Masih Relevankah Gelar GIIAS dan IIMS Saat Ini?


JAKARTA (DP) – Banyak agen pemegang merek (APM) otomotif yang selalu menantikan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) dan Indonesia International Motor Show (IIMS) untuk mendongkrak penjualan. Tapi di era digital saat ini, apakah ajang tahunan pameran mobil seperti GIIAS dan IIMS masih relevan?

Pameran berskala lebih besar semacam Detroit’s North American International Auto Show saja mulai ditunda perhelatannya hingga Juni pada 2020. Ini tentu mengundang pertanyaan banyak kalangan, terutama masyarakat biasa, soal apakah pameran mobil kelak tak digelar lagi?

Sebenarnya topik ini sudah dibahas di berbagai segmen di industri otomotif. Pasalnya, dalam setiap pameran otomotif, perusahaan pemasok komponen, aksesoris dan beragam bisnis yang berkaitan dengan otomotif juga ikut terlibat. Tapi bila seorang tokoh otomotif dunia sudah mengatakan bahwa pameran mobil kini tak relevan lagi karena sudah ketinggalan zaman, maka pernyataan itu sepertinya patut menjadi kajian.

Perlu Anda tahu bahwa Chairman Volkswagen Group Herbert Diess menyatakan dirinya yakin pameran otomotif tradisional seperti yang selama ini digelar, sebenarnya sudah “mati.” Pernyataan Diess itu diungkapkan di sela ajang Goodwood Festival of Speed 2018 pada Juli lalu.

Baca juga:  Upaya Mitsubishi Bikin Konsumen Nyaman Selama di Kabin

“Pameran seperti itu adalah produk 1960-an dan hal itu sudah tak relevan lagi sekarang. Pameran seperti itu tidak mampu memberikan apa yang kita inginkan dan tidak bisa memenuhi apa yang diinginkan para pembeli mobil,” kata Diess seperti dikutip Motoring.

Dengan kian majunya teknologi dan semakin banyak orang yang bisa membuat video dan disebarkan melalui media sosial, Diess menyebut pameran mobil konvensional tentu tak lagi memenuhi tuntutan banyak orang.

Dalam beberapa tahun terakhir, bahkan sejumlah pabrikan mobil melakukan peluncuran atau perkenalan produk baru di luar pameran otomotif skala besar. Sebagai gantinya, mereka memilih event yang skalanya lebih kecil seperti Goodwood, karena lebih dapat menyajikan aktivitas dan interaksi. Juga dipilih ajang pameran atau peluncuran produk melalui event independen, seperti ketika Jaguar meluncurkan E-Pace tahun lalu.

Pada kasus lain, semakin banyak pabrikan yang beralih ke media sosial sebagai ajang beriklan dan menarik minat calon konsumen.

Ada satu hal yang jarang dibahas, tapi sejatinya faktor penting yang menjadi pertimbangan para ekshibitor untuk tampil dalam pameran, yakni soal biaya keikutsertaan dalam sebuah pameran otomotif skala besar. Tak hanya wajib membuat booth sendiri, para peserta pameran juga harus merogoh kocek lagi untuk membeli material pendukung, tenaga kerja dan juga transportasi, yang tentu tak kecil nominalnya. Padahal, dengan biaya yang sama, para pabrikan bisa mengemas acara peluncuran produk baru yang lebih kreatif dan berkelas.

Baca juga:  Penjualan Moncer, UD Trucks Siap Perluas Jaringan Penjualan

Hingga saat ini, mungkin belum saatnya kita menyaksikan pameran otomotif tradisional hilang sama sekali. Yang lebih masuk akal adalah, para pabrikan mungkin tak setiap tahun tampil dalam pameran, tetapi memilih waktu yang tepat bersamaan dengan hadirnya produk baru. Pabrikan sekelas Audi, BMW, dan Mercedes-Benz saja lebih rela jika North American International Auto Show 2019 ditunda menjadi Juni 2020 agar lebih banyak menjaring perhatian publik dan peserta.

Di Tanah Air, beberapa prinsipal juga sudah mulai memilah mana ajang pameran yang lebih pas diikuti, IIMS atau GIIAS? Alasannya mungkin sama, yakni besarnya biaya dan kecilnya peluang untuk menjaring pembeli, serta satu hal lagi yakni belum ada produk baru yang harus diperkenalkan kepada publik.

Berbeda halnya dengan prinsipal yang memiliki jajaran produk yang laris di pasaran, atau prinsipal baru yang ingin membangun citra merek, event GIIAS dan IIMS tetap menjadi ajang yang pas untuk memenuhi target penjualan dan mengenalkan produk anyar maupun membangun brand awareness. Apalagi, banyak masyarakat Indonesia yang perlu melihat dan merasakan langsung mobil yang mereka incar, ketimbang hanya melihat review melalui Youtube atau video. Bukan apa-apa, tak sedikit review produk itu dilakukan ‘asal-asalan’ hanya demi menjaring ‘like’ dan ‘follower’ meski pemahaman mengenai produk dan teknologi otomotif tak terlalu mendalam.

Baca juga:  Transmisi Otomatis Wuling Confero S ACT Ala Motor Bebek

Tapi paling tidak, ucapan Diess dan juga tren yang terjadi di pasar global terkait perhelatan pameran otomotif berskala internasional, dapat menjadi masukan bagi penyelenggara pameran agar lebih kreatif mengemas acara dan tak hanya mengejar untung besar semata. Untuk tahun ini, IIMS digelar pada 19-29 April, sedangkan GIIAS baru akan dihelat mulai 2 hingga 12 Agustus 2018. [dp/TGH]