Menakar Kesiapan Indonesia Membangun Ekosistem Kendaraan Elektrifikasi


Disadur dari Forum Group Disscusion (FGD) dengan tema, ‘Kajian Implementasi Kendaraan Elektrifikasi (EV) Dalam Mendukung Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Sebagai Industri Berkelanjutan Pasca Terbitnya Perpres No. 55/2019 ‘ di Jakarta, Kamis (29/8/2019).

DAPURPACU – Indonesia sudah melakukan terobosan besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak fosil dan mengikis emisi karbon melalui percepatan program kendaraan bertenaga listrik (KBL).

Melalui guratan tanda tangan Presiden Joko Widodo yang sekaligus menandai diterapkannya Peraturan Presiden (Perpres) No.55 tahun 2019 mengenai percepatan program KBL untuk transportasi jalan, maka Indonesia sudah memasuki babak baru menuju era kendaraan elektrifikasi layaknya sejumlah negara maju di dunia.

Dengan begitu, setidaknya butuh waktu sekitar setahun setelah Perpres diteken, Indonesia akan memiliki ekosistem KBL. Hal itu jika mengacu pada salah satu pasal dalam Perpres, tepatnya Pasal 36, yang mengindikasikan para pelaku industri akan memiliki waktu satu tahun untuk memastikan semua faktor siap menuju era kendaraan elektrifikasi.

Dari sini, para pemangku kepentingan sepertinya akan saling berlomba menyiapkan segala hal, baik dari sisi produk, teknologi yang akan diadaptasi dan proses produksi serta pendukungnya. Begitu juga dengan rencana investasinya. Dan bila bersandar pada Perpres, maka insentif akan menjadi faktor yang bisa memberikan pengaruh besar terhadap rencana penerapan KBL di Tanah Air.

Industri otomotif, khususnya KBL, sama seperti industri lain yang tentu memiliki rantai proses cukup kompleks mulai dari hulu hingga ke hilir. Berbagai insentif yang mungkin dapat muncul dari Perpres No.55, tentu akan memberikan dampak positif bagi investasi dan juga volume produksi kendaraan di Tanah Air, yang komposisinya akan mulai terisi oleh berbagai jenis KBL.

Baca juga:  Mitsubishi Motors Tampilkan SUV Listrik di Tokyo Motor Show 2019

Jika berkaca pada roadmap Kementrian Perindustrian Indonesia yang menyebutkan 20% dari pasar otomotif nasional pada 2025 yang diperkirakan mencapai 1,69 juta kendaraan, akan mulai terisi oleh KBL, atau setidaknya akan ada 338 ribu unit KBL yang berpotensi beredar dan terserap pasar.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah volume produksi dan beragamnya pilihan model KBL yang sudah mendapatkan insentif pajak sudah dapat dikatakan berhasil?

Jawabannya belum tentu. Pasalnya, berdasarkan data pemberian insentif kepada KBL di beberapa negara, seperti Norwegia, Belanda, China dan juga Amerika Serikat, ternyata tingkat komposisi perkembangan jumlah KBL masih bisa dibilang tidak terlalu tinggi. Sejauh ini, China, Belanda dan Amerika Serikat masih berkutat di kisaran angka 3% untuk komposisi KBL dibandingkan dengan jenis kendaraan lain.

Hingga saat ini, praktis hanya Norwegia yang menunjukkan tingkat keberhasilan cukup tinggi untuk penetrasi KBL, dengan hampir 40% komposisi kendaraan di negara tersebut adalah KBL.

Kesiapan pasar

Bagi Indonesia yang belum memiliki infrastruktur memadai untuk KBL, tentu akan menjadi kendala tersendiri bagi pertumbuhan mobil ramah lingkungan berteknologi baterai dan motor listrik. Ditambah juga dengan pemahaman masyarakat yang masih minim tentang mobil listrik.

Fransiscus Soerjopranoto, Executive General Manager PT Toyota Astra Motor, menyatakan bahwa selain menyiapkan produk dan juga teknologi, untuk mendapatkan penetrasi yang optimal juga dibutuhkan kesiapan pasar.

