Begini Langkah Tepat Indonesia Menghadapi Era Kendaraan Listrik | dapurpacu.id

Begini Langkah Tepat Indonesia Menghadapi Era Kendaraan Listrik


DAPURPACU – Indonesia sangat memungkinkan menjadi pemain global di industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) karena memiliki kemampuan sumber daya terintegrasi dari hulu ke hilir.

Indonesia kaya dengan biji nikel yang menjadi bahan baku dari pembuatan baterai EV. Karena itu PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) bekerja sama dengan mitra konsorsium yakni LG Group dari Korea Selatan dan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China.

Menurut pengamat ekonomi UI, Toto Pranoto, masyarakat global sudah mulai beralih ke kendaraan tersebut. Bahkan Norwegia menargetkan 100 persen EV pada 2025.

Dia mencatat data penjualan EV secara global naik 43% di 2020, dengan membukukan penjualan hingga 3,2 juta unit di seluruh dunia.

“Masalahnya di Indonesia adalah bagaimana kita bisa mengembangkan manufaktur nasional, sehingga bisa mendorong industri yang menghasilkan produk atraktif bagi konsumen dan harga kompetitif dengan produk asing,” ujarnya dalam Forum Diskusi Salemba yang diadakan ILUNI UI secara daring, Sabtu (20/11).

Baca juga:  Indonesia Berpotensi Besar Jadi Pemain Global Industri Kendaraan Listrik

Selain itu, lanjutnya, dukungan insentif dari pemerintah juga penting, soal pemotongan pajak kendaraan, atau insentif non materil seperti pengecualian nomor ganjil-genap bagi EV.

“Dengan harga yang kompetitif dan dukungan kemudahan lainnya, menjadikan minat masyarakat untuk membelinya akan lebih baik,” katanya. Menurutnya, penggunaan EV sangat banyak manfaatnya bagi lingkungan hidup dan juga ekonomi.

Dia memaparkan manfaat untuk lingkungan misalnya hanya dengan konversi 30% saja dari BBM ke EV, dapat mengurangi impor BBM secara signifikan hampir Rp 2-3 miliar setahun.

“Kita harus segera beralih ke EV dan menggunakan baterai yang kita produksi sendiri. Baterai produksi nasional dapat bertahan 8 tahun bisa didaur ulang 80%,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Hyundai, Tri Wahono menyambung, masyarakat butuh diedukasi lebih dalam soal EV agar tidak ada resistensi, bagaimana dampak penggunaan EV terhadap lingkungan dan ekonomi nasional.

“Hal ini mengingat negara-negara di Asia Tenggara belum ada yang bergerak. Kita jadi punya kesempatan untuk menjadi pionir, menjadi pemain utama yang memiliki supply chain yang kuat dari hulu ke hilir,” tegas Tri.

Baca juga:  Indonesia Berpotensi Besar Jadi Pemain Global Industri Kendaraan Listrik

Di waktu yang sama, pebalap Fitra Eri mengamini, value yang ada saat ini belum bisa menggoda orang Indonesia untuk membeli. Sebab, konsumen umumnya tidak terlalu pusing soal isu lingkungan, bagi mereka nilai ekonomisnya juga menjadi yang utama.

“Mobil listrik harganya masih diatas Rp1 miliar. Mahal. Konsumen beli mobil listrik bukan karena sadar lingkungan, tapi penasaran, layak enggak sih pindah ke mobil listrik. Ujung-ujungnya perhitungan ekonomi,” imbuhnya.

Jadi di Indonesia, mobil listrik harus ekonomis, dan diperkuat regulasi pemerintah dengan banyak insentif serta infrastruktur juga penting agar bisa dipakai keluar kota,” sambungnya.

Sedangkan menurut Ketua Policy Center ILUNI UI, M Jibriel Avessina menambahkan, isu ini penting untuk terus dikawal, karena Indonesia sebagai penghasil bahan baku terbesar untuk baterai.

“Kami akan mengadakan diskusi lanjutan agar industri baterai berkembang dan bagaimana peran dari alumni yang berkiprah di berbagai segmen bisa mengambil peran. Kita memang belum maksimal tapi sudah di arah yang benar,” pungkasnya. [dp/MTH]