Adira Finance Peroleh ‘Darah Segar’ Pinjaman Sindikasi Investor Asing


JAKARTA (DP) – PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) melakukan seremonial perjanjian fasilitas pinjaman sindikasi sebesar USD350 juta di Singapura, Jumat (12/4) lalu. Adapun diversifikasi pinjaman yang diterima dalam bentuk mata uang asing.

Kepercayaan investor terhadap Adira Finance tetap kuat, terlihat dari penerbitan pinjaman sindikasi ini yang mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sekitar 2 kali dari rencana awal.

“Kami berhasil merampungkan pinjaman sindikasi ketujuh di tahun ini. Seperti tahun lalu, fasilitas ini akan dipergunakan untuk mendukung bisnis pembiayaan di Indonesia dan membantu pencapaian pertumbuhan pembiayaan sebesar 5%-10% di tahun 2019,” ujar Hafid Hadeli, Direktur Utama Adira Finance, dalam siaran resminya, Senin (15/4).

Fasilitas ini telah berhasil menarik minat para investor asing yang kebanyakannya berasal dari Singapura, Taiwan dan Jepang. Fasilitas pinjaman dengan tenor 3 tahun ini memperoleh tingkat bunga yang kompetitif di tengah kondisi pasar dan perekonomian nasional yang masih mengalami ketidakpastian.

Dalam proses penerbitan pinjaman sindikasi ini, Adira Finance menunjuk BNP Paribas.; DBS Bank Ltd.; Malayan Banking Berhad, Singapore Branch; MUFG Bank, Ltd.; dan United Overseas Bank Limited sebagai mandated lead arrangers dan bookrunners.

“Baru-baru ini kami juga mendapatkan pemeringkat dari credit Internasional yaitu dari Moody’s dan Fitch, masing-masing dengan peringkat Baa2 dan BBB (investment grade) yang merupakan rating yang sama dengan Republik Indonesia. Dengan diperolehnya peringkat tersebut dapat memperkuat posisi pasar dan tingkat kepercayaan di komunitas keuangan, sehingga kami mendapatkan kesempatan untuk terus berupaya memperoleh sumber pendanaan yang kompetitif,” tambahnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya sejak penerbitan pinjaman sindikasi yang pertama, Adira Finance akan melakukan lindung nilai penuh (fully-hedged) ke dalam mata uang rupiah untuk memitigasi risiko mata uang (currency risk) dan suku bunga (interest rate risk).

Hal tersebut mengingat kegiatan pembiayaan Adira Finance menggunakan mata uang rupiah dan suku bunga pembiayaan yang tetap.

“Adira Finance terus mendiversifikasi sumber dananya sehubungan dengan pertumbuhan kebutuhan pendanaan perusahaan. Investor kami berasal dari berbagai negara seperti Jepang, Singapura dan Taiwan. Adapun fasilitas pinjaman dalam mata uang asing memberikan kontribusi sebesar 36% atas pendanaan sendiri Perusahaan yang mencapai Rp22 triliun pada akhir tahun 2018,” papar I Dewa Made Susila, Direktur Keuangan Adira Finance.

“Sekitar 18% dari pendanaan sendiri merupakan pinjaman dari bank lokal dan 46% berasal dari pasar modal berupa obligasi dan sukuk mudharabah. Dengan gearing ratio pada level 3,1 kali, kami memiliki ruang gerak yang luas dalam mencari pendanaan kedepannya untuk memenuhi kebutuhan penyaluran pembiayaan baru,” pungkasnya. [dp/MTH]