Ambisi Besar Toyota Hadirkan Teknologi Hidrogen di Indonesia

DAPURPACU – PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) telah menghadirkan beragam kendaraan di Tanah Air, baik mesin konvensional hingga hybrid maupun full listrik berbasis baterai.

Kehadiran kendaraan ramah lingkungan seperti electric vehicle (EV) diyakini mampu mempercepat peralihan tersebut. Terlebih Toyota punya ‘amunisi’ lain yang siap dikembangkan di Indonesia, yaitu teknologi hidrogen.

Siapa sangka bahwa potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) ini memiliki potensi besar di Indonesia, hasil dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang tersebar saat ini.

Potensi ini terungkap lugas dari seminar bertajuk ‘Percepatan pengembangan ekosistem hidrogen di sektor industri dan transportasi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060 di Indonesia’.

Seminar yang digelar di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut mendapat dukungan penuh dari PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Rabu (8/11).

Presiden Direktur PT TMMIN, Nandi Julyanto mengatakan, Toyota terus mendorong multiple solution (beragam solusi) dengan menyediakan berbagai kendaraan yang mampu mengurang emisi.

Baca juga:  Resmi Dirilis, Neta X Langsung Buka Pemesanan di GIIAS 2024

Menurutnya, pemanfaatan multi teknologi dari berbagai sumber energi yang berfokus pada reduksi emisi, manjadi suatu keniscayaan untuk mengejar target NZE demi masa depan hijau bagi seluruh generasi.

“Terutama di sektor transportasi yang digadang-gadang menjadi salah satu fokus utama dalam dekarbonisasi,” imbuhnya disela pembukaan seminar di hadapan civitas UGM.

“Mulai dari mesin konvensional yang dapat menggunakan bahan bakar bio, hybrid, PHEV (plug-in hybrid electric vehicle), BEV (battery electric vehicle), hingga FCEV (hidrogen),” ujarnya.

Seperti diketahui, Pemerintah Indonesia terus mempromosikan mobil listrik khususnya BEV. Hasilnya, mobil-mobil berteknologi elektrifikasi berbasis baterai makin marak di pasar.

Sebagai negara dengan potensi ketahanan energi yang begitu besar, teknologi hidrogen atau fuel cell vehicle (FCEV) yang menjadi energi masa depan industri khususnya di sektor transportasi, bisa menjadi alternatif baru di Indonesia.

Hidrogen hijau menjadi potensi baru sumber energi bersih yang hanya mengeluarkan uap air dan tidak meninggalkan residu di udara atau menambah emisi karbon gas rumah kaca.

Baca juga:  SERES Boyong Konsep SUV Seharga 1 Miliar Lebih ke GIIAS 2024

“Dan karenanya sangat mendukung pencapain target dekarbonisasi,” jelas Project General Manager Toyota-Daihatsu Engineering and Manufacturing (TDEM), Indra Chandra Setiawan.

Potensi Indonesia Jadi Frontier Utilisasi Teknologi Hidrogen

Potensi EBT hidrogen yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kalimantan Utara, Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Papua, diklaim berkapasitas hingga 3.000 gigawatt.

Sementara besarnya potensi tersebut baru dimanfaatkan sekitar 12,5 gigawatt saja saat ini. Sehingga Pemerintah optimis dapat menambah produksi listrik dari sumber EBT hingga mencapai 21 GW.

“Hal ini sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021 – 2030. Bahkan negara tetangga Singapura telah menyatakan menyerap hidrogen hijau produksi Indonesia untuk kebutuhan domestiknya,” tambahnya.

Pemanfaatan hidrogen juga sejalan dengan misi dekarbonisasi sektor manufaktur yang ditargetkan Kementerian Perindustrian RI pada 2050, atau 10 tahun lebih dini dari target yang dicanangkan.

Baca juga:  SERES Boyong Konsep SUV Seharga 1 Miliar Lebih ke GIIAS 2024

Di sisi lain, Kementerian ESDM telah menjalankan program Renewable Energy Based in Industrial Development (REBID) dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga air, tenaga surya, panas bumi, biomassa, dan hidrogen.

Wakil Presiden TMMIN, Bob Azam menuturkan, saat ini berbagai pihak sudah bergerak membuat tiga ekosistem energi yakni Biofuel, baterai, maupun hidrogen, dimana saat ini Pertamina, PLN dan Samator sudah mengembangkannya.

“Dengan berbagai strategi hidrogen nasional yang dilakukan semua pihak, nyatanya Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan hidrogen hijau agar tak tertinggal dengan kompetisi global,” pungkas Bob.

Toyota sendiri sudah mengembangkan teknologi FCEV alias mesin hidrogen pada Mirai pada 2014 secara massal di Jepang, sebagai kendaraan yang tidak lagi mengandalkan BBM.

Saat ini, Toyota tengah mengembangkan kendaraan dengan mesin pembakaran internal bertenaga hidrogen (Hidrogen Internal Combustion Engine/HICEV). [dp/TH]

Previous articleHyundai Serahkan 148 Unit Mobil Dukung FIFA U-17 World Cup Indonesia 2023
Next articleHonda CBR250RR Wujudkan Pebalap Indonesia Jawara Asia di ARRC 2023