Soal Larangan Pemotor Pakai Sandal Jepit, Begini Kata Korlantas Polri

DAPURPACU – Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri) buka suara soal kabar larangan mengendarai sepeda motor memakai sandal jepit.

Memang belakangan isu berkendara pakai sandal jepit tengah ramai diperbincangkan dan viral berkembang di media sosial, bahkan telah menuai kontroversi di tengah publik.

Kasubdit Standar Cegah & Tindak Direktorat Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri, Kombes Pol Mohammad Tora, penggunaan sandal jepit saat mengendarai sepeda motor, hanya dilakukan imbauan kepada pengendara.

“Sampai sekarang, kami masih sebatas mengimbau pengendara sepeda motor agar tidak memakai sandal saat mengendarai sepeda motor,” kata Tora dalam kegiatan Bincang Santai bersama Forum Wartawan Otomotif di Kawasan Cipete, Jakarta, Jumat (17/6).

Ia menegaskan, bahwa pemakaian sandal jepit saat berkendara sepeda motor tidak akan diberikan surat teguran ataupun surat tilang.

Dijelaskannya, imbauan diberikan kepada pemotor dengan sandal jepit itu demi meningkatkan keamanan dan keselamatan selama berkendara. Alhasil dirinya mengimbau agar pengendara menggunakan sepatu saat naik motor.

Baca juga:  Garap Pasar Pulau Dewata, Eneos Resmi Jadi Sponsor Bali United Musim 2022/2023

“Jika ada waarga yang memakai sandal jepit saat berkendara, kami akan memberi teguran humanis. Itu dilakukan sampai berakhirnya Operasi Patuh 2022,” ungkapnya.

Di luar pro dan kontra yang muncul di masyarakat, sebenarnya imbauan kepolisian terkait anjuran berkendara tidak pakai sandal jepit sebenarnya baik dari sisi safety.

“Dalam berkendara dianjurkan menggunakan perlengkapan berkendara yang sesuai dan optimal melindungi diri dari risiko yang fatal,” kata Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu kepada awak media.

Menurut pria yang juga menjadi Training Director itu, memakai sandal jepit tentu berisiko menyebabkan cedera jika terjadi kecelakaan, lantaran tidak semua bagian kaki terlindungi.

“Jadi (sandal jepit) langsung bersentuhan dengan aspal tanpa adanya pelindung diri terhadap pengendara. Dengan permukaan kulit kaki terbuka, lontaran batu kerikil dan benda keras bisa melukai kaki,” pungkasnya.

Makanya, penggunaan riding gear termasuk sepatu dan helm ber-SNI lebih direkomendasikan demi alasan keselamatan, sehingga bisa meminimalisir cedera jika terjadi kecelakaan.

Baca juga:  Garap Pasar Pulau Dewata, Eneos Resmi Jadi Sponsor Bali United Musim 2022/2023

Menurut data yang dibagikan Korlantas Polri, tercatat selama Operasi Patuh 2022 terdapat 45.915 pelanggar per Jumat, 17 Juni.

Operasi yang akan dilaksanakan hingga 26 Juni 2022 mendatang itu mencatat pelanggaran secara online melalui E-TLE dan penindakan berupa teguran.

Adapun perbandingan jumlah pelanggaran sebelum penerapan E-TLE pada 2020 dengan yang sudah diterapkan E-TLE sejak 2021, terjadi peningkatan pelanggaran yang sangat signifikan.

Berdasarkan data dari Korlantas Polri, jumlah pelanggaran yang ditindak tilang sebelum penerapan E-TLE pada 2020 yaitu sebanyak 129.733.

Kemudian, pelanggaran mengalami kenaikan sangat drastis sejak diterapkan E-TLE pada 2021, yakni sebesar 1467% sehingga menjadi 1.771.242.

Sementara, jumlah titipan denda tilang juga mengalami kenaikan sebesar 1191% dari 53.670.779.000 sebelum penerapan E-TLE pada 2020, menjadi 639.531.998.260 setelah penerapan E-TLE pada 2021. [dp/DF]

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com