Fakta Miris Nissan yang Kini ‘Berdarah-darah’


DAPURPACU – Kabar tak sedap belum juga lepas dari nama Nissan Motor Co. pasca skandal keuangan yang dilakukan eks CEO Carlos Ghosn.

Setelah aksi penipuan keuangan Ghosn terungkap dan sang mantan bos asal Brasil itu berurusan dengan pihak berwajib, perlahan tapi pasti reputasi Nissan sebagai salah satu raksasa otomotif Jepang mulai terkikis. Seiring itu pula penjualan di berbagai negara melamban, yang berimbas pada penutupan sejumlah fasilitas produksi di sejumlah negara.

Bahkan Nissan memutuskan untuk mematikan merek Datsun akibat loyonya penjualan. Sang raksasa yang beraliansi dengan Renault dan Mitsubishi itu kini terlihat lunglai.

Kabar terbaru menyebutkan laba operasi Nissan anjlok hingga 70 persen pada kuartal terakhir tahun ini. Itu semua akibat merosotnya penjualan, kerugian valuta asing (valas), dan membengkaknya biaya. Tapi kabar baiknya adalah membaiknya kinerja di pasar Amerika Utara.

Menurut laporan Reuters, laba operasi anjlok menjadi 30 miliar yen ($278,0 juta) pada kuartal II yang berakhir 30 September 2019.

Adapun pendapatan bersih jatuh lebih dari separuh menjadi 59,0 miliar yen ($546,8 juta) selama periode Juli-September.

Pendapatan Nissan melorot 6,6 persen menjadi 2,63 triliun yen ($24,4 miliar), dan volume penjualan global turun 7,5 persen menjadi 1,27 juta kendaraan.

Tetapi Corporate Vice President Nissan, Stephen Ma, menyatakan bisnis Nissan di AS mulai menunjukkan tanda-tanda membaik.

Menurut dia, biaya insentif sudah dapat dikendalikan, stok di dealer mulai berkurang dan laba operasi di kawasan itu mulai tumbuh positif berkat pemangkasan biaya penjualan.

“Kami sudah mulai memperbaiki kualitas penjualan di AS, yang menjadi fokus utama kami,” kata Ma, yang akan menjabat CFO Nissan mulai 1 Desember di bawah kepemimpinan CEO baru, Makoto Uchida.

Program diskon besar-besaran dan penjualan armada untuk korporat, khususnya di AS, telah merusak reputasi besar Nissan. Pasar menilai brand Nissan kini murahan dan nilai jual kembali yang rendah telah mengikis profitabilitas perusahaan cukup besar.

Kinerja di Amerika Utara dan Eropa

Di pasar Amerika Utara, Nissan membukukan laba operasi 35,9 miliar yen ($332,7 juta) pada periode Juli-September, atau nyaris stagnan dari tahun sebelumnya sebesar 36,0 miliar yen ($333,6 juta), sementara penjualan retail turun 7,5 persen menjadi 425.000 unit kendaraan.

Beralih ke Eropa, Nissan mencatat penurunan rugi operasi menjadi 10,1 miliar yen ($93,6 juta), dari 12,2 miliar yen ($113,1 juta) pada periode tahun sebelumnya. Untuk penjualan jatuh 23 persen menjadi 130.000 unit kendaraan.

Di level perusahaan induk, Nissan melakukan pemangkasan biaya penjualan global sebesar 20,1 miliar yen ($186,3 juta), tapi upaya pengurangan biaya itu terpukul oleh jatuhnya penjualan yang nilainya mencapai 19,1 miliar yen ($177,0 juta).

Dari sisi valas, Nissan mengalami kerugian sebesar 17,7 miliar yen ($164,0 juta) sehingga mengikis laba operasi. Hal itu dipicu oleh menguatnya nilai tukar yen Jepang.

Kondisi tersebut telah memaksa Nissan melakukan PHK terhadap sekitar 12.500 tenaga kerja di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Di tengah semakin ketatnya persaingan, mampukah sang raksasa yang kini gontai ini kembali bergairah. Di tangan Uchida lah nama besar Nissan akan dipertaruhkan. [dp/TGH]