Adira Finance Catat Lonjakan Pembiayaan Mobil Baru

DAPURPACU – Di tengah masih terjadinya pandemi Covid-19 di Indonesia, PT Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) mampu mencatatkan kinerja cukup positif pada semester I 2021.

Dibuktikan dari perekonomian domestik di kuartal II/2021 diklaim lebih baik dibandingkan kuartal I/2021. Hal ini sejalan dengan pulihnya aktivitas perekonomian secara bertahap.

Didukung juga dengan menurunnya jumlah kasus harian Covid-19, serta dimulainya distribusi vaksin sejak awal 2021 lalu.

Di sisi lain, performa positif Adira Finance turut didongkrak dari industri penjualan otomotif yang mampu tumbuh pada periode Januari – Juni 2021.

Berdasarkan pencapain itu, perusahaan mampu menggelontorkan pembiayaan baru dengan pertumbuhan sebesar 17,3% menjadi Rp11,8 triliun, dibanding periode sama tahun lalu.

Presiden Direktur Adira Finance, Hafid Hadeli mengatakan bahwa pertumbuhan tersebut didominasi pembiayaan mobil baru hingga mencapai 30,1 persen.

“Disusul pembiayaan mobil bekas sebesar 23,4% dan sepeda motor baru mencapai 13,3%,” tambahnya disela pemaparan kinerja Adira Finance secara daring, Jumat (30/7).

Hafid menuturkan, lonjakan ini seiring data yang dikeluarkan oleh Gaikindo dan AISI bahwa penjualan ritel mobil dan sepeda motor baru tercatat tumbuh 33,5% dan 23%, menjadi 388 ribu unit dan 2,4 juta unit, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, sejalan dengan penerapan PPKM Darurat di wilayah Jawa dan Bali, Adira Finance akan lebih berfokus pada penjualan yang tersegmentasi di luar area itu.

Meski demikian, papar Hafid, piutang yang dikelola perusahaan masih tercatat menurun sebesar 18,1% menjadi Rp41,3 triliun, disebabkan oleh rundown portfolio yang lebih tinggi.

Melihat dinamika yang terjadi saat ini, Hafid berharap lewat adopsi digital Adiraku dapat mempermudah pelanggan dalam melakukan pembiayaan tanpa harus melalui kantor cabang.

“Adira Finance terus berinovasi mempersiapkan strategi bisnis untuk menanggapi arah perubahan konsumsi masyarakat, dalam merespon percepatan adopsi digital oleh konsumen,” imbuhnya.

Per Juni lalu, jumlah nasabah yang pinjamannya telah direstrukturisasi mencapai 831 ribu kontrak atau sekitar Rp19 triliun, mewakili sekitar 36% dari piutang yang dikelola per Februari 2020.

Saat ini, lebih dari 80% dari pinjamanan nasabah yang telah direstrukturisasi telah mulai membayar kewajiban cicilannya. [dp/MTH]

Previous articleTanpa Dukungan Prinsipal, Komunitas Proton Gelar Aksi Sosial di Masa Pandemi
Next articleEnam Kealpaan Pemilik Mobil ini Bikin Ban Cepat Aus