Test Drive DFSK Glory 560: Pertaruhan di Segmen Panas (Bag. 1)

DAPURPACU – Komitmen PT Sokonindo Automobile, pemegang merek DFSK di Indonesia, untuk menjadikan ranah segmen sport utility vehicle (SUV) sebagai area ‘bermain’ untuk kendaraan penumpang yang diniagakannya memang bukanlah tanpa alasan. Prospek yang menggiurkan di segmen ini memang menjadi alasan utamanya.

Di balik itu, dimunculkannya Glory 580, disusul sang adik Glory 560 yang dihadirkan pada akhir April lalu, wajar memang banyak anggapan keduanya didapuk sebagai ‘kuda hitam’ di segmen yang terus menunjukkan pertumbuhan positif di Tanah Air.

Belum lagi bila kelak varian Glory i-Auto dirilis ke pasar, sudah barang tentu akan merepotkan para rival di kelasnya seperti duo Astra, Toyota Rush dan Daihatsu Terios, Honda HR-V bahkan BR-V, hingga sesama pabrikan Negeri Tirai Bambu Wuling Almaz, yang baru memperkenalkan fitur baru Wuling Indonesia Command (WIND).

Namun, apakah dengan segudang perbekalan yang telah disematkan beserta harga yang menggiurkan bagi konsumen, plus durabilitas yang teruji dengan beragam pengujian dan survei serta riset sudah cukup?

Catatan diawal kemunculannya pada GIIAS Surabaya memang tidaklah terlalu mengejutkan, hanya mencatatkan 100 lembar pemesanan (SPK), di mana saat itu konsumen hanya dijanjikan harga non resmi dari Glory 560 dikisaran Rp210 juta hingga Rp270 juta.

Berlanjut pada gelaran IIMS 2019. Di sini sambutan konsumen melonjak signifikan hingga melewati target yang ditetapkan DFSK diawal pameran yaitu sebanyak 1.000 unit. Dengan banderol resmi dibawah prediksi, Rp189 juta sampai Rp239 juta OTR Jakarta, Glory 560 berhasil mengumpulkan angka pemesanan hingga 1.045 unit.

Senyum lebar Franz Wang, Managing Director PT Sokonindo Automobile of Sales Centre, begitu terlihat saat itu. Bagaimana tidak, prestasi yang telah diukir sang kakak Glory 580 ternyata berhasil dipecahkan oleh Glory 560.

“Glory 560 merupakan produk yang tepat untuk melengkapi lini produk yang kami tawarkan, di mana sebelumnya diisi Glory 580. Keduanya memiliki dimensi kendaraan yang berbeda. Konsep keduanya juga berbeda, di mana Glory 560 merefleksikan mereka yang hidup secara aktif, gemar mencari tantangan, penuh semangat dan menginginkan kehidupan yang lebih baik, sementara Glory 580 lebih menonjolkan desainnya mewah, elegan, dan stylish,” imbuh Franz.

Melirik banderol yang ditetapkan DFSK pada medium SUV ini memang jauh diluar dugaan para rivalnya. Jika melirik harga HR-V 1.5, dimulai dari Rp286 juta untuk varian S MT sampai Rp319 juta untuk tipe E CVT. Sementara untuk banderol Rush dimulai dari harga Rp244.250.000 tipe G MT hingga yang paling teratas TRD Sportivo A/T dengan harga Rp265.650.000. Kekhawatiran harga Glory 560 bakal mengusik Terios juga terbukti.

Harga SUV andalan Daihatsu ini dilepas mulai dari Rp202,3 juta untuk tipe X MT hingga yang paling tertinggi tipe R AT Deluxe seharga Rp255 juta. Tak hanya ketiga mobil ini saja, Glory 560 juga menyenggol Honda BR-V bila dilihat dari spek mesinnya. Soal harga dimulai dari Rp238 juta sampai Rp279,5 juta.

Melihat rentetan harga para rival, jelas harga yang ditempelkan pada Glory 560 jauh lebih unggul, hanya Daihatsu Terios yang sedikit ‘menyerempet’. lalu, bagaimana dengan amunisi yang menjadi senjata andalannya?

