DAPURPACUID – Melakukan perjalanan touring dengan motor selalu menawarkan pengalaman yang sulit tergantikan. Beragam keunikan hingga rute-rute eksotik pasti bakal dilewati.
Menyusuri jalan-jalan lintas provinsi sampai pegunungan, menikmati panorama alam, hingga berkumpul bersama komunitas menjadi alasan mengapa aktivitas ini semakin digemari.
Namun, perjalanan yang menyenangkan bisa berubah menjadi berisiko jika pengendara mengabaikan satu hal penting, yaitu kondisi tubuh. Banyak pengendara lebih fokus mempersiapkan tunggangan sebelum berangkat.
Oli diganti, tekanan ban diperiksa, rem dipastikan berfungsi optimal, serta perlengkapan berkendara disiapkan dengan lengkap. Sayangnya, tidak sedikit yang lupa bahwa tubuh juga memiliki batas kemampuan.
Berkendara tanpa jeda dalam waktu lama dapat memicu kelelahan. Saat tubuh mulai lelah, konsentrasi menurun, respons terhadap situasi di jalan melambat.
Termasuk kemampuan mengambil keputusan tak lagi sebaik saat kondisi tubuh masih segar. Inilah yang membuat perjalanan jarak jauh butuh manajemen waktu istirahat yang baik.
Karena itu, pengendara disarankan untuk merencanakan waktu istirahat sejak sebelum perjalanan dimulai agar kondisi tubuh tetap prima hingga tiba di tujuan.
Safety Riding Development Section Head PT Daya Adicipta Motora, Ludhy Kusuma mengingatkan bahwa touring bukanlah perlombaan untuk mencapai tujuan secepat mungkin.
Menurutnya, menjaga kondisi fisik sama pentingnya dengan memastikan sepeda motor berada dalam kondisi fisik terbaik sebelum digunakan untuk touring.
“Perjalanan jauh bukan soal seberapa cepat mencapai tujuan, tetapi bagaimana kita dapat menikmati perjalanan dengan aman dan nyaman,” tuturnya dalam siaran resmi.
“Mengatur waktu istirahat secara berkala merupakan salah satu langkah sederhana yang sangat penting guna menjaga konsentrasi dan stamina selama berkendara,” tandasnya.
Karena itu, waktu istirahat sebaiknya sudah masuk dalam perencanaan perjalanan sejak awal, bukan melainkan diputuskan ketika tubuh sudah mulai kelelahan.
Langkah pertama, tentukan titik-titik pemberhentian sebelum berangkat. Dengan mengetahui lokasi istirahat, Anda memiliki target perjalanan realistis dan tidak terdorong untuk terus memacu kendaraan meski kondisi tubuh mulai menurun.
Perencanaan sederhana seperti ini juga membantu rombongan tetap kompak karena seluruh peserta mengetahui kapan dan di mana mereka akan berhenti.
Pengendara disarankan beristirahat maksimal setiap dua jam sekali atau setelah menempuh jarak tertentu. Durasi sekitar 15 hingga 30 menit sudah cukup untuk memulihkan konsentrasi sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Perlu diingat, jangan menunggu rasa kantuk datang. Saat mata mulai berat atau tubuh kehilangan fokus, sebenarnya kemampuan berkendara sudah mengalami penurunan dan risiko kecelakaan meningkat.
Manfaatkan waktu istirahat sebaik mungkin. Jangan hanya duduk sambil memainkan ponsel. Lakukan peregangan ringan agar otot yang kaku kembali rileks setelah terlalu lama berada di atas motor.
Jangan lupa penuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air putih agar tetap terhidrasi. Bila diperlukan, konsumsi makanan ringan atau camilan sehat untuk membantu mengembalikan energi sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Momen berhenti juga menjadi kesempatan tepat mengecek kondisi motor. Periksa tekanan ban, fungsi rem, kondisi rantai, serta pastikan tidak ada komponen yang mengalami kendala selama perjalanan.
Pemeriksaan singkat ini dapat membantu mencegah masalah lebih besar di tengah perjalanan. Seluruh runutan di atas juga berlaku saat touring berkelompok.
Waktu istirahat bisa dimanfaatkan untuk memastikan seluruh anggota rombongan berada dalam kondisi yang sama-sama siap melanjutkan perjalanan.
Tak ada salahnya menyesuaikan ritme perjalanan dengan kemampuan peserta yang paling membutuhkan waktu pemulihan. Pada akhirnya, touring bukan hanya tentang menikmati destinasi akhir.
Tapi juga bagaimana setiap kilometer perjalanan dapat dilalui dengan aman dan nyaman. Menjaga stamina lewat pola istirahat teratur jadi bagian penting dari keselamatan berkendara yang sering kali dianggap sepele. [dpid/TH]


