‘Duet’ Mitsubishi Nissan Miripkah dengan Daihatsu Toyota?

Karyawan PT MKSI tengah merakit Mitsubishi Xpander di pabrik.

JAKARTA (DP) – PT Toyota Astra Motor bersama ‘saudaranya’ PT Astra Daihatsu Motor dapat dikatakan sebagai pencetus lahirnya produk kolaborasi. Duet Avanza-Xenia pada tahun 2004, menjadi cikal bakal lahirnya model-model lain, hasil dari kolaborasi satu ‘persalinan’ dari induk Astra International.

Kesuksesan tersebut  setidaknya menginspirasi beberapa agen tunggal pemegang merek (APM) untuk mencoba membangun model kerja sama serupa. Sebut saja, Suzuki dengan Mitsubishi atau Suzuki dengan Mazda. Terakhir, yang sedang ramai menjadi pemberitaan adalah Mitsubishi dengan Nissan.

Nissan disebutkan telah membeli 34 persen saham Mitsubishi senilai 237 miliar yen atau setara Rp 28,99 triliun. Aliansi kedua prinsipal itu sudah dipastikan membuka banyak peluang strategi baru, termasuk di Indonesia.

Dalam konteks kolaborasi kedua perusahaan otomotif Jepang itu, CEO Mitsubishi Osamu Masuko, Rabu (3/10) kemarin mengatakan pihaknya akan mulai menyuplai Xpander ke Nissan tahun depan.

Baca juga:  mToyota, Cara Toyota Tingkatkan Layanan Pada Konsumen

Masuko memang tidak menjelaskan secara rinci, apakah Xpander yang akan disuplai ke Nissan dalam bentuk utuh, sehingga Nissan nanti tinggal menggunakan strategi pemasaran  rebadge (ganti logo), atau dengan model yang berbeda.

Masuko, juga tidak menyebutkan secara detil berapa banyak Xpander yang akan disuplai ke Nissan. Mitsubishi, menurut pria asal Jepang ini, belum mendapatkan konfirmasi dari Nissan.

“Kami akan memulai suplai Xpander ke Nissan awal tahun depan, namun kami belum bisa mengonfirmasi volume-nya,” ujar Masuko.

Masuko mengklaim Xpander yang nantinya bakal disuplai ke Nissan, kelak akan berbeda dengan model yang dipasarkan oleh Mitsubishi. Artinya, bentuk kolaborasi Mitsubishi-Nissan bukan menggunakan strategi rebadge, bisa jadi seperti Daihatsu dan Toyota yang menghasilkan model kembar Avanza Xenia.

Bagaimana pun, model kolaborasi Daihatsu Toyota sudah terbukti berhasil dibandingkan antara Suzuki-Mitsubishi, atau Suzuki dengan Mazda.

Terbukti mobil kembar Avanza-Xenia hingga kini masih tetap laris manis, bahkan selama hampir 15 tahun, Avanza selalu menempati tangga teratas dalam penjualan mobil di Tanah Air. Baru dalam beberapa bulan terakhir ini saja, mobil sejuta umat itu dikalahkan Xpander.

Baca juga:  Toyota Team Indonesia Pertahankan Gelar 3 Tahun Berturut-turut

Sementara kolaborasi Suzuki-Mitsubishi melalui model APV yang menggunakan logo tiga berlian bernama Maven atau Suzuki Ertiga tapi berlogo Mazda plus emblem bertuliskan VX-1, tak semulus Daihatsu-Toyota. Bahkan dalam waktu yang relatif singkat hilang bagai di telan bumi.

Berbeda dengan Daihatsu-Toyota, setelah produk kembar Avanza Xenia laku bak pisang goreng, diteruskan dengan kembaran-kembaran lainnya, seperti Rush-Terios, Ayla-Agya dan terakhir Sigra dan Calya. Produk-produk kolaborasi tersebut ternyata bisa menjadi tulang punggung penjualan mobil bagi kedua merek tersebut. Inilah yang membuat APM lain tergiur dengan strategi kolaborasi.

Akankan kolaborasi Nissan Mitsubishi kali ini seperti Daihatsu Toyota? Mitsubishi tentu tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, seperti waktu mereka ‘menjalin hubungan’ dengan Suzuki.

Terlebih saat ini mereka sudah memiliki produk unggulan sekaligus tulang punggung penjualan baik untuk pasar domestik maupun ekspor yaitu Xpander.

Produk yang masuk ranah ‘bermain’ yang sama dengan penguasa low MPV ini bahkan dipredikasi akan mencapai wholesales 7.000-an unit setiap bulannya. Suatu capaian gemilang untuk bisa ditularkan Nissan sebagai aliansi global dengan Mitsubishi.

Baca juga:  Yuk Simak Cerita Unik Pemenang Daihatsu Setia

Jadi, apakah kolaborasi Mitsubishi Nissan bakal serupa dengan Daihatsu Toyota?  [Dp/Gtm]