Toyota Siap Berbagi Teknologi Hybrid dengan China, Indonesia Bisa Tiru


BEIJING (DP) – Soal teknologi hybrid, semua pasti sepakat bahwa Toyota Motor Corp. adalah jagoannya, karena raksasa otomotif Jepang ini sudah merilis produk hybrid pertamanya sejak 1997 silam dan terus berkembang pesat hingga sekarang.

Bahkan kepiawaian Toyota dalam penguasaan teknologi hybrid sudah diakui para rivalnya. Sudah beberapa pabrikan mobil di dunia yang mengadopsi dan mempelajari teknologi hybrid milik Toyota, sebut saja BMW, Subaru, Nissan, Mazda dan juga Suzuki, baik melalui kerjasama atau penjualan paten.

Dari situ terlihat bahwa teknologi hybrid milik Toyota sudah teruji di pasar dan sukses merebut hati konsumen, terutama di Amerika Serikat, Eropa dan juga Jepang tentunya. Di tengah meredupnya aura mesin diesel yang dikenal irit, kendaraan hybrid tampil sebagai primadona baru dalam hal efisiensi bahan bakar. Tak cuma itu, faktor harga, biaya pengembangan dan operasional serta efisiensi bahan bakar menjadi kartu as bagi sukses mobil hybrid di banyak negara.

Untuk itu, ketika China tengah gencar-gencarnya menuntut semua pabrikan mobil untuk menghasilkan kendaraan ramah lingkungan dengan bahan bakar alternatif, teknologi hybrid pun siap memenuhi tuntutan itu. Toyota pun tak mau pelit untuk berbagi ilmu soal teknologi hybrid maupun plug-in hybrid dengan para pabrikan mobil China.

Jika langkah Toyota untuk menjalin kerjasama dengan lebih banyak mitra lokal dalam menelurkan kendaraan hybrid, plug-in hybrid atau fuel cell hidrogen (teknologi yang juga dikuasai Toyota), bukan tak mungkin Toyota bakal mampu mengejar para rivalnya dalam penguasaan pasar otomotif China sebagai pasar otomotif terbesar dunia.

Sejumlah sumber di China menyebutkan bahwa para petinggi Negeri Tirai Bambu itu sudah meminta Toyota berbagi teknologi hybrid guna membantu pabrikan lokal memenuhi standar emisi yang kian ketat.

Sadar bahwa ini merupakan peluang bagus untuk semakin memperkuat cengkeraman bisnisnya di China, Toyota pun sudah menjalin pembicaraan terkait pemberian lisensi penggunaan teknologi hybrid dengan Geely Automobile Holdings Ltd., ungkap beberapa sumber yang enggan diungkap identitasnya.

Itu belum termasuk kerjasama yang dilakukan Toyota dengan para mitra lokalnya di China untuk memproduksi Corolla dan Levin hybrid serta C-HR hybrid dan plug-in hybrid.

Menurut catatan, seperti dikutip Greencarreports, kendaraan berteknologi plug-in hybrid menyumbang sekitar 40 persen dari total penjualan Toyota di China.

Baca juga:  Ada Toyota Hiace Racikan TRD. Mau Disulap Jadi Mobil Reli?

Dukungan Pemerintah China

Tak pelak, dukungan penuh dari Pemerintah China untuk mendorong lebih banyak lagi pabrikan lokal melirik teknologi hybrid dan plug-in hybrid sebagai tahapan menuju kendaraan berteknologi listrik murni, sangat diharapkan oleh Toyota. Hal itu juga sejalan dengan ambisi Toyota agar bisa mengejar ketertinggalan mereka dalam menguasai pasar China.

Apalagi teknologi hybrid dan plug-in hybrid Toyota sudah terbukti sukses di Eropa dan Jepang selama bertahun-tahun. Sementara China sejauh ini justru lebih fokus pada kebijakan yang mewajibkan semua pabrikan untuk mengalokasikan sekian persen dari total produksi harus berteknologi listrik, yang dibarengi dengan pemberian subsidi dan insentif pajak.

