DAPURPACUID – Memanfaatkan pameran IIMS 2026 lalu, PT Wahana Makmur Sejati (WMS) menegaskan komitmennya untuk terus berupaya membuat kondusif situasi di jalan raya.
Hal tersebut dibuktikan melalui gelaran talkshow @SafeAndAble, edukasi safety riding inklusif guna memperluas kampanye keselamatan berkendara yang adaptif dan ramah bagi semua kalangan.
Dengan berkolaborasi bersama KamiBijak Media, tim Safety Riding Promotion (SRP) Wahana menghadirkan edukasi yang menekankan pentingnya empati serta inklusivitas di jalan raya.
Lewat acara ini, audiens diajak memahami bahwa keselamatan tak hanya perihal keterampilan teknis, tetapi sikap saling menghargai serta pemahaman terhadap kebutuhan pengendara difabel.
Di sisi lain, kegiatan tersebut juga bentuk konsisten WMS dalam mengimplementasikan kampanye #Cari_Aman sebagai fondasi membangun budaya Safety Indonesia.

Dalam siaran resminya, Head of Safety Riding Promotion WMS, Agus Sani menegaskan, faktor keselamatan merupakan aspek fundamental dalam berkendara khususnya sepeda motor.
“Edukasi yang adaptif dan inklusif diharapkan mampu mendorong seluruh pengguna jalan, termasuk pengendara difabel, guna dapat berkendara aman, nyaman dan bertanggung jawab,” imbuh.
Pada sesi pemaparan materi, tim SRP memaparkan teknik berkendara sepeda motor adaptif yang menjadi dasar keselamatan, dengan empat faktor utama, yaitu:
– Kontrol halus: Pengoperasian gas dan rem secara lembut untuk menjaga stabilitas kendaraan.
– Kecepatan konsisten: Menjaga laju kendaraan tetap stabil agar mudah dikendalikan.
– Jarak aman ekstra: Memberikan ruang tambahan untuk waktu reaksi yang lebih optimal.
– Antisipasi dini: Mengenali potensi bahaya lebih awal untuk mencegah risiko kecelakaan.
Keempat poin ini dirancang untuk membantu para pengendara difabel dalam meningkatkan kewaspadaan dan meminimalkan risiko kecelakaan. Sehingga menciptakan kondisi berkendara yang lebih aman.
Posisi Berkendara dan Alat Bantu Jadi Kunci

Tidak berhenti pada teknik dasar, talkshow tersebut juga membahas terkait posisi duduk dan penggunaan alat bantu yang tepat, dengan empat faktor pendukung keselamatan, meliputi:
– Posisi duduk stabil: Menjaga keseimbangan tubuh selama berkendara.
– Titik tumpu: Pemanfaatan bagian tubuh dan alat bantu secara tepat untuk menopang keseimbangan.
– Ergonomis: Penyesuaian kendaraan dan alat bantu sesuai kondisi fisik pengendara.
– Safety first: Mengutamakan penggunaan perlengkapan keselamatan dan standar keamanan.
Pendekatan ini mempertegas bahwa safety riding bukan hanya soal kemampuan teknis, sekaligus juga pemahaman menyeluruh terhadap kondisi pengendara mengontrol motor lebih optimal.
Melalui pendekatan komunikasi yang informatif dan aplikatif, nilai-nilai safety riding diharapkan dapat diterapkan dalam aktivitas berkendara sehari-hari.
Head of TSD WMS, Benedictus F. Maharanto menuturkan bahwa prinsip keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap kondisi berkendara di jalan.
Menurutnya, kolaborasi ini bertujuan memperluas jangkauan edukasi keselamatan berkendara kepada pengunjung pameran, melalui komunikasi yang aplikatif dan mudah dipahami.

“kegiatan ini bertujuan mengajak masyarakat memahami keselamatan berkendara menyeluruh, termasuk pentingnya empati dan inklusivitas di jalan raya,” tambah dia.
Bagi WMS, lanjut Benedictus, edukasi keselamatan merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam mendukung mobilitas yang aman dan berkelanjutan.
“Program safety riding akan terus dijalankan secara konsisten demi membentuk perilaku berkendara yang lebih disiplin di masyarakat. Kami harap ilmu yang diajarkan bisa dipahami dan diterapkan berkelanjutan,” tandasnya.
Bagi Wahana, kegiatan edukasi keselamatan berkendara merupakan bagian dari tanggung jawab Perusahaan dalam mendukung mobilitas yang aman dan berkelanjutan.
Berbagai program safety riding terus dijalankan sebagai upaya membangun kesadaran dan perilaku berkendara yang lebih disiplin. [dpid/TH]