Baca juga:  Honda e Resmi Dijual Mulai Musim Panas 2020

“Perpres tentu akan dapat mendorong pertumbuhan pengadaan KBL dan teknologinya, tetapi akan lebih optimal apabila pasar juga juga disiapkan. Artinya, harus ada yang memikirkan tingkat marketability juga. Dengan begitu akan ada kecocokan yang tepat antara produk yang disediakan dengan kebutuhan pasar sehingga penetrasinya sempurna,” ungkapnya.

Lebih jauh pria yang akrab disapa Suryo ini menyatakan bahwa berdasarkan pengalaman para Agen Pemegang Merek (APM) di Indonesia yang dalam kurun waktu 10 tahun ini sudah memasarkan KBL yang rata-rata berjenis HE (hybrid), penetrasinya belum cukup tinggi. Ini tentu merupakan sebuah tantangan besar untuk nantinya mencapai target roadmap pada tahun 2025 dengan optimal.

“Hingga saat ini setidaknya sudah ada lebih dari 5.400 pengguna jenis kendaraan KBL di Indonesia dan ini masih cukup rendah, di mana setidaknya mungkin bahkan tak sampai 1% dari total kendaraan yang ada. Sehingga rasanya apabila kita bisa siapkan pasar setidaknya selama setahun ini, maka pada saat nanti dimulainya era KBL, penetrasi dan penerimaan pasar akan lebih optimal,” ujarnya.

Meneruskan pengalaman sebelumnya, menurut Suryo, cara paling mudah adalah mengeliminasi sejumlah kekhawatiran konsumen akan KBL.

Suryo mencontohkan bahwa benar KBL akan memberikan benefit seperti running cost yang murah dan juga perawatan yang lebih mudah. Tetapi jangan lupa, masih ada beberapa kekhawatiran seperti harga yang relatif tidak murah, kesiapan infrastruktur di berbagai daerah, kemudahan penggunaan seperti charging yang cepat dan beberapa yang lain.

“Apalagi kalau mengingat negara kita cukup unik karena kota besar kita terkenal dengan kemacetan, tetapi ada juga budaya mudik yang tidak cuma macet, tapi jauh jaraknya dan lama mengemudinya. Hal-hal ini membuat para konsumen masih akan concern terhadap KBL, maka selain menyiapkan produk, ada baiknya kita siapkan market-nya agar nanti ujungnya sama-sama siap, sehingga akan optimal,” imbuhnya.

Baca juga:  Mitsubishi Motors Tampilkan SUV Listrik di Tokyo Motor Show 2019

“Salah satu yang menjadi tugas kami di APM adalah untuk dapat membuat marketability level yang baik antara pilihan produk dan kebutuhan. Di mata rantai industri ini, kami berada di tengah antara produsen dan juga market, maka ke depannya, menurut kami penting juga untuk dapat memilih dengan tepat produk dan teknologi KBL yang ada dan sudah siap menyesuaikan dengan kebutuhan market dan kondisi-kondisi lain.”

Untuk itu, tak ada salahnya jika fokus para pemangku kepentingan secara bersama-sama memanfaatkan waktu setahun ini untuk salah satunya menyiapkan market dengan mengurangi kekhawatiran konsumen.

Menurut pria berperawakan tinggi besar ini, menyiapkan pasar caranya bisa bermacam-macam, yakni selain tentunya memberikan banyak informasi agar tingkat pengetahuan terhadap KBL baik, penyiapan infrastruktur pendukung dan jaringan layanan akan sedikit banyak membantu mengurangi kekhawatiran.

Tapi satu hal lagi yang tak kalah penting adalah program benefit yang juga bisa menjadi pemancing sehingga akan jelas terasa perbedaan bagi pengguna KBL dan kendaraan biasa.

“Rasanya berbagai insentif di area hilir ini juga akan banyak membantu nantinya, sehingga tak hanya di area hulu efek positifnya tapi lebih total,” saran Suryo. [dp/TGH]