Test Drive Daihatsu Grand New Xenia 1.5 di Sibolga, Seperti Apa Rasanya?


SIBOLGA (DP) – Sebulan setelah diluncurkan, Daihatsu mengajak wartawan otomotif dari  berbagai media untuk merasakan performa mesin Daihatsu Grand New Xenia 1.500 cc, yang juga disematkan pada  kembarannya, Toyota Avanza/Veloz, dan juga Rush dan Terios.

Selama tiga hari, Senin sampai Rabu (11 – 13/02), Grand New Xenia diajak menjelajahi jalanan di Kawasan Sibolga, Tapanuli Tengah. Dimulai dari Bandara Dr Ferdinand Lumban Tobing, Tapanuli Tengah, sebanyak 24 jurnalis dibagi menjadi delapan unit mobil, empat unit A/T dan empat unit M/T.

Dapurpacu.id bersama dua jurnalis senior mendapat kesempatan untuk mencoba Grand New Xenia A/T varian tertinggi. Dapurpacu memilih duduk di baris kedua menjadi penumpang, selama perjalanan menuju Pantai Bosur.

Dengan kontur jalan lurus, menanjak dan menurun serta berkelok-kelok, duduk sebagai penumpang tetap terasa nyaman. Bahkan tubuh serasa dalam pelukan jok tanpa perlu miring ke kiri atau ke kanan, saat pengemudi berbelok di tikungan tajam.

Suara gemuruh yang biasanya terdengar dari luar kabin seperti pada versi sebelumnya, kini nyaris hilang,  kalau pun ada sesekali terdengar dari suara mesin, terutama saat menanjak dan menyalip mobil lain. Tambahan peredam pada Grand New Xenia terasa manfaatnya.

Dalam perjalanan menuju Pantai Bosur, kami disuguhi dengan berbagai pemandangan, seperti laut, hutan dan perumahan penduduk khas daerah Sumatera dengan atap seng yang sudah berkarat berwarna kecoklat-coklatan.

Dengan kecepatan rata-rata 40 sampai 60 km per jam, kami mengatakan ini  bukan sesi test drive sesungguhnya, tetapi lebih tepat sebagai perjalanan wisata yang diapresiasi Daihatsu kepada para jurnalis.

Selepas makan siang di Pantai Bosur, perjalanan dilanjutkan menuju Air Terjun Martolu di Desa Rampak, Kecamatan Sitahuis. Kondisi jalan masih serupa dengan perjalanan sebelumnya, beraspal mulus, lurus, menanjak dan berkelok-kelok, dihiasi dengan bukit-bukit cadas yang memiliki sumber air terjun. Tentu saja, ini menjadi sebuah pemandangan yang cukup menarik untuk dinikmati.

Sepertinya, di lokasi ini belum lama terjadi longsor, beberapa alat berat masih terlihat di lokasi perbukitan. Banyak pekerja yang sedang membersihkan sisa-sisa tanah merah dan bebatuan di kiri kanan jalan.

Tentu saja, Grand Xenia yang kami tumpangi, harus ekstra hati-hati. Apalagi, sempat turun hujan dan banyak truk besar dan bus dari arah berlawan berpapasan dengan rombongan test drive Daihatsu.

Tapi, rekan jurnalis yang duduk di balik kemudi bilang, “gak perlu khawatir broo, karena Grand New Xenia ini sudah dilengkapi fitur keselamatan tambahan”. Fitur tersebut adalah Anti Lock Brake System (ABS) dan Electronic Brakeforce Distribution (EBD). Dengan kondisi jalan menanjak, menurun dan berkelok, bahkan sedikit licin, kedua fitur ini sangat bermanfaat untuk meredam laju kendaraan.

Sesekali rekan yang berada di balik kemudi terpaksa harus melakukan pengereman mendadak, karena jarak kendaraan peserta test drive terlalu berdekatan. Meski pun demikian, saya dan satu rekan teknisi dari Daihatsu yang duduk di kursi penumpang tak sampai terhuyung ke depan.

Posisi duduk masih tetap seperti semula, tanpa harus kaget dan menegur pengemudi. ABS dan EBD bekerja dengan sempurna, kata Bambang Supriyadi, Head Product Improvement/EDER Dept Technical Service Divison Daihatsu, yang ikut mendampingi kami dalam perjalanan ini.

Di samping memiliki kedua fitur tersebut, Grand New Xenia juga kini punya tampilan baru. Penyegaran yang disebut-sebut hanya facelift itu memang tampak jelas di depan mata, mulai dari tampilan depan, bagian samping hingga pada buritan, dengan beragam aksen yang membuat sosoknya kini lebih keren ketimbang model sebelumnya. Tak heran, sepanjang perjalanan yang kami lewati, Grand New Xenia menjadi pusat perhatian dan tontonan warga.

