Pasang Surut Evolusi Suzuki Baleno di Indonesia | dapurpacu.id

Pasang Surut Evolusi Suzuki Baleno di Indonesia


DAPURPACU – Suzuki Baleno Hatchback yang beredar saat ini menjadi ‘wahana’ baru bagi PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) untuk mengeksplorasi keinginan konsumen, akan tampilan produknya.

Tampil perdana pada gelaran GIIAS 2017 silam, konsumen pecinta Suzuki cukup terkejut akan evolusi yang dilakukan pada model sedan sebelumnya.

Saat ini Baleno hatchback dibanderol seharga Rp218 juta untuk varian transmisi manual, dan Rp230,5 juta untuk transmisi otomatis dengan status on the road (OTR) Jakarta.

Di balik itu, tak bisa dipungkiri, Baleno menjadi salah satu merek mobil yang paling kuat eksistensinya di Indonesia, sejak kelahiran generasi pertamanya pada 1996.

Dimunculkan dalam model sedan, mobil tersebut bahkan sempat mendominasi sebagai pilihan kendaraan anak gaul di tahun 1990an. Maklum, di kala itu segmen sedan memang sedang jaya-jayanya.

Melihat sejarahnya, Baleno didapuk sebagai penerus kejayaan Suzuki Esteem atau bila di tanah kelahirannya di Jepang dikenal dengan nama Cultus. Sedan Baleno didesain dengan kompak dengan mesin 1.600 cc berkonfigurasi 4 silinder.

Salah satu keunggulan dari mobil ini adalah pada tingkat keiritan bahan bakarnya. Kala itu, Suzuki Baleno merupakan pesaing Honda Civic Ferio (SO4) dan Toyota All New Corolla (AE111).

Baca juga:  Warna Baru Suzuki Satria F150, Makin Eye Catching

Eksistensi generasi pertama Baleno di Indonesia berakhir pada tahun 2000. Saat itu lahirlah versi facelift Baleno, yang lazim disebut sebagai Baleno Millenium.

Tampilannya sedikit berubah menjadi lebih terkesan membulat atau oval. Lampu depan yang tadinya kotak berganti jadi bulat, serta grille depan juga jauh lebih besar dan lebar.

Dari sisi dapur pacu, kapasitas mesin yang diusung Baleno Millenium justru lebih kecil, dari yang semula 1.600 cc menjadi 1.500 cc. Meski begitu, tenaganya naik dari 103 PS dan torsi 127 Nm, namun diklaim konsumsi bahan bakarnya lebih irit.

Perubahan pada mesin ikut mengubah peta persaingan karena di masa itu Honda meluncurkan City Type Z dan Toyota mengandalkan Soluna sebagai penantangnya.

Tidak lama berselang, tepatnya pada 2003, Suzuki kembali memperkenalkan generasi anyar Baleno yakni Baleno Next-G. Sedikit bergeser dari platform-nya terdahulu karena Baleno Next-G memakai sasis Aerio.

Pergeseran ini bukan tanpa alasan, karena di masa itu segmen MPV mulai populer sehingga berdampak pada model-model sedan yang cenderung berusaha mengadopsi nuansa MPV.

Baca juga:  Varian Warna Suzuki Address FI, Semakin Mature

Hal itu terlihat dengan banyaknya pabrikan yang menghadirkan sedan berdesain membulat atap tinggi, yang pada akhirnya menjadi cikal bakal kendaraan hatchback atau city car macam Honda Jazz, Toyota Yaris, hingga Suzuki Swift.

Di 2007, evolusi Baleno pun berlanjut. Jika Baleno Next-G ‘dipaksakan’ sebagai sedan yang mendekati MPV, kali ini transformasinya makin beralih mendekati kendaraan yang dapat difungsikan di segala medan, atau biasa disebut crossover.

Atas dasar inilah lahirnya Suzuki SX4. Basis pengembangan SX4 sama dengan Swift, hanya saja desain SX4 terlihat lebih gagah karena karakter SUV yang kuat dan tingginya ground clearance.

Lalu di 2008 lahirlah Neo Baleno. Tapi Suzuki dinilai salah langkah dengan mengubah bentuk SX4 yang sebenarnya sudah punya penggemar dengan menambahkan bagasi, sebagai ciri khas sebuah sedan di belakang.

Hasilnya model ini dikategorikan tidak memenuhi ekspektasi konsumen di Indonesia. Sebenarnya, banyak yang mengakui keunggulan mesin M15A yang diusung Neo Baleno dengan perpaduan transmisi manual maupun otomatis.

Hanya saja, pertimbangan desain ternyata sangat penting bagi konsumen. Gagal mencapai target dan hanya bertahan 2 tahun saja, akhirnya Suzuki Indonesia memutuskan untuk menghentikan penjualan Neo Baleno di 2010.

Baca juga:  Warna Baru Suzuki Satria F150, Makin Eye Catching

Sejak itu, nama Baleno seperti hilang dan diprediksi tinggal menjadi kenangan manis Suzuki di Indonesia. Hingga akhirnya setelah vakum hampir 7 tahun, nama Baleno kembali mencuat tepatnya di ajang GIIAS 2017.

Sejarah baru kembali diukir oleh Baleno yang berevolusi menjadi kendaraan hatchback, sesuai dengan nama barunya Baleno Hatchback. Sebelum dirilis, model ini sebenarnya sudah mencuri perhatian sejak pertama kali Suzuki memamerkan mobil konsep iK-2 jenis hatchback di Geneva Motor Show 2015.

Lahirnya Baleno Hatchback sebenarnya secara tidak langsung akan bersaing dengan ‘saudaranya’ Swift yang bertarung di segmen yang sama. Tapi Suzuki sepertinya punya penilaian lain kalau keduanya punya pasar yang berbeda.

Faktanya, sejak hadir di 2017, Baleno Hatchback muncul sebagai pemain kuat di segmennya dan sukses mendapatkan kepercayaan dari konsumen Indonesia.

Beberapa faktor yang menjadi nilai plus dari mobil ini, selain desain yang elegan dan sporty, harga Baleno Hatchback ternyata dibawah Yaris ataupun Jazz. [dp/MTH]