Nikmatnya Deru Mesin Mitsubishi Eclipse Cross Hingga ke Kaki Bromo | dapurpacu.id

Nikmatnya Deru Mesin Mitsubishi Eclipse Cross Hingga ke Kaki Bromo


DAPURPACU – Memanfaatkan momen awal tahun ini, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) mengajak puluhan media untuk merasakan performa dan fitur-fitur yang disematkan pada empat model Mitsubishi yang tergolong anyar.

Dengan mengambil rute Surabaya – Banyuwangi, baik Xpander Cross, Eclipse Cross, Outlander PHEV dan New Triton, dijajal langsung mengarungi beragam kondisi jalan pada jalur tersebut.

“Kami mengajak rekan-rekan untuk menguji performa, fungsi dan fitur dari empat produk unggulan kami. Perjalanan dari Surabaya menuju Banyuwangi melewati rute beragam, mulai dari perkotaan, jalan tol, pegunungan hingga ke pantai,” ujar Eiichiro Hamazaki, Director of After Sales Division PT MMKSI, disela pelepasan rombongan, Minggu (2/2) lalu.

Mengusung tema acara ‘#AyoGasTerus Media Adventure 2020’, 2-4 Februari, total ada 10 unit mobil disiapkan dengan ‘komposisi’ terbanyak adalah Xpander Cross, yang didapuk sebagai model higlight pada pengujian kali ini.

“Keragaman jenis medan akan membuat rekan-rekan media merasakan langsung pengalaman berkendara yang berbeda serta keunggulan dan keistimewaan produk kami, khususnya bagi Xpander Cross,” tambah Eiichiro.

Eclipse Cross berkelir hitam (Ultimate Amethyst Black) menjadi tunggangan awal Dapurpacu.id bersama dua rekan media lainnya pada rute pertama Surabaya menuju Jember. Total jarak tempuh menuju titik finish tidak kurang dari 310 km.

Cobaan Pertama Mendera di Tol Trans Jawa
Restoran Bakpao Telo yang berada di daerah Lawang menjadi check point pertama. Perjalanan dimulai dari halaman Bandara Interntional Djuanda.

Bak gayung bersambut, rasa penasaran pada Eclipse Cross sejak awal diluncurkan pada Juli 2019 lalu seperti terjawab dengan duduknya saya di belakang kemudi.

Lead Car yang ‘dinakhodai’ brand ambassador Mitsubishi, Rifat Sungkar, langsung mengarahkan rombongan menuju jalan Tol Trans Jawa. “Selama melewati ruas tol ini, mohon dijaga kecepatan untuk tidak melebihi 100 km/jam yah!” cuap-cuap MC.

Baca juga:  139 Ribu Unit Lebih Mitsubishi Xpander 'Dipanggil' ke Bengkel

Alhasil pedal gas hanya ‘mampu’ kami, khususnya saya untuk diinjak ‘setengah hati’ saja. Padahal bila ketemu dengan ruas jalan lengang seperti ini justru menjadi ‘menu’ yang dinanti-nanti saat menguji mobil.

Untuk mengakalinya, kendurkan kecepatan lalu seketika itu juga pedal gas injak sedalam-dalamnya. Dengan begitu bisa didapat seberapa ganasnya performa crossover SUV seharga mulai dari Rp481 juta tersebut.

Tidak butuh effort lebih untuk mengejar rombongan di depan. Hanya sedikit hentakan menyentuh lantai, mesin 1.499 cc Turbocharged begitu enteng menghela bodi Eclipse Cross. Kecepatan mobil pun dipantau melalui head up display (HUD).

Menyoal kondisi bumpy yang lazim ditemui di jalan tol ada yang unik saya rasakan. Dengan bobot 1.475 kg, Eclipse Cross tetap menghadirkan kenyamanan mumpuni. Kaki-kaki begitu lengket merekat permukaan aspal.

Begitu juga soal goncangan tetap ada namun masih tergolong ‘bisa dimaklumi’. Toh rekan yang semobil dengan saya tetap nyaman di dalam tanpa terguncang ke atas-bawah, kiri-kanan.

Urusan peredaman kabin patut diacungi jempol. Tak perlu untuk mengeraskan volume suara head unit tipis guna meredam bising dari luar kabin. Hal ini terbukti kualitas peredaman kabin menjadi hal yang sangat diperhatikan oleh Mitsubishi Motors.

Sedikit melirik ke dashboard, gerak jarum tachometer pun tidak bergerak terlalu tinggi, hanya bergeser ke angka maksimal 3.000 rpm. Sementara jarum speedometer begitu cepat merangkak naik.

‘Gempuran’ tenaga 148 hp dan torsi 250 Nm direntang putaran mesin 2.000 – 3.500 rpm begitu asyik mengikuti keinginan saya. Sesekali saya coba bermanuver melewati mobil-mobil di depan untuk mengejar rombongan di depan.

