DAPURPACU – Pameran GIIAS 2022 menjadi momentum kelanjutan dari upaya PT Sokonindo Automobile, pemegang merek DFSK di Indonesia, untuk unjuk produk-produk unggulannya.
Tidak hanya model reguler seperti Glory 560, Glory i-Auto, Super Cab dan Gelora baik bermesin bensin atau murni listrik (EV), juga dihadirkan Mini EV sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah akan percepatan elektrifikasi.
Marketing Head PT Sokonindo Automobile, Achmad Rofiqi mengatakan, dimunculkannya lagi kedua mobil listrik andalannya tersebut untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
“DFSK kembali hadir di GIIAS dengan membawa kendaraan listrik yang juga menjadi highlight utama pameran kali ini,” jelas Rofiqi, disela pembukaan booth DFSK (11/8).
“DFSK senantiasa selalu menampilkan kendaraan listrik dari tahun ke tahun sebagai bentuk komitmen dan langkah konkret perusahaan dalam mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia,” tambahnya.

Menempati booth di Hall 7 ICE, BSD City, Tangerang, seluruh model yang ditampilkan memang langsung mendapatkan antusiasme tinggi dari pengunjung untuk melihatnya secara dekat.
DFSK Gelora E dan Mini EV terbilang menjadi ‘bintangnya’ kali ini. Bahkan, DFSK secara resmi telah bekerja sama dengan Transjakarta untuk menjadikan Gelora E sebagai armada angkutan penumpang di Jakarta.
Sebagai informasi, kendaraan listrik komersial pertama yang hadir dalam dua tipe, yaitu Minibus dan Blind Van ini, memang diperuntukkan bagi berbagai kebutuhan bisnis di Indonesia.
Hal itu ditegaskan oleh Rofiqi bahwa DFSK menjawab tantangan mobilitas hijau yang ramah lingkungan di Indonesia sebagai tantangan di era sekarang ini, khususnya untuk transportasi umum.
“Kerja sama dengan Transjakarta ini menjadi bukti DFSK Gelora E bisa menjadi solusi yang berkelanjutan dan efisien untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” tandasnya.

Di sisi lain, upaya DFSk untuk membuktikan ketangguhan Gelora E sebagai armada yang mumpuni, dilakoni melalui partisipasinya di ajang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali.
Nantinya, kedua varian Gelora E bakal digunakan sebagai kendaraan operasional untuk membantu kelancaran mobilitas (shuttle) para peserta KTT G20, sekaligus mendukung kelancaran logistik selama acara.
Tak hanya itu, Gelora E juga turut mendukung perkembangan sektor pariwisata di Indonesia dengan dijadikan mobil niaga ringan ini sebagai kendaraan angkut di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara.
Meski menyandang ‘status’ uji coba, tantangan dari Kementerian Perhubungan RI ini tak luput dilewatkan untuk menghadirkan solusi mobilitas yang ramah lingkungan dan efisien.

“Kami siap memberikan dukungan terbaik untuk pengembangan kawasan wisata berkelanjutan, tanpa mengabaikan aspek fungsional dalam menjalankan operasional sehari-sehari bersama Gelora E,” imbuhnya beberapa waktu lalu.
Aktivitas ini juga menjadi percontohan dalam penggunaan kendaraan listrik di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di sejumlah wilayah wisata lainnya.
Seperti diketahui, dengan dimensi 4.500 mm x 1.680 mm x 2.000 mm (PxLxT), memberi kabin ekstra luas dan lapang, sekaligus akses kemudahan dalam menempatkan orang dan barang.
Untuk tipe minibus, Gelora E mampu menampung tujuh penumpang dewasa untuk sekali angkut, dan diklaim bisa dimaksimalkan lebih banyak mengangkut penumpang lagi.

Sementara untuk varian Blind van didukung panjang kabin mencapai 2,63 m (luas 4,8 meter cubic). Tipe ini cocok dijadikan sebagai armada kargo maupun logistik.
Baterai lithium-ion yang digunakan berkapasitas 42 kWH, dan sanggup menempuh jarak sejauh 300 km (berdasarkan metode pengujian New European Driving Cycle/NEDC).
Dalam proses pengisian baterainya disebutkan tidak butuh waktu lama, berkat adanya fast charging sehingga pengisian daya 20% – 80% hanya perlu waktu 80 menit.
DFSK Gelora E cukup membutuhkan biaya energi sebesar Rp 200 per kilometer, atau setara dengan 1/3 dari biaya operasional kendaraan komersial konvensional. [dp/MTH]