Semua itu dilakukan demi menekan tingkat polusi negeri itu yang semakin menyesakkan napas para penduduknya, terutama di perkotaan.

Dengan mahalnya pengembangan teknologi listrik murni dan juga daya jelajah yang terbatas serta waktu pengisian baterai yang jauh lebih lama ketimbang mengisi bahan bakar biasa atau gas, maka teknologi hybrid dan plug-in hybrid sepertinya tahapan paling masuk akal dalam upaya elektrifikasi kendaraan.

Nah, China kini mulai melihat hybrid dan plug-in hybrid sebagai tahapan yang pas untuk menuju kendaraan listrik murni di masa mendatang. Ini juga bisa menjadi bagian dari rencana jangka panjang untuk mencapai target emisi nol persen dan mengurangi ketergantungan negeri itu terhadap minyak impor.

Ketegangan perdagangan antara China dengan Amerika Serikat juga memberikan dorongan bagi Toyota dan China untuk menjalin kerjasama lebih erat dan nyata demi mengejar target menekan serendah mungkin emisi karbon hingga nol persen.

Menggusur Volkswagen

Meningkatnya popularitas hybrid di Negeri Kungfu itu juga dapat membantu Toyota mengejar pemimpin pasar, yakni Volkswagen AG dan General Motors Co., yang keduanya masing-masing menjual lebih dari 4 juta kendaraan di China tahun lalu.

Bandingkan dengan penjualan Toyota yang hanya 1,3 juta unit, dan dari jumlah itu, sekitar 10 persen berteknologi hybrid. Toyota ingin meningkatkan proporsi itu menjadi lebih dari 30 persen paling cepat hingga awal 2020.

Target itu sepertinya akan mudah dicapai. Pasalnya, sejumlah pabrikan mobil China yang tak memiliki teknologi hybrid telah mengajak Toyota untuk bekerjasama, raksasa otomotif Jepang itu pun menyambut baik ajakan itu.

Baca juga:  Lagi, Toyota Jadi Merek Otomotif Paling Berharga

Toyota sudah mempertimbangkan untuk memilih beberapa pabrikan China untuk kerjasama dalam pengembangan teknologi hybrid, kata seorang eksekutif Toyota yang menolak namanya disebut. Ia menambahkan bahwa Toyota akan secara resmi mengumumkan keputusan untuk kerjasama itu tahun ini.

Sejumlah perusahaan China yang sedang melakukan pembicaraan terkait pengembangan teknologi hybrid dan pemberian lisensi untuk penerapan teknologi itu, antara lain perusahaan pemasok baterai listrik Hunan Corun New Energy Co. hingga raksasa otomotif Geely. Selain itu, masih ada beberapa pabrikan mobil Negeri Panda lainnya yang juga terlibat pembicaraan serius dengan Toyota untuk isu yang sama.

Mengantisipasi meningkatnya permintaan, Toyota saat ini mempercepat produksi baterai listrik bersama Corun di China melalui perusahaan patungan yang mereka bentuk, yakni Corun PEVE Automotive Battery Co.

Perusahaan patungan itu akan menggandakan produksi menjadi sekitar 210.000 unit baterai per tahun pada 2020. Kedua perusahaan itu juga mempertimbangkan untuk menaikkan produksi lagi menjadi sekitar 480.000 unit baterai setelah 2020.

Adapun Corun saat ini juga menjalin kerjasama dengan Geely, yang membidik posisi tiga besar penjualan di China tahun ini, atau mengalahkan seluruh merek Jepang untuk pertama kalinya. Kondisi itu ikut mendongkrak harga saham Corun, yang naik 2,2 persen di bursa saham Shanghai, yang merupakan kenaikan tertinggi dalam sebulan perdagangan.

Optimalkan performa

“Hybrid itu merupakan teknologi yang rumit, dan tak bisa dicontek begitu saja,” ujar Tatsuo Yoshida, analis otomotif di Sawakami Asset Management di Tokyo.

