Modifikasi Suzuki Thunder 125 Berkonsep Anti Mainstream

Konsep anti mainstream coba dipasangkan Wahyu Hidayat pada Suzuki Thunder 125 milik David. Aliran bratstyle dan tracker pun ditonjolkan pada motor ini.

JAKARTA (DP) – Cukup diakui, dalam urusan memodifikasi sepeda motor, tipe tunggangan jenis ‘batangan’ memang paling mudah, mulai dari Honda Tiger, Yamaha Scorpio hingga motor lawas seperti generasi Honda CB series.

Para builder beranggapan menggarap motor-motor seperti di atas lebih mudah, tanpa menghiraukan besaran kapasitas mesinnya. Tinggal cari literasi mana yang sesuai dengan pilihan hati.

Namun hal itu berbeda bila harus berhadapan dengan tunggangan yang terbilang telah ‘mati suri’ oleh sang pemilik terdahulu. Saat mendapatkan motor ini, David langsung berpikir keras terkait tema apa yang bakal diusungnya kelak.

Apalagi dirinya ingin agar ubahan pada Suzuki Thunder 125 ini bisa tampil beda diantara ratusan motor custom yang saat ini sedang menjamur.

“Kapasitas mesin kecil susah dihidupin, starter elektrik tidak berfungsi, saklar lampu dan indikator pada speedometer mati, lampu utama nyalanya seperti lilin. Begitu juga dengan tutup aki sebelah kanan hilang, kondisi cat yang kusam, lengkap sudah dengan joknya yang robek-robek,” kenang David kepada Dapurpacu.

Bisa dimaklumi, karena pada masa mudanya motor ini harus bekerja keras sebagai motor operasional pada perusahaan ekspedisi. Ini bisa terbaca pada riwayat hidup motor di buku BPKB.

Karena harga jualnya yang murah, lebih murah dari sepeda gunung baru, David pun membulatkan tekad untuk memboyong pulang motor ini guna dijadikan bahan proyek modifikasi berikutnya.

Tanpa berpikir panjang, David langsung menghubungi Wahyu Hidayat, punggawa Diwa Creative Studio, bengkel custom di daerah Cimanggis Depok. Bengkel ini terbilang telah menjadi langganan David dalam urusan mengobrak-abrik motornya.

Setelah berdiskusi jarak jauh sambil saling tukar gambar referensi, akhirnya disepakati untuk mengubah Thunder 125 ini jadi motor custom hasil persilangan aliran bratstyle dan tracker.

Baca juga:  Builder Terbaik Indonesia Hadiri Motor Bike Expo 2019 di Italia

“Bang David kan udah berapa kali ubah motor jadi model klasik di bengkel saya. Kali ini, ubahlah jadi lebih radikal, biar hasilnya ‘anti mainstream’ gitu bang,” begitu rayu Wahyu kepada David.

Penasaran dengan wujud motor ‘anti mainstream’ itu seperti apa, David pun setuju menyerahkan motornya untuk dirombak oleh Diwa. Begitu motor diterima, Wahyu segera memulai pekerjaanya. Dibutuhkan waktu tiga bulan untuk mewujudkan keinginan David, berikut ini detailnya :

Mesin

Sektor mesin jadi prioritas pertama untuk dibenahi. Suzuki Thunder 125 cc sering diolok-olok sebagai motor sport banci dan kacangan karena power mesinnya yang kecil. Pada Thunder 125 tahun 2012 ini, sebenarnya telah mendapat sentuhan baru pada mesinnya, sehingga lebih bertenaga.

Engine balancer juga telah disematkan untuk meminimalkan getaran. Selain itu, Suzuki juga telah menyempurnakan kopling dengan adanya scissors gear yang berfungsi untuk meredam suara dengung yang terjadi di daerah tersebut.

Dengan peningkatan itu, Wahyu cukup mengganti karburator bawaan dengan PE28 dari TDR plus saringan udara model racing, serta mengganti CDI dari BRT yang sudah teruji kinerjanya.

Alhasil tenaga dan tarikan dirasa mengalami peningkatan 15-20%, apalagi setelah digunakannya bahan bakar jenis Pertamax series. “Cukuplah, motor 125 cc berasa seperti 150 cc,” kekeh Wahyu.

Rangka

Beres di sektor mesin, Wahyu lanjut fokus ke pengerjaan rangka. Bagian belakang dibabat habis, kemudian dibuat bentuk baru serupa ekor angsa menggunakan pipa diameter yang sama dengan rangka asli.

