif Jepang itu, dinilai akan menjadi langkah awal untuk mulai meninggalkan teknologi mesin diesel. Bahkan Toyota dan Nissan sudah menyatakan tidak akan memproduksi lagi model kendaraan bermesin diesel di Eropa seiring dengan merosotnya penjualan kendaraan peminum solar di Benua Biru itu.

Di Eropa, Toyota dan Nissan menguasai pangsa pasar mobil diesel sebesar 8,6 persen selama kuartal pertama tahun ini.

“Keputusan Toyota dan Nissan itu sudah bisa diprediksi sejak awal, karena para pabrikan Jepang memang sudah skeptis dengan teknologi mesin diesel, dan mereka juga tak kompeten di segmen ini,” kata Stefan Bratzel, direktur manajemen otomotif di University of Applied Sciences di Bergisch Gladbach, Jerman, seraya menyebut Honda Motor Co. dan Mazda Motor Corp. kemungkinan akan mengikuti langkah Toyota dan Nissan di Eropa. [dp/TGH]