Perang Dagang AS Vs China Bikin Bingung Industri Otomotif


WASHINGTON (DP) – Pemerintah Amerika Serikat akhir pekan lalu merilis dua daftar produk impor dari China yang dikenakan tarif senilai $50 miliar (Rp704,4 triliun), yang meliputi mobil dan sukucadang yang dibeli para pemasok untuk produksi mobil.

Pengenaan tarif sebesar 25 persen tersebut, merupakan upaya AS untuk menghentikan China memaksa perusahaan asing melakukan transfer teknologi ke perusahaan patungan, dan juga untuk mencegah pencurian hak intelektual oleh perusahaan dan pemerintah China.

Tapi China tak tinggal diam, negeri itu langsung membalas dengan menerapkan tarif impor terhadap 659 produk impor AS senilai $50 miliar, yang mencakup kendaraan ringan, produk pertanian dan produk lainnya. Sekitar $34 miliar dari tarif itu akan efektif berlaku pada 6 Juli untuk produk pertanian.

“Jika Amerika Serikat melakukan tindakan proteksionis yang sifatnya unilateral dan mengganggu kepentingan China, kami akan langsung bereaksi dan melakukan langkah yang diperlukan untuk melindungi hak-hak kami,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, seperti dikutip Reuters.

Aksi balasan Beijing ini merupakan langkah mundur setelah sebelumnya memutuskan untuk memangkas tarif mulai 1 Juli terhadap impor kendaraan AS dari 25 persen menjadi 15 persen, sebagai respons atas keluhan Washington terkait ketidakseimbangan perdagangan.

Baca juga:  Indonesia Siap Jadi Pusat Produksi Kendaraan Listrik Asean

Tesla Inc., Daimler AG, BMW AG dan Ford Motor Co. adalah eksportir terbesar dari AS ke China. Pabrik perakitan BMW di Spartanburg, South Carolina, mengekspor kendaraan ke lebih dari 100 negara, termasuk China.

Ford pernah menyatakan mengapalkan sekitar 80.000 kendaraan per tahun ke China, termasuk beberapa model Lincoln.

China sendiri mengimpor hampir 270.000 kendaraan buatan Amerika per tahun senilai $11 miliar. Sedangkan mobil dan pick up yang dibuat di China dan dikapalkan ke Amerika volumenya kecil, termasuk model crossover Buick Envision dan sedan Volvo S60.

Sejumlah pabrikan mobil dunia telah memperingatkan bahwa meningkatnya perseteruan dagang antara Amerika dan China akan mengganggu industri otomotif secara keseluruhan.

John Bozzella, CEO Association of Global Automakers, kelompok bisnis di Washington yang mewakili beberapa pabrikan mobil, meliputi Toyota, Nissan dan Hyundai, mengatakan perang dagang ini akan merugikan baik konsumen maupun pekerja sektor industri otomotif di Amerika.

Kita bisa lihat, Mercedes-Benz mengekspor model GLS, GLE dan GLE coupe ke China dari pabrik mereka di Alabama, AS. Jika ekspor ke China dikenakan tarif tambahan yang membuat harga jual naik, tentunya akan mempengaruhi penjualan. Pada akhirnya hal itu akan mengurangi volume ekspor, dan berimbas pada produksi. Itu baru satu perusahaan, padahal banyak pabrikan otomotif yang memiliki pabrik di Amerika dan mengekspor kendaraan ke China dan sejumlah negara lain.

Baca juga:  Indonesia Siap Jadi Pusat Produksi Kendaraan Listrik Asean

Sedangkan Karl Brauer, executive publisher dari Autotrader dan Kelley Blue Book, mengatakan pengenaan tarif tambahan terhadap produk otomotif dari AS yang masuk ke China tidak akan mendorong BMW atau Mercedes untuk menurunkan skala produksi pabrik mereka di AS atau pun melakukan PHK pekerja.

Untuk mengantisipasi dampak dari kenaikan tarif impor oleh China, beberapa pabrikan mobil bisa mengalokasikan kembali produksi ke pabrik-pabrik lain, termasuk mengembangkan pasar ekspor selain ke China.

Kemudian, meski pengenaan tarif impor 25 persen akan memengaruhi penjualan, tapi konsumen mobil mewah di China memiliki fleksibilitas tinggi terhadap perubahan harga.

Sebenarnya bukan hanya otomotif yang masuk dalam daftar sengketa dagang AS vs China, karena juga menyasar produk sarat teknologi lain, seperti televisi dan produk elektronik lain.

“Kita harus menganbil langkah defensif yang kuat untuk melindungi kepemimpinan AS di bidang teknologi dan inovasi menghadapi kemungkinan ancaman pencurian hak intelektual oleh China, pemaksaan alih teknologi Amerika serta serangan siber mereka terhadap jaringan komputer kita,” kata U.S. Trade Representative Robert Lighthizer.

Baca juga:  Indonesia Siap Jadi Pusat Produksi Kendaraan Listrik Asean

“Pemerintah China secara agresif bekerja untuk menggerogoti industri teknologi dan kepemimpinan ekonomi Amerika melalui praktif-praktik perdagangan tak adil dan kebijakan industri seperti ‘Made in China 2025.’ Teknologi dan inovasi adalah aset paling berharga Amerika dan Presiden Trump sudah paham bahwa jika kita ingin menuju negara yang makmur di masa depan, kita harus melindungi daya saing Amerika,” tegasnya.

Namun China dan beberapa negara lain telah mengancam akan membalas berbagai pengenaan tarif oleh Amerika karena bertentangan dengan aturan yang ditetapkan Organisasi Perdagangan Dunia.

Sementara itu, sebagian besar komunitas bisnis dan para pakar menyebutkan pengenaan tarif itu adalah kebijakan yang salah kaprah dan akan mengganggu perekonomian Amerika. Mereka menyarankan bahwa lebih baik Amerika melakukan pendekatan untuk melancarkan strategi kolaboratif dengan sejumlah negara mitra yang memiliki keluhan yang sama dengan China, daripada melakukan tindakan sendiri.

Di sisi lain, pabrikan mobil yang beroperasi di negara di luar AS juga dikhawatirkan mengalami imbas dari perang dagang kedua negara raksasa ekonomi tersebut, karena banyak pabrikan yang beroperasi dan memiliki pabrik baik di Amerika maupun di China serta di negara lain. [dp/TGH]