Menjajal ‘Gurihnya’ Saham Adira Finance


JAKARTA (DP) – PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (ADMF) merupakan salah satu perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan reputasi baik dan merek yang kuat, serta jejak rekam kinerja konsisten.

Dengan total aset Rp30,7 triliun per 30 September 2018, dan sudah berdiri serta beroperasi sebagai perusahaan pembiayaan otomotif sejak 1991. Adira adalah perusahaan pembiayaan terbesar dan termapan di Indonesia dan kinerja perusahaan terbilang bagus dalam jangka panjang di mana ROE-nya mencapai 20 – 25% per tahun.

“ROE hanya pernah sekali turun menjadi 15% di tahun 2014 dan 2015. Ketika itu, terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dan pengetatan penyaluran kredit oleh Bank Indonesia,” kata Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat dalam riset edisi Januari 2019.

Adira adalah juga perusahaan pembiayaan paling terkenal di Indonesia, dengan reputasi yang juga baik dan memiliki jaringan kantor cabang yang sudah tersebar di seluruh Indonesia. Bisnis pembiayaan terbilang sangat menguntungkan, karena bunga pinjamannya sangat tinggi dan non performing loan-nya tetap relatif rendah atau hanya 1,6% pada akhir 2017.

Baca juga:  Riset Teknologi Mobil Listrik, Kemenperin Gandeng Toyota

Per 30 September 2018, rata-rata bunga kontraktual pembiayaan milik Adira mencapai 18,1% per tahun untuk mobil, 34% untuk sepeda motor, dan 51,5% untuk barang-barang lainnya.

Pada harga saham Adira saat ini yakni Rp9.000 per saham, PBV Adira hanya 1,4 kali dan PER-nya 5 kali. Dan dengan mempertimbangkan dividennya sebesar Rp704,5 per saham (sebelum pajak) tahun kemarin, maka yield-nya juga tinggi yakni 7,8%.

“Namun untungnya, bahkan jika Anda tidak berniat untuk memegang sahamnya selama 5 tahun atau lebih lama lagi, Adira tetap menawarkan profit signifikan untuk jangka yang lebih pendek, dan berikut alasannya,” tuturnya.

Pertama, meskipun sahamnya tidak likuid, namun Adira tetap naik dari Rp3.000 hingga Rp9.000, atau profit tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir, dan belum termasuk dividen seiring dengan kinerja fundamental perusahaan yang memang sangat bagus.

Kedua, Agustus 2018, BI mengeluarkan peraturan LTV. Intinya, melonggarkan penyaluran kredit, sehingga memungkinkan perusahaan pembiayaan untuk meningkatkan omzet mereka, dan tidak atau belum ada indikasi bahwa BI akan kembali memperketat peraturan tersebut dalam waktu dekat.

Baca juga:  Adira Finance Fokus Pada Pembiayaan Otomotif

Ketiga, Adira terakhir kali membayar dividen Rp704,5 per saham pada April 2018, jadi kemungkinan perusahaan akan kembali membayar dividen April 2019 dengan nilai dividen yang lebih tinggi karena laba perusahaan masih naik sampai tahun 2018 lalu.

“Kita sekarang punya satu saham yang menawarkan peluang investasi baik itu untuk jangka pendek maupun panjang, dan momentumnya juga sudah pas banget, di mana Anda mungkin akan kehilangan peluang ini jika Anda baru membaca analisis ini 6 atau 12 bulan dari sekarang,” sarannya. [dp/TGH]