DAPURPACUID – PT Hutama Karya menerapkan landas putar ‘Sosrobahu’ pada pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak Paket 1A, yang prosesnya kini telah mencapai 64,2 persen.
Metode tersebut memungkinkan progres konstruksi jalan tol tetap berjalan, dengan seminimal mungkin gangguan terhadap arus lalu lintas di jalan arteri yang padat.
EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim menjelaskan, penggunaan metode ini merupakan strategi efektif untuk mengatasi tantangan pembangunan di kawasan padat.
Menurutnya, penggunaan teknologi Sosrobahu pada ruas tol itu bertujuan meminimalisir gangguan lalu lintas di jalan arteri, yang memiliki volume kendaraan sangat tinggi.
“Dengan metode tersebut, Hutama Karya dapat mengerjakan struktur pier head atau balok melintang, tanpa harus menutup jalur di bawahnya,” jelas Adjib, dalam siaran resmi.
Dia menambahkan, teknologi Sosrobahu diterapkan pada empat tiang penyangga di jalur tol Semarang – Demak Paket 1A (P10, P11, P13, P14) di area elevated, yang berada di antara dua jalur jalan arteri aktif dan berdekatan dengan akses menuju aktivitas bisnis.

Pelaksanaan pemutaran kurang lebih 2 bulan dari yang pertama (Pier P11) pada 18 Mei 2025. Diikuti pemutaran P10 (3 Juni), lalu ketiga (P14) dan terakhir pemutaran keempat P13 pada pertengahan Juni 2025, atas koordinasi dengan dinas perhubungan setempat.
Agar pelaksanaan berjalan lancar, Hutama Karya melakukan sosialisasi melalui media sosial, saluran radio lokal dan memasang rambu manajemen lalu lintas terkait persiapan pekerjaan Sosrobahu di sekitar area proyek.
Adjib mengeklaim tanpa teknologi itu, proses konstruksi konvensional berpotensi menyebabkan kemacetan, mengganggu akses menuju aktivitas bisnis dan menimbulkan keluhan masyarakat.
“Metode ini memungkinkan pier head dibangun sejajar dengan sumbu jalan, lalu diputar 90 derajat ke posisi akhir menggunakan sistem hidrolik,” tuturnya lagi.
Sosrobahu memiliki beberapa keunggulan, termasuk efisiensi waktu pengerjaan yang lebih singkat, biaya pengaturan keselamatan lalu lintas yang lebih efisien, dan pekerjaan konstruksi yang tetap berjalan tanpa mengurangi ruang jalan arteri.
Teknologi ini sangat ideal untuk lingkungan perkotaan yang padat dan minim ruang gerak alat berat. Hutama Karya juga melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak untuk mitigasi dampak konstruksi.
Langkahnya seperti pemasangan rambu-rambu jelas, penerangan di malam hari dan penugasan flagman khusus untuk mengatur lalu lintas telah dilakukan, memastikan keselamatan pengguna jalan.

Adjib pun menegaskan, Hutama Karya selalu mengedepankan keselamatan dan kenyamanan masyarakat khususnya pengguna jalan, dalam setiap proyek yang dikerjakan.
“Pada proyek ini, teknologi Sosrobahu tak hanya menunjukkan kapabilitas teknis, juga komitmen perusahaan meminimalkan dampak konstruksi terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat,” pungkasnya.
Progres pembangunan Tol Semarang-Demak Paket 1A yang digarap melalui Kerja Sama Operasi (KSO) dengan Beijing Urban Construction Group (KSO HK – BUCG) telah lebih dari 50 persen.
Pemasangan landas putar dengan metode ini menjadi milestone penting dalam penyelesaian proyek. Setelah selesai, tol ini akan meningkatkan konektivitas serta memberi perlindungan dari dampak banjir rob yang biasa terjadi di wilayah pesisir Semarang dan Demak.
Tol ini juga diharapkan dapat mengurai kemacetan pada ruas jalan Nasional, Pantura dan meningkatkan produktivitas ekonomi di kedua wilayah di Jawa Tengah tersebut.
Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo dalam kunjungannya pada 1 Januari 2025, mengatakan pembangunan Tol Semarang-Demak masih berjalan sesuai dengan timeline dengan target tuntas April 2027. [dpid/TH]

