Apa Sebaiknya Daihatsu Stop Penjualan Sirion?


JAKARTA (DP) – Selama hampir 10 bulan (Februari – November 2018), Daihatsu hanya mampu menjual 1.249 unit Sirion, kalah jauh dengan mobil-mobil yang berlabel city car lainnya, seperti Suzuki Ignis, Honda Brio dan Datsun. Padahal pada saat diuncurkan awal tahun lalu, Daihatsu Sirion masuk dalam kategori All New yang menyasar konsumen anak muda.

Lalu, mengapa penjualannya tak semanis model-model Daihatsu lainnya? Secara tampilan, tak jauh berbeda dengan model-model city car yang dipasarkan agen pemegang merek (APM) lainnya. Juga soal harga, tipe manual contohnya, dipasarkan Rp182,5 juta, transmisi otomatis tak sampai Rp195 juta. Artinya, peluang bagi konsumen pembeli mobil pertama, harga segitu sebenarnya tidak mahal-mahal amat.

Dari aspek teknis, diyakini mesin yang kubikasinya 1,3 lter termasuk irit bahan bakar. Sedangkan rata-rata pesaingnya dimodali mesin 1,2 liter. Tapi, kenapa Sirion minim pembeli?

Coba kita kilas balik pada acara peluncuran All New Sirion di Gandaria City, Jakarta Selatan, Selasa (13/2) 2018 lalu, Direktur Marketing ADM, Amelia Tjandra, menjelaskan bahwa pihaknya tidak muluk-muluk menargetkan penjualan Sirion.

“Hanya 200 unit per bulannya. Kami hanya ingin menjaga pasar yang sudah terbentuk sebelumnya,” tegas Amel waktu itu.

Baca juga:  Di 14 Wing Dealer ini, All New PCX Hybrid Bisa Dipesan

Artinya, dengan target sebulan 200 unit, selama hampir 10 bulan sampai dengan November, setidaknya terjual 2.000 unit. Faktanya, dari pabrik ke diler (wholesales) jauh dari target. Penjualan ritel pun sama saja. Menurut Gaikindo, penjualan Sirion hanya berada di urutan keempat, di bawah Ignis, Brio dan Datsun.

Tanda-tanda anjloknya penjualan Sirion sebenarnya sudah terjadi pada 2017. Pada 2017, Sirion terjual sebanyak 1.790 unit, tidak lebih baik dari tahun sebelumnya (2016) yang masih mencapai 2.950 unit.

Dari hasil diskusi dengan berbagai kalangan otomotif, Dapurpacu.id menduga kemungkinan anjloknya penjualan Sirion ada hubungannya dengan perilaku konsumen di Indonesia. Bisa jadi, ini adalah bentuk dari rasa sentimen negatif terhadap sebuah produk dari negara lain. Daihatsu, seperti diketahui, memang mengimpor Sirion dari Perodua, Malaysia, dengan nama MyVi.

Contoh produk otomotif lain yang terkena imbas sentimen negatif adalah Proton, yang kini sudah angkat kaki dari bumi Pertiwi. Kemudian ada juga SPBU Petronas dan produk-produk asal negeri jiran lainnya yang dicueki konsumen Indonesia.

Baca juga:  Bengkel Mobeng Bidik Kawasan Hunian di Pinggir Jakarta

CEO dan Pendiri lembaga riset ALVARA, Hasanuddin Ali, mengatakan sentimen negatif terhadap produk Malaysia memang mengakar kuat pada konsumen dalam negeri.

Ali mengatakan ada tiga tipikal konsumen di Indonesia. Pertama, ada kelompok konsumen yang memang masih anti terhadap produk Malaysia sehingga mereka enggan membeli produk-produk asal Malaysia. Lalu, kedua, tidak peduli produk mana yang penting kualitasnya sangat bagus. “Yang ketiga tidak peduli yang penting murah,” tegasnya seperti dikutip Merdeka.com.

Menurut Ali, saat ini rata-rata konsumen di Indonesia merupakan konsumen kelas menengah yang terdiri dari orang-orang terdidik dan anak-anak muda yang banyak mengetahui perseteruan antara Indonesia dan Malaysia, sehingga membuat produk Malaysia tidak laku di pasaran.

“Kita kan banyak konsumen kelas menengah. Itu kan konsumen yang terdidik dan anak-anak muda enggan membeli produk Malaysia, jadi itu tidak terlalu laku di pasaran,” pungkasnya.

Namun, lanjut Ali, sentimen tersebut hanya terbatas untuk produk yang bercirikan Malaysia secara kentara. Beberapa produk seperti AirAsia, CIMB Niaga atau Centro diperkirakan tidak akan berpengaruh terhadap sentimen itu.

Baca juga:  Mengapa Orang-orang Ini Rela Antri untuk Mendapatkan iPhone X

Tapi bila dari aspek lain, kurang moncernya penjualan Sirion boleh jadi karena adanya disparitas harga yang lumayan besar dengan saudaranya yang masuk kategori LCGC, seperti Ayla dan Sigra. Dengan harga yang nyaris Rp200 juta, mungkin orang berpikir lebih baik memilih hatchback merek lain yang lebih kuat eksistensinya di pasar, misalnya Toyota Yaris atau Honda Jazz.

Meski harus merogoh kocek lebih dalam, tapi dengan memboyong dua merek yang disebutkan terakhir itu, secara gengsi konsumen merasa lebih tinggi.

Atau bila tak mau keluar duit lebih banyak tapi sudah bisa meminang model yang juga keren, ada opsi untuk membeli New Honda Brio. Lagi-lagi soal gengsi, nama Honda bagi sebagian konsumen lebih tinggi ketimbang Daihatsu.

Tapi entahlah faktor apa yang menjadi pemicu utama loyonya penjualan Sirion. Padahal dari sisi desain dan fitur, model ini patut diperhitungkan. Hanya saja, kalau sudah bicara gengsi dan nilai jual kembali, sepertinya pasar akan sulit dikendalikan. Jalan keluarnya, mungkin Daihatsu perlu mengkaji kembali untuk ‘mematikan’ Sirion dan digantikan model baru yang sesuai keinginan pasar. [Dp/Gtm]