Perjalanan di hari pertama dengan Grand New Xenia, semakin menantang saat rombongan akan kembali ke Sibolga. Kontur jalan yang dipilih kali ini, selain berkelok-kelok, juga sempit dan berlobang. Praktis, mobil kembaran Toyota Avanza ini, tak bisa mengembangkan kecepatan lebih dari 30 km per jam.

Rekan satu tim dengan dapurpacu menyebutkan, kami akan melewati batu berlubang. Kendali kemudi sudah diambil alih rekan dari Daihatsu. Beberapa saat kemudian, kami sudah berhadapan dengan terowongan yang populer dengan sebutan Batu Lubang Sibolga.

 

Mobil harus antre satu per satu saat memasuki Batu Berlubang, dengan kontur jalan rusak dan gelap, penuh dengan genangan air. Maklum saja, di atasnya ada aliran air yang mengalir dari bukit-bukit disekitarnya. “Kalau bawa kendaraan sendiri, jiper juga nih,” komentar salah satu teman.

Lolos dari terowongan batu berlubang, kami langsung berhadapan dengan truk sarat muatan yang sedang tancap gas dari arah yang berlawanan. Truk sempat ngerem mendadak, tepat di tikungan yang menanjak saat melihat rombongan Daihatsu.

Terjadi sedikit keriuhan, karena mobil yang kami tumpangi tidak bisa lewat. Alhasil, kami pun harus mengalah, mundur perlahan-lahan dan berhenti sejenak untuk memberi kesempatan truk melewati jalan menuju batu berlubang.

Beruntung kami mengendarai Grand New Xenia yang kini sudah menggunakan fitur EPS (Electronic Power Steering) yang baru saja mendapatkan adjusment dari tim teknisi Daihatsu. Fitur ini, menurut Bambang, akan menyesuaikan dengan kecepatan mobil.

“Kalau kecepatan rendah akan lebih ringan, sebaliknya pada kecepatan tinggi setir akan terasa lebih stabil, biar gak gampang oleng,” jelasnya.

Setelah lepas dari teowongan Batu Berlubang, Grand New Xenia yang kami tumpangi kembali melaju dengan kecepatan rendah, karena lagi-lagi kami harus melewati terowongan. Benar saja, tidak sampai satu kilometer,  kami sudah harus masuk terowongan lagi.  Kondisi jalannya juga mirip, rusak dan banyak genangan air.

Kendati melewati permukaan jalan yang tidak merata, kami sebagai penumpang tidak terlalu merasakan gejala ‘mental-mentul’ seperti ‘penyakit’ lama Xenia versi lawas. Posturnya yang tinggi memang menciptakan gejala tersebut, terlebih kala melibas permukaan jalan yang tidak rata. Untuk mengatasinya, suspensi depan maupun belakang diganti agar terjadi keseimbangan antara keras dan empuk.

Daihatsu telah mengatur ulang antara pegas dengan shock absorber, sebab kalau terlalu keras jelas tak nyaman tapi  memang stabil. Nah, kalau terlalu empuk, risikonya kurang stabil. Daihatsu kemudian melakukan kompensasi antara kedua kondisi itu agar kestabilannya juga cukup dan kenyamanannya juga bisa dirasakan konsumen Grand New Xenia.

Di hari kedua, rombongan test drive Grand New Xenia akan menuju konservasi penyu binaan Daihatsu yang berlokasi di Pantai Binasi. Namun, di tengah perjalanan tiba-tiba dibatalkan, karena menurut informasi yang kami peroleh,  panitia setempat belum siap. Rombongan test drive Daihatsu pun terpaksa kembali ke hotel.

Dapurpacu mengambil kesempatan dalam perjalanan pulang tersebut duduk di belakang kemudi. Tak perlu lama untuk menyesuaikan diri dengan Grand New Xenia. Pedal gas ditekan dan langsung direspons mesin 1.5 2NR-VE DOHC Dual VVT-i. Tanaganya cukup responsif sebagai sebuah kendaraan yang dirancang untuk kebutuhan keluarga.

Melaju di jalan mulus arah balik Sibolga dalam iring-iringan Daihatsu Grand New Xenia terasa lebih pede, pun ketika harus menyalip kendaraan di depan. Cukup dengan menekan pedal gas lebih dalam sedikit, Grand New Xenia sudah bisa dibawa ngacir. Jadi teringat dengan All New Terios, saat melakukan uji coba di Padang Sumatera Barat, tahun lalu. Rasanya, memang tak jauh berbeda.

Kalau Anda tertarik untuk memilikinya,  Grand New Xenia A/T dibanderol seharga Rp228,950,000 dan M/T di angka Rp218,050,000. [Dp/Gtm]