Para Rival Makin ‘Gerogoti’ Bisnis Otomotif Astra


JAKARTA (DP) – Sektor bisnis otomotif PT Astra International mengalami penurunan pada 2018 dibandingkan dengan pencapaiannya pada tahun sebelumnya. Sepanjang tahun lalu, sektor penyumbang terbesar bisnis Astra ini melorot 4%.

Penurunan margin operasional disinyalir menjadi penyebab kinerja bisnis otomotif Astra menurun dari yang semula Rp 8,868 triliun pada 2017 menjadi Rp 8,518 triliun di tahun 2018.

Dalam laporan keuangan tahunannya, Prijono Sugiarto, Presiden Direktur Astra International, menuturkan meski terjadi penurunan namun terdapat kenaikan unit penjualan produk otomotif.

“Grup mencapai kinerja yang baik sepanjang 2018. Tetapi situasi bisnis pada 2019 tampaknya lebih menantang, karena adanya ketidakpastian kondisi makro ekonomi, pasar mobil yang sangat kompetitif dan harga komoditas yang turun,” jelas Prijono.

Sebagai informasi, penjualan mobil secara nasional terjadi peningkatan sebesar 7% selama 2018 dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 1,15 juta unit. Dan penjualan merek-merek mobil di bawah Astra lebih tinggi 1% atau 582.000 unit.

Baca juga:  Mengenal Lebih Dekat All-new Toyota Corolla Altis
Penjualan sepeda motor Honda tergapai 4,8 juta unit, dengan pangsa pasar 9% sepanjang 2018.

Namun karena meningkatnya kompetisi, pangsa pasar Astra menurun dari 54% menjadi 51%. Selama periode Januari – Desember 2018, Astra telah meluncurkan 18 model baru dan tujuh model revamped (penyegaran).

Sementara dari kendaraan roda dua, penjualan sepeda motor secara nasional meningkat 8% menjadi 6,4 juta unit, dan perolehan penjualan PT Astra Honda Motor (AHM) di pasar domestik meningkat 9% menjadi 4,8 juta unit.

Atas dasar inilah, AHM berhasil mempertahankan kestabilan pangsa pasar sebesar 75%. Grup sudah meluncurkan enam model baru dan 19 model revamped sepanjang tahun lalu.

Bisnis Komponen dan Jasa Keuangan Berkinerja Positif

Walaupun performa penjualan kendaraan kurang memuaskan, sektor lain dari bisnis otomotif Astra cukup menggembirakan. PT Astra Otoparts Tbk (AOP), melaporkan peningkatan laba bersih 11% menjadi Rp 611 miliar.

Peningkatan tersebut terjadi karena kinerja penjualan pasar pabrikan otomotif (OEM/original equipment manufacturer). Lalu disokong juag pasar suku cadang pengganti (REM/replacement market).

Baca juga:  Agustus 2019, Skutik Honda Makin Merajai Pasar Ekspor
PT Astra Otoparts Tbk (AOP), melaporkan peningkatan laba bersih 11% menjadi Rp 611 miliar.

Sementara dari jasa keuangan grup meningkat 28% menjadi Rp 4,8 triliun, yang disumbangkan dari bisnis pembiayaan konsumen, bank dan bisnis asuransi umum.

“Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan mobil Grup meningkat 26% menjadi Rp1,2 triliun, disebabkan oleh provisi kerugian pinjaman yang lebih rendah,” tambah Prijono.

Laba bersih PT Serasi Autoraya (SERA) melambung sebesar 50% menjadi Rp 302 miliar. Tren bisnis Astra tetap positif, sebab terjadi peningkatan marjin bisnis leasing dan rental mobil. Jumlah kontrak sewa kendaraan SERA juga mengalami kenaikan 2% menjadi 23.000 unit.

Secara umum, laba bersih grup meningkat pada tahun lalu. Angkanya mencapai Rp 21,7 triliun, atau naik 15% dibandingkan tahun sebelumnya.

Ada peningkatan kontribusi dari segmen bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, serta segmen bisnis jasa keuangan. Nah, semua kenaikan itu, jumlahnya melebihi dari penurunan kontribusi segmen agribisnis dan bisnis otomotif.

Baca juga:  All New Toyota Corolla Altis Hybrid Meluncur 12/9, Anda Mau Beli?

Pelemahan mata uang rupiah sepanjang tahun, juga turut menekan margin bisnis manufaktur grup. Hal itu dapat diimbangi dampak positif dari kontraktor penambangan dan aktivitas ekspor otomotif. [dp/MTH]