“Toyota juga perlu mengajarkan kepada para mitranya untuk mengoptimalkan performa teknologi hybrid,” tambahnya.

Ucapan Yoshida itu benar, bahwa faktanya Toyota sekarang sudah menguasai teknologi hybrid yang lebih maju dibandingkan dengan yang sudah diberikan lisensinya kepada pabrikan rival.

Tapi Toyota punya kebijakan terbuka (open policy) untuk bekerjasama dengan pabrikan lain dan para mitranya yang juga menerapkan teknologi elektrifikasi kendaraan, kata seorang juru bicara Toyota.

Pembicaraan dengan Geely seputar kerjasama teknologi hybrid merupakan bagian dari kebijakan itu.

Tapi yang jelas bahwa dengan memperbanyak produksi kendaraan hybrid dapat membantu para pabrikan mobil China memenuhi persyaratan dalam regulasi konsumsi bahan bakar baru yang akan diwajibkan pada 2020.

Kendaraan hybrid dinilai lebih terjangkau ketimbang mobil listrik murni dan juga tak perlu diragukan soal daya jelajahnya, sehingga berpotensi menarik minat lebih banyak konsumen China yang belum siap beralih dari mesin konvensional ke mobil listrik murni.

Baca juga:  Kinerja Positif, Asuransi Astra Raih Dua Penghargaan

Pendekatan diplomatik

Sebagai bagian dari upaya semakin meningkatkan hubungan baik antara China dengan Toyota, Perdana Menteri China Li Keqiang telah berkunjung ke Jepang pada Mei lalu dan bertemu dengan Chief Executive Officer Toyota, Akio Toyoda.

Pada kesempatan itu, Li meminta Toyota bekerjasama dalam bidang teknologi ramah lingkungan. Sementara Toyoda menyarankan Li agar China juga memberi perhatian pada teknologi hybrid dan tak hanya fokus pada mobil listrik murni.

“Bagi Toyota, hal ini tentang semua pihak dapat menggunakan teknologi hybrid yang dikembangkannya guna membuktikan standar tinggi dari teknologi tersebut,” tutur Koji Endo, analis otomotif di SBI Securities Co. di Tokyo.

“Tiba-tiba berbagi teknologi andalannya dengan perusahaan seperti Geely, yang sebelumnya belum memiliki hubungan kerjasama, tentu merupakan perubahan arah kebijakan bagi Toyota,” sebut Endo.

Bisa diadopsi Indonesia

Apa yang telah dilakukan Beijing dengan melakukan diplomasi langsung dengan Toyota terkait persiapan menuju era kendaraan elektrifikasi, tentunya bisa juga dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.

Terlebih saat ini pemerintah masih terus menggodok kebijakan dan regulasi yang pas untuk mewujudkan program langit biru. Melalui regulasi low carbon emission vehicle (LCEV), setiap produsen yang ikut program itu harus membuat dan menjual mobil dengan bahan bakar alternatif, seperti listrik, hybrid, plug-in hybrid, dan lainnya.

Jika memenuhi syarat sesuai dengan regulasi itu, maka masing-masing produsen akan diberikan keringanan dalam hal pajak.

Tapi seperti halnya yang dirasakan produsen otomotif China terkait kebijakan tegas Beijing soal standar emisi karbon, melompat langsung ke teknologi listrik murni, jelas butuh biaya tinggi dalam pengembangannya. Lebih realistis untuk memulai dulu dari teknologi hybrid, plug-in hybrid, baru mencapai teknologi listrik murni atau bahkan fuel cell hidrogen yang memiliki sumber energi yang melimpah di Tanah Air.

Apalagi infrastruktur berupa stasiun pengisian baterai mobil listrik di Indonesia juga belum siap, maka tak ada salahnya untuk lebih fokus dulu terhadap mobil hybrid dan plug-in hybrid, terutama untuk insentif pajaknya agar mobil hijau ini lebih terjangkau harganya. [dp/TGH]