Ini Bisa Jadi Pelajaran Jika Indonesia Ingin Kembangkan Mobil Listrik


LOS ANGELES (DP) – Pengembangan mobil listrik masih terus dalam kajian pemerintah Indonesia dan semua pemangku kepentingan. Tapi ambisi berlebihan untuk menerapkan elektrifikasi kendaraan tanpa melihat kesiapan infrastruktur dan regulasinya, malah berpotensi menyulitkan konsumen.

Untuk mengembangkan mobil listrik murni memang bukan hal sulit, tapi menjadi sulit jika infrastruktur pendukung tidak memadai. Terlebih masyarakat perlu edukasi lebih intens agar terbiasa dengan perkembangan teknologi elektrifikasi kendaraan. Karena tanpa pemahaman yang jelas, ditambah belum memadainya insentif pajak yang diberikan, akan sulit mengalihkan kebiasaan masyarakat dari kendaraan pengonsumsi bahan bakar fosil menuju mobil listrik.

Tapi yang paling utama adalah ketersediaan infrastruktur yang memadai, yaitu stasiun pengisian baterai. Minimnya charging station akan memicu masalah baru, karena pasti akan terjadi antrean panjang kendaraan untuk mengisi ulang baterai mobil listrik. Padahal untuk mengisi penuh baterai itu butuh waktu lebih dari tiga jam. Dapat dibayangkan bila stasiun pengisiannya hanya beberapa, sementara mobil listrik yang antre sudah mengular.

Contoh paling nyata adalah bagaimana angkutan umum, terutama bajaj, yang harus mengantre lama untuk mengisi bahan bakar gas, yang disebabkan minimnya SPBG. Kondisi ini sudah lama berlangsung, sehingga memicu banyak kendaraan umum kembali beralih menggunakan bahan bakar fosil, karena BBG tak lagi ekonomis bila mengacu pada waktu operasional yang banyak termakan oleh antre untuk mengisi BBG.

Baca juga:  Awali 2019, Yamaha Luncurkan Aerox-MX King Berjubah 'Doxou'

Kondisi itu sangat mungkin terjadi pada mobil listrik. Apalagi bila kondisi jalan macet, maka daya jelajah kendaraan listrik akan jauh berkurang. Perlu diingat, bila hanya kota besar yang dilengkapi infrastruktur memadai, sedangkan di daerah belum, maka itu akan menyulitkan masyarakat pengguna mobil listrik, karena mobil tanpa emisi ini memiliki daya jelajah terbatas, yakni sekitar 300 km untuk sekali pengisian penuh baterai. Apa jadinya jika mobil listrik saat diajak mudik Lebaran atau libur panjang lainnya yang pasti melalui jalan macet panjang, dan sesampainya di kampung halaman tak tersedia stasiun pengisian baterai?

Hati-hati dengan ambisi

Tak dimungkiri, sejumlah negara dan pabrikan mobil seolah berlomba untuk menerapkan program elektrifikasi kendaraan. Tapi mereka seolah lupa untuk menyiapkan infrastrukturnya lebih banyak lagi sesuai dengan kian banyaknya model kendaraan listrik lahir ke dunia.

Berbeda dengan keberadaan SPBU yang menjamur di berbagai kota di seluruh dunia, tak ketinggalan di Indonesia yang juga diramaikan persaingan antara SPBU Pertamina dengan SPBU asing, eksistensi charging station bisa dihitung dengan jari. Kondisi itu terjadi di negara maju lho, bagaimana dengan negara berkembang yang infrastrukturnya belum sehebat di negara-negara Barat?

Baca juga:  James Bond Pun Kini Pilih Mobil Ramah Lingkungan

Berdasarkan kajian Bloomberg, saat ini beredar sedikitnya 5 juta kendaraan listrik di seluruh dunia. Tapi dari jumlah itu, stasiun pengisian baterai umum hanya tersedia sekitar 632.000 unit.

Dan ingat, mayoritas stasiun itu berada di negara-negara yang menjadi konsentrasi pemasaran mobil listrik, yang notabene adalah negara maju, termasuk China, lokasinya juga di kawasan perkotaan. Nah, bila mobil listrik itu melakukan perjalanan lintas negara bagian seperti di Amerika, atau lintas negara layaknya di Eropa, terbayang kesulitan yang dialami para pemilik mobil listrik itu dalam menemukan stasiun pengisian baterai.

Seperti disebutkan Bloomberg, lebih dari  66% stasiun charger yang ada sekarang adalah tipe lambat, yakni hanya bisa menambah daya untuk menempuh jarak 16,1 km untuk setiap pengisian selama 30 menit.

Bisnis tak menguntungkan

Berbeda dengan bisnis SPBU yang menggiurkan, sehingga para pemain asing rela datang ke Indonesia untuk merecoki Pertamina, bisnis stasiun pengisian baterai mobil listrik belumlah menguntungkan karena volume kendaraan mobil listrik masih kecil.

Baca juga:  Indonesia Kian Dekat dengan Mobil Listrik, Ini Perkembangannya

Untuk tipe fast charging stations, Bloomberg memperkirakan bahwa stasiun itu harus digunakan sedikitnya delapan kali sehari agar bisa balik modal dalam setahun. Tapi kondisi yang ada sekarang di negara maju baru dipakai sekitar lima kali sehari.

Bila berbisnis stasiun pengisian baterai belum menjanjikan pendapatan yang pasti, bisa dipastikan pihak swasta enggan terlibat, kecuali diiming-imingi insentif besar barangkali mereka mau. Tapi kembali lagi, kecilnya volume mobil listrik saat ini belum dilihat sebagai prospek cerah bagi pelaku bisnis. Untuk itu, pemerintah (Indonesia) harus menyediakan infrastruktur ini bila memang berniat mengembangkan mobil listrik murni.

International Energy Agency mengestimasi bahwa butuh sekitar 14-30 juta stasiun pengisian baterai umum untuk mendukung kendaraan listrik jika pangsa pasarnya mencapai 30 persen pada 2030.

Sebagai jalan tengah, sejumlah pabrikan otomotif menawarkan mobil hybrid, plug-in hybrid atau fuel cell hidrogen untuk dikembangkan lebih dulu. Seiring waktu, dengan semakin pahamnya masyarakat terhadap elektrifikasi kendaraan, mobil listrik murni juga dikembangkan. [dp/TGH]