Raih Penjualan Rp5,9 Triliun di 2025, Strategi Diversifikasi DRMA Terbukti Efektif

DAPURPACUID – Kinerja industri otomotif nasional yang melambat di sepanjang 2025, tidak menghalangi PT Dharma Polimetal (DRMA) mencatat pertumbuhan bisnis yang solid.

Hal ini dibuktikan oleh produsen komponen otomotif tersebut yang membukukan penjualan Rp5,9 triliun. Capaian ini menunjukkan ketahanan bisnis perusahaan di tengah dinamika pasar otomotif domestik.

Strategi diversifikasi produk dan segmen bisnis jadi salah satu faktor utama yang mendorong performa positif ini, sekaligus menjaga stabilitas pertumbuhan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut President Director DRMA, Irianto Santoso, langkah diversifikasi yang dilakukan terbukti membantu perusahaan tetap bertumbuh di tengah tekanan industri.

“Strategi diversifikasi produk dan segmen bisnis jadi kunci pencapaian kinerja ini, karena berhasil membantu perseroan menjaga pertumbuhan di tengah dinamika pasar yang berlangsung,” ujarnya.

Lewat strategi ini, DRMA mampu mencatat pertumbuhan penjualan sekitar 8 persen di 2025. Angka ini jauh melampaui performa industri otomotif nasional yang justru mengalami perlambatan.

Segmen roda dua jadi kontributor utama terhadap kinerja DRMA. Sepanjang 2025, segmen ini menyumbang sekitar 62 persen dari total penjualan perusahaan.

Sementara di segmen kendaraan roda empat, yang sempat tertekan akibat turunnya penjualan mobil di pasar domestik, mulai menunjukkan pemulihan sejak kuartal III 2025.

Kinerja penjualan yang kuat juga tercermin dari perolehan laba bersih perusahaan. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp664,4 miliar, atau sekitar Rp613,5 miliar setelah penyesuaian negative goodwill.

Irianto menegaskan bahwa pencapaian tersebut menunjukkan pertumbuhan yang berkelanjutan dari bisnis inti perusahaan di sektor manufaktur komponen otomotif.

Sebagai bagian dari strategi ekspansi, perusahaan juga melakukan akuisisi terhadap PT Mah Sing Indonesia dengan nilai transaksi sekitar Rp41 miliar di akhir November 2025.

Langkah ini dilakukan guna meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus memperluas lini produk komponen roda empat. Akuisisi ini diharapkan dapat memperkuat portofolio bisnis perusahaan, sekaligus mendukung strategi diversifikasi jangka panjang.

Selain fokus pada bisnis inti otomotif, perusahaan juga mulai mengembangkan peluang baru pada sektor kendaraan listrik dan energi terbarukan, yang sedang ‘booming’ belakangan ini.

Beberapa inisiatif yang tengah dikembangkan antara lain auxiliary battery lithium 12V, yang tersedia dalam varian 12V 6Ah dan 12V 3,5Ah untuk berbagai tipe sepeda motor.

Perusahaan juga menjajaki pengembangan Battery Energy Storage System (BESS), sebagai bagian dari potensi bisnis masa depan di sektor energi.

Perluas Pasar Ekspor Global

Tidak hanya bertumpu pada pasar domestik, perusahaan juga terus mendorong ekspansi ke pasar internasional, dimana memiliki potensi yang hampir tak terbatas.

Salah satu langkah yang dilakukan yakni meningkatkan kapasitas produksi komponen wiring harness, dan beragam komponen otomotif lain guna memenuhi permintaan pasar global.

Dengan langkah tersebut, perusahaan tentunya berharap dapat memperluas kontribusi pasar ekspor terhadap total pendapatan perusahaan di masa mendatang.

Melihat kinerja positif di 2025, perusahaan menargetkan pertumbuhan penjualan sekitar 10 persen pada 2026. Sejumlah strategi disiapkan, termasuk peluncuran produk baru, ekspansi pasar, serta penguatan kapabilitas manufaktur.

“Dengan penerapan strategi diversifikasi produk dan penguatan kapabilitas manufaktur ini, kami optimis dapat menjaga pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi kompetitif perusahaan di industri otomotif,” tutup Irianto. [dpid/TH]

Previous articleWuling Donasikan Mitra EV untuk Ambulans & Layanan Jenazah
Next articleTekiro Sajikan Tips Mandiri Atasi Kendala Mobil Selama Mudik