DAPURPACU – PT Surganya Motor Indonesia (Planet Ban) meresmikan toko ban dan suku cadang otomotif roda dua yang ke-1.000 di Indonesia. Toko baru itu berlokasi di Perum Grand Cikarang D12, Bekasi, Jawa Barat.
Chief Executive Officer Planet Ban, Andi Haryoko mengatakan, pembukaan toko ke-1.000 pada tahun ini menjadi sebuah pencapaian tersendiri bagi perusahaan.
Ia menyebut, tantangan pandemi dan industri otomotif global yang turut memberi dampak akan terbatasnya mobilitas masyarakat.
“Peresmian toko ke-1.000 ini menjadi momen spesial setelah mobilitas masyarakat kembali meningkat pasca pandemi,” ujarnya saat perayaan toko ke-1.000 di The Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (24/8).
Lebih jauh ia menjelaskan, dalam kesempatan ini dijadikan momentum untuk meluncurkan kampanye #InovasiTanpaHenti dalam menghadapi tantangan terhadap pertumbuhan performa bisnis Planet Ban.

“Kami menampilkan beragam inovasi dari segi peningkatan layanan maupun model bisnis, juga diversifikasi lini usaha diluar penjualan retail ban, seperti jasa servis dan manufaktur Oli Xten, sehingga dapat menjaga konsistensi performa bisnis,” ungkapnya.
Ia menilai persaingan bengkel motor dengan mobil di Indonesia cukup ketat. Jika perbandingan bengkel dan showroom mobil 1:1, maka perbandingan jumlah bengkel dan showroom motor di Indonesia 3:1.
“Itu terjadi karena pabrikan motor tidak mensyaratkan diler yang bukan bengkel harus buka showroom. Jadi showroom itu lebih menguntungkan daripada bengkel, kebalikan dari mobil. Tidak ada pembatasan di motor,” imbuhnya.
Terlebih untuk mendirikan bengkel motor di Indonesia tidak memerlukan modal besar. Jadi semua orang bisa untuk membuka bisnis bengkel motor.
“Saat ini, kira-kira ada 150 ribu hingga 200 ribu bengkel motor di seluruh Indonesia. Ini adalah situasi tidak menguntungkan bagi pelaku bisnis bengkel motor.”

Selain bengkel resmi juga ada bengkel umum, dioperasikan langsung oleh pemilik. Jadi biayanya bisa ditekan lebih rendah,” jelas Andi.
Andi pun berbagi rahasia Planet Ban mampu mengopersikan 1.000 toko di Indonesia hingga saat ini. Resepnya, inovasi yang terus digencarkan oleh Planet Ban.
“Jadi tidak cukup mengikuti formula (memperbanyak) lokasi, lokasi dan lokasi. Inovasi juga bukan sekadar gimmick, melainkan melawan arus,” terangnya.
Ia menuturkan bahwa konsep Planet Ban telah ditiru oleh perusahaan asing di negara maju di Asia. Berbeda dari sektor lain seperti ritel dan lainnya.
“Semoga semangat inovasi Planet Ban menjadi yang terbaik. Produksi dalam negeri memang bagus, tapi lebih bagus inovasi dalam negeri,” tutupnya. [dp/DF]