Hasilnya, motor yang semula bisa untuk boncengan, sekarang hanya bisa terpasang jok single seater. Di sisi ini ditambahkan rak bergaya retro. Selain untuk bisa bawa barang saat turing, juga agar tampilan motor lebih terlihat tangguh.

Baca juga:  Scarlet Racing Perkenalkan Tiga Produk Baru Untuk Motor

Kaki-kaki

Pada sektor ini, menurut Wahyu wajib dilakukan ubahan agar penampilan motor jadi lebih menarik. Shockbreaker depan diganti menggunakan eks Yamaha Byson dengan diameter 41 mm, jauh lebih besar dari bawaan Thunder yang hanya berukuran 30 mm.

Begitu juga di belakang yang dipasangkan shockbreaker keluaran NTC. Model ini dipilih karena bentuknya yang unik, minimalis dan bersih dari tonjolan per agar ketika dipasang tidak terantuk dengan cakram rem belakang, menggantikan model standarnya (tromol).

Velg palang bawaan motor masih dipertahankan karena bentuknya yang masih sesuai tema ubahan, serta ukurannya yang sudah berdiameter 18 inci. Ban berukuran 18 x 400 bercorak semi trail dari Primaax dipilih untuk melengkapi gaya tracker.

Bodi

Suzuki Thunder mampu menampung BBM cukup banyak yakni mencapai 15 liter, terbesar di kelasnya. Namun disisi lain modelnya terlihat gambot, jauh dari konsep yang ingin dituangkan oleh Wahyu.

Karena itulah, tangki didesain ulang agar bentuknya lebih ramping menggunakan plat galvanis dengan tebal 1 mm. Desainnya pun dipermanis dengan adanya coakan di bagian samping. Tutup tangki dipilih model pop up bahan dural, yang untuk buka-tutupnya perlu gerakan menekan dan memutar.

Bodi samping atau tutup aki dilepas dan dibiarkan terbuka, agar ubahan motor ini terlihat klimis dan minimalis mengikuti pakem aliran bratstyle.

Lampu-lampu

Untuk sektor penerangan, Wahyu memasangkan lampu daymaker bulat berdiameter 6 inci, sementara di buritan menggunakan model lampu bulat kecil. Sudah menjadi ciri motor custom David, lampu sein depan dan belakang menggunakan bentuk berbeda.

Sein belakang berbentuk bulat, sedangkan sein depan berdesain seperti anak panah. Untuk lebih meningkatkan keamanan, ada tambahan lampu sein pada ujung setang (bar end turn signal/sein jalu).

Baca juga:  Suzuki Burgman Street Bakal Mejeng di GIIAS 2018

Terpasang juga modul hazard sehingga pada kondisi darurat dan saat touring, lampu sein depan-belakang kanan-kiri bisa menyala bersamaan layaknya lampu hazard.

Finishing

Seluruh rangka, swing arm, kepala silinder mesin dan bodi samping dilabur dengan warna hitam glossy. Khusus tangki dan spakbor dicat warna silver dengan sapuan warna hitam. Ditambahkan logo petir (thunder) warna biru agar sesuai dengan nama varian motor.

Blok mesin yang kotor dan kusam ketika motor ini didapat, sudah dipoles dengan warna abu-abu. Untuk setang, segitiga atas, shockbreaker dan beberapa bagian metal lainnya dibiarkan menggunakan warna chrome seperti aslinya.

Paduan warna hitam, silver dan chrome yang dominan, menjadikan motor ini lebih terlihat klasik. Agar terlihat sedikit nakal, dipilihlah warna merah untuk kulit jok.

Sayangnya David tidak menguraikan besaran kocek yang dikeluarkan untuk modifikasi tunggangannya. Meski custom dengan bahan motor biasa, walau hasilnya tidak luar biasa, setidaknya bisa tampil beda dan jadi lirikan diantara motor-motor standar lainny. Salut!!

Spesifikasi modifikasi Suzuki Thunder 125:

– Tangki bensin: Custom plat galvanis 1mm
– Ban depan belakang: Primaax SK 68 King Cross size 18-400
– Velg: Original Thunder EN125-HAK
– Swing arm belakang: Original Thunder EN125-HAK
– Disk belakang: Suzuki Satria
– Rem depan: Yamaha RX King
– Jok: MB-Tech custom by diwacreativestudio
– Handgrip: Yamaha Fino
– Saklar: Original Thunder EN125
– Knalpot: Custom steinless steel
– Cat: Spiece Hecker
– Back rack: Honda CB125 custom
– Spion: After market
– Rantai: Willwood