DAPURPACUID – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sering kali diidentikkan dengan pengenalan kelas dan atribut baru.
Namun, ada yang berbeda di Kabupaten Tangerang tahun ini. PT Wahana Makmur Sejati (WMS) selaku Main Dealer sepeda motor Honda wilayah Jakarta-Tangerang, memanfaatkan momentum ini untuk melakukan aksi nyata dalam menekan angka kecelakaan di kalangan remaja.
Sebanyak 800 siswa baru dari SMK Wipama Cikupa dan SMK Tunas Bangsa Kabupaten Tangerang dikumpulkan untuk mendapatkan pembekalan khusus mengenai pentingnya budaya keselamatan berkendara sejak dini. Langkah preventif ini diambil mengingat kelompok usia muda merupakan salah satu pengguna jalan yang paling rentan terlibat dalam insiden lalu lintas.
Edukasi ini bukan sekadar penyuluhan biasa, melainkan hasil kolaborasi taktis antara dua program internal WMS: Safety Riding Promotion (SRP) dan Satu Hati Education Program (SHEP).
Di era modern, dunia pendidikan dan industri (DUDI) sepakat bahwa keahlian teknis siswa harus berjalan selaras dengan karakter yang bertanggung jawab di ruang publik. Oleh karena itu, menanamkan kesadaran hukum dan etika di jalan raya dinilai sama krusialnya dengan mengajarkan ilmu permesinan di dalam kelas.
Melalui semangat kampanye #Cari_Aman, para siswa baru ini dibekali dengan tiga materi esensial:
Edukasi Batasan Hukum (Aturan SIM C): Siswa diingatkan secara tegas mengenai regulasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 81. Aturan ini dengan jelas menetapkan batas usia minimal 17 tahun untuk memiliki SIM C. Bagi siswa yang belum memenuhi syarat, WMS mengimbau untuk memanfaatkan transportasi umum atau diantar oleh orang tua demi keselamatan bersama.
Etika dan Pemetaan Potensi Bahaya: Remaja diajarkan cara membaca situasi jalan raya, mengenali rambu-rambu, serta bersikap disiplin guna mendeteksi potensi bahaya sebelum terjadi kecelakaan.
Standar Mutlak Riding Gear: Penjelasan mendalam mengenai pentingnya menggunakan perlengkapan berkendara standar, mulai dari helm berlogo SNI, jaket, sarung tangan, celana panjang, hingga sepatu yang menutup mata kaki sebagai pelindung tubuh utama.
Head of Safety Riding Promotion WMS, Agus Sani, menegaskan bahwa materi yang diberikan tidak hanya membahas aspek teknis berkendara, tetapi menanamkan pola pikir bahwa keselamatan harus menjadi prioritas. Pihaknya ingin para siswa paham aturan dan tidak memaksakan diri membawa motor sebelum memiliki SIM resmi.
Sejalan dengan hal itu, Head of TSD WMS, Benedictus F. Maharanto, menambahkan bahwa melalui kolaborasi berkelanjutan ini, WMS ingin membentuk karakter generasi muda yang peduli terhadap keselamatan. Ini adalah kontribusi nyata di dunia pendidikan di bawah semangat Sinergi Bagi Negeri.
Dengan bekal yang diberikan sejak hari pertama menginjakkan kaki di sekolah, 800 siswa ini diharapkan tidak hanya menjaga diri mereka sendiri, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi agen perubahan dan pelopor keselamatan (safety riding) di lingkungan keluarga serta masyarakat luas. [dpid/BGS]