Beruntung, setelah sekian lama menanti sejak unit tersebut diluncurkan, akhirnya awak media diberikan kesempatan untuk ‘sejenak’ berada di balik kemudi dan di kabin Glory 560. Kata sejenak digunakan karena area pengujian hanya dilakukan mulai dari showroom DFSK Pondok Indah hingga ke kawasan Lido Lake Resort, Sukabumi, Jawa Barat.

Sebanyak 17 unit Glory 560 tipe L 1.5L Turbo CVT berbagai warna dilepas beriringan oleh Sales and marketing Director of Sales Centre PT Sokonindo Automobile, Alex Pan, dengan kawalan Patwal. Mengantisipasi panjangnya rombongan, trip singkat sejauh sekitar 70 km ini pun dibagi dua.

Dapurpacu.id bersama tiga awak media menunggangi Glory 560 berkelir Elegant White. Pembagian ‘tugas’ di balik kemudi telah disepakati, dan diawal perjalanan ini saya duduk di baris kedua. Memanfaatkan posisi sebagai penumpang, saya menelusuri seluruh material yang dipasangkan pada kabin, termasuk melihat penataan instrumen cluster yang tergolong ciamik.

Desain soft touch dengan kesan mewah dan modern, nampak ditonjolkan di seantero kabin, mulai dari atap, door trim hingga bagian jok yang dibalut kulit berkualitas tinggi cukup memberikan kenyamanan kami selama di dalam kabin.

Sugesti kah? Kesan lapang yang tercipta dari dimensi yang ada memang memunculkan atmosfer tersebut. Terlebih dengan jahitan benang merah di seluruh jok dan door trim cukup menciptakan aura kemewahannya.

Hembusan hawa sejuk tersalur apik lewat bagian belakang konsol tengah. Kenyamanan lain bagi penumpang belakang dihidangkan oleh amrest pada jok tengah. Adanya fitur reclining pada jok baris kedua memang menciptakan kenyamanan.

Sayangnya, sudut kemiringannya tergolong ‘pelit’ hanya sekitar 60 derajat, mengingatkan saya pada Mitsubishi Outlander Sport. Kesan santai kala melakukan perjalanan jauh bisa jadi agak berkurang. Tapi hal tersebut mungkin bisa ditolerir, toh pilar C bisa dijadikan sandaran kepala dengan nyaman.

Oiya, ruang penyimpanan yang berlimpah hingga 29 kompartemen cukup memudahkan seluruh penghuni kabin meletakkan barang-barang mungil di berbagai sisi. Bahkan untuk jok baris kedua dan ketiga bisa dilipat dengan membuat lantai mobil rata untuk memudahkan penumpang membawa berbagai macam barang bawaan selama perjalanan.

Puas menikmati atmosfer kenyamanan di jok baris kedua, pandangan pun dialihkan untuk melirik deretan fitur di dashboard. Menunggangi varian tertinggi, susunannya tertata rapi dan apik, di mana seluruh tombol pengaturan dipusatkan di center stack.

Sementara di lingkar kemudi terangkum pengaturan ringan untuk mengemudi saat mengoperasikan sistem audio dan telepon. Sayangnya, Glory 560 masih menganut kenob ‘kompor gas’ untuk pengaturan AC, volume audio dan lain sebagainya.

Tepat di bagian atas dashboard terlampir layar sentuh berukuran 8 inci yang memiliki berbagai fungsi, seperti radio, koneksi bluetooth, navigasi GPS, interkonektivitas smartphone (iOS dan Android), sensor parkir belakang. Modernisasi juga dibuktikan dengan penerapan smart button yakni one-push start button, untuk menghidupkan dan mematikan mesin mobil.

Paling menarik adalah kala melihat meter cluster dengan latar belakang berwarna biru, dengan lingkaran berisikan tachometer dan speedometer, serta multi information display (MID) yang berisikan berbagai informasi, terkecuali konsumsi bahan bakar baik secara rata-rata maupun real time.

Tak berapa lama menghalau kemacetan di ruas Tol Jagorawi, akhirnya seluruh rombongan masuk check point pertama untuk sekadar beristirahat sekaligus berganti pengemudi. Di sini, saya belum mendapat giliran untuk berada di balik kemudi. [dp/MTH]

Previous articleBeli Ban Pirelli di Otobursa 2019 Dapat Diskon 50 Persen
Next articleDominasi Delvintor dan AHRT di Kejurnas Motocross 2019