Lebaran Tahun Depan, Seksi 1-3 Tol Cisumdawu Ditargetkan Fungsional


DAPURPACU – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan Seksi 1-3 Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) sepanjang 33 Km dapat dilalui fungsional pada arus mudik 2020. Sementara untuk penyelesaian konstruksi keseluruhan sepanjang 61,5 Km, ditargetkan rampung akhir 2020.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Danang Parikesit, dalam keterangan tertulisnya mengatakan pihaknya optimis akhir tahun 2020, Tol Cisumdawu bisa rampung.

“Untuk arus mudik 2020, Seksi 1-3 diharapkan sudah bisa dilalui fungsional yakni sampai Sumedang. Pada Lebaran lalu juga sudah kita buka, tapi hanya sampai terowongan di Rancakalong,” katanya saat meninjau progres pembangunan Tol Cisumdawu.

Pembebasan lahan menjadi kendala dalam pembangunan ruas tol ini. Dari enam seksi yang ada, progres konstruksi dan pembebasan lahan Tol Cisumdawu adalah sebagai berikut :

– Seksi 1 Cileunyi–Tanjungsari sepanjang 12 km, dikerjakan oleh China Road and Bridge Corporation (CRBC) – PT Adhi Karya (Joint Venture) yakni 45,47% untuk konstruksi dan pembebasan lahan 72,77%.

– Seksi 2 Tanjungsari–Sumedang sepanjang 17,51 Km, pembangunannya dilakukan dalam 2 fase yakni fase I sepanjang 7,23 Km konstruksinya sudah selesai penuh 100%. Fase II sepanjang 10,7 Km, progres konstruksinya 74,62% dan lahan yang bebas 92,2%. Pengerjaan fase II oleh Metallurgical Corporation of China – PT Wijaya Karya – PT Nindya Karya – PT. Waskita Karya (Joint Operation).

– Seksi 3 Sumedang-Cimalaka sepanjang 4 Km dikerjakan oleh PT Girder Indonesia dengan progres konstruksi 78,01% dengan lahan sudah bebas 99%. Seksi 4 Cimalaka-Legok sepanjang 8,20 km dan Seksi V Legok–Ujungjaya sepanjang 14,90 Km belum ada lahan yang dibebaskan. Seksi 6 Ujungjaya–Kertajati 6,06 Km konstruksinya belum mulai dengan progres lahannya sebesar 16%.

Untuk mempercepat pengadaan lahan, Kementerian PUPR melalui Satker Pembangunan Tol Cisumdawu, Ditjen Bina Marga terus meningkatkan koordinasi dengan instansi lain yaitu Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Sumedang, Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan instansi terkait lainnya.

Permasalahan pembebasan lahan sudah dilaksanakan sesuai prosedur dimana apabila tidak terjadi kesepakatan harga lahan yang telah ditetapkan oleh penilai independen dilakukan konsinyasi atau titip uang ganti rugi di pengadilan.

“Sebagaimana arahan Bapak Menteri Basuki bahwa Kementerian PUPR membantu Pemerintah Daerah meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerahnya, sehingga Pemda yang berada didepan, kami yang membantu,” tambah Danang.

Selain lahan, pembangunan tol ini juga menghadapi medan berat berupa kawasan lembah perbukitan sehingga dilakukan pekerjaan penggalian dan penimbunan.

“Terdapat lintasan kritis sekitar 1 km berupa pekerjaan galian setinggi 70 meter yang masih terdapat lahan yang belum bebas, dan saat ini akan dilaksanakan eksekusi konsinyasi yang ditargetkan dalam waktu dekat ini,” tutur Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI, Ditjen Bina Marga, Kementerian PUPR, Hari Suko.

Menurutnya volume galian tersebut masih 5 juta m3 kubik sehingga memakan waktu yang cukup lama. Kendala ini mengakibatkan konstruksi fase II semula selesai pada September 2019 ini akan diperpanjang menjadi selesai pada September 2020.

Bagus Meidi, Direktur Teknik Citra Karya Jabar Tol (CKJT) menyebutkan perusahaaanya tidak hanya berkewajiban membangun Seksi 3-6, tetapi juga menyediakan dana talangan untuk pembebasan lahan pada keseluruhan seksi tol Cisumdawu.

“Untuk saat ini kami baru mengggarap Seksi 3. Untuk Seksi 4-6, kami masih menunggu pembebasan lahan. Saat ini dana yang dianggarkan di LMAN sekitar Rp2,5 triliun, tapi perkiraan kami bisa meningkat,” jelas Meidi.

“Saat ini kami menunggu persetujuan dari BPJT dan LMAN untuk revisi plafon dana talangan yang akan kami bayarkan pada tahun anggaran ini, yang hanya dianggarkan sekitar Rp700 milyar,” pungkas Bagus dalam kesempatan yang sama.

Kehadiran Tol Cisumdawu akan memperlancar akses kendaraan dari Bandung yang menuju Bandara Kertajati di Majalengka dan mendukung pengembangan kawasan ‘segitiga emas’ Cirebon-Subang-Majalengka (Rebana) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Tol Cisumdawu juga akan menjadi salah satu tol dengan pemandangan yang sangat indah seperti Tol Bawen-Salatiga karena menyuguhkan panorama pegunungan di Bumi Priangan. [dp/MTH]