Keluar dari ruas tol, rombongan langsung bergerak lintas perkotaan. Tak butuh waktu banyak check point pertama pun segera kami hampiri. Di sini rombongan beristirahat tidak lebih dari 30 menit, setelahnya lanjut beranjak ke titik pemberhentian berikutnya yaitu di Plataran Bromo.

Baca juga:  139 Ribu Unit Lebih Mitsubishi Xpander 'Dipanggil' ke Bengkel

Meliuk-liuk di Tengah Kabut Tebal Gunung Bromo
Menuju titik pemberhentian berikutnya yaitu di kawasan gunung paling terkenal di Indonesia, Bromo, rombongan kembali menemui keriuhan khas Kota Pasuruan.

Jalan sempit yang hanya bisa dilalui dua mobil dari dua arah, turut menyulitkan rombongan kala bermanuver melewati sepeda motor yang bertebaran di sepanjang jalan.

Belum lagi truk-truk dan juga bus yang turut membuat ‘riweh’ kondisi jalan di siang hari itu. Namun, lagi-lagi, handling dan performa mesin Eclipse Cross kembali menunjukkan kepiawaian.

Memasuki kawasan Gunung Bromo, kondisi jalan langsung berubah drastis dari yang sebelumnya. Tikungan-tikungan dan jalan menanjak yang ‘bersahabat’ hingga tajam, mulai sering ditemui.

Awalnya, saya ingin tahu seberapa kuat performa mobil ini saat tanjakan mulai disering ditemui. Makanya, tongkat transmisi pun tetap saya tempatkan pada posisi Drive (D).

Namun begitu bertemu dengan tikungan ‘U’ dan langsung menanjak tajam, saya tidak begitu yakin Eclipse Cross bisa langsung di ‘gaspol’. Kondisi ‘kurang pede’ ini sebenarnya sudah saya temui saat awal memasuki kawasan.

Mesin seperti kurang memadai permintaan saya tatkala berhenti sejenak dan langsung kembali berjalan lagi. Laju mobil tidak spontan langsung berjalan cepat mengikuti tekanan kaki ke pedal.

Posisi D memang tidak sepenuhnya menghadirkan sensasi asyik kala menemui kondisi jalan seperti ini. Mau tak mau, gagang paddle shift di kiri-kanan setir harus difungsikan. Dengan begitu laju mobil terkesan ringan menanjak.

Hujan ringan dan sedikit lebat terus mengiringi perjalanan rombongan hingga ke check point ini. Kabut tebal pun kian membuat suasana semakin dramatis. Belum lagi hawa dingin dari semburan AC dan pegunungan makin menyeruak.

Baca juga:  139 Ribu Unit Lebih Mitsubishi Xpander 'Dipanggil' ke Bengkel

Beruntung, jok pengemudi dan penumpang depan telah dilengkapi pemanas, yang bisa diaktifkan lewat tombol pengontrol persis di bawah center stack. Tak lama kemudian rombongan pun tiba di Restoran Teras Bromo untuk makan siang dan beristirahat sejenak, sembari menikmati sejuk dan dinginnya Gunung Bromo.

Seusai makan siang, para peserta berkesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dari Panji Petualang dan Denny Sumargo mengenai tips bertualang dan cara hidup di alam bebas.

Keduanya juga menceritakan mengenai pengalaman mereka saat berpetualang keliling di Indonesia dan bagaimana kendaraan ideal untuk menikmati pengalaman. Hebohnya, Panji memboyong beberapa hewan peliharaannya, termasuk ular kobra yang terkenal dengan bisa mematikan.

Panji memamerkan keahliannya ‘bermain’ dengan ular tersebut, setelah sharing pengetahuan tentang reptil khususnya ular. Sementara Denny sharing tentang kegemarannya mendaki gunung di Tanah Air. Adrenalin seketika naik, saat Panji mengeluarkan ular kobra dari sangkarnya.

Setelah sesi bedah tersebut, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya yaitu Gedung Woloe di Pasuruan, untuk kembali beristirahat sejenak.

Diiringi hujan yang turun dengan deras, kondisi jalan seperti awal menjejakkan kaki di kawasan Bromo kembali kami lalui. Perjalanan menuju Gedung Woloe dilalui dengan rute turunan dan banyak tikungan yang berkelak-kelok.

Sesampainya di sana dan beristirahat kembali kami bertukar kendaraan. Kali ini, kami mendapatkan unit Xpander Cross berkelir hitam dengan transmisi manual (MT).

Di sini, kemudi saya percayakan kepada rekan semobil untuk membawa kami ke titik akhir menuju Jember. Bagaimana keseruan pengujian Xpander Cross berikutnya menuju Banyuwangi? Tunggu yah. [dp/MTH]