Tag: Battery Management System

  • Rexco Gempur IIMS 2026, Bawa Solusi Perawatan Total

    Rexco Gempur IIMS 2026, Bawa Solusi Perawatan Total

    DAPURPACUID – PT Altama Surya Anugerah kembali memboyong rangkaian produk Rexco ke hadapan pengunjung IIMS 2026, melalui produk-produk pelumas hingga cleaner andalan.

    Eksistensi tersebut untuk menunjukkan kesiapan merek di industri otomotif nasional, dimana produk perawatan kendaraan berkualitas justru semakin krusial.

    Menempati area booth di Grand Hall CT 19, pengunjung bisa menemukan berbagai produk unggulan Rexco yang sudah akrab di kalangan mekanik profesional maupun pengguna DIY (Do-It-Yourself).

    Selain lini pelumas dan cleaner unggulan, Rexco juga menghadirkan solusi lengkap perawatan kendaraan, mulai dari motor harian hingga mobil listrik modern.

    Brand Marketing Manager Rexco Indonesia, Tomy Tambrani menegaskan, kehadiran Rexco di IIMS tahun ini bukan sekadar untuk berjualan, tapi untuk mengedukasi pasar bahwa perawatan kendaraan itu penting.

    “Rexco memiliki jajaran produk lengkap yang diformulasikan khusus untuk menjaga performa kendaraan tetap prima di segala kondisi jalanan Indonesia,” ujar Tomy.

    Solusi Lengkap Perawatan Kendaraan

    Di booth Grand Hall CT 19, pengunjung bisa menemukan berbagai produk unggulan Rexco yang sudah akrab di kalangan mekanik profesional maupun pengguna DIY (Do-It-Yourself).

    Beberapa produk andalan yang dipamerkan antara lain Rexco 50 Multipurpose Lubricant, hingga varian-varian lain seperti Rexco 25 Chain lube, Rexco 18 Contact Cleaner dan Rexco 70 Multi Purpose Degreaser.

    Hadir juga Rexco 81 Carb & Injector Cleaner, Rexco 20 Hand Cleaner, Rexco 60 High Temp Multipurpose Lithium Grease Cartridge dan Rexco 82 Spare part & Brake Cleaner.

    Seluruh produk diformulasikan menjaga performa optimal sekaligus memberikan perlindungan maksimal pada komponen kendaraan, baik mesin, sistem kelistrikan, hingga bagian pengereman.

    Partisipasi tahun ini juga menandai komitmen Rexco dalam mendukung ekosistem otomotif nasional yang kini mulai bertransformasi ke arah teknologi yang lebih ramah lingkungan dan efisien.

    Di tengah tren EV yang semakin masif di tahun ini, Rexco juga memamerkan cairan pembersih komponen elektrik yang aman dan tak menghantarkan arus guna menjaga performa komponen sensitif pada mobil maupun motor listrik, seperti Rexco 18 Contact Cleaner.

    Produk tersebut terbukti efektif untuk dapat membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada BMC (Battery Management System), konektor aki dan soket-soket kelistrikan.

    Promo Spesial & Demo Edukatif

    Tak hanya menghadirkan produk, Rexco juga menyiapkan program promo menarik selama ajang IIMS 2026. Pengunjung berkesempatan mendapatkan harga terbaik untuk berbagai produk pelumas dan cleaner unggulan.

    Selain itu, booth Rexco juga menggelar demonstrasi langsung, memberikan edukasi teknis seperti:

    – Cara mengatasi karat pada komponen logam;
    – Membersihkan kerak karbon pada mesin;
    – Teknik pelumasan rantai kendaraan performa tinggi;
    – Perawatan sistem kelistrikan kendaraan.

    Partisipasi ini sekaligus menegaskan posisi Rexco sebagai brand yang konsisten mendukung mekanik profesional, komunitas otomotif, hingga pengguna kendaraan harian yang semakin sadar pentingnya perawatan mandiri.

    Bagi pengunjung IIMS 2026, ini menjadi kesempatan tepat untuk menyetok kebutuhan perawatan kendaraan dengan harga terbaik sekaligus mendapatkan insight langsung dari ahlinya. [dpid/TH]

  • Polytron Ungkap Standar Keamanan Baterai FOX Electric

    Polytron Ungkap Standar Keamanan Baterai FOX Electric

    DAPURPACUID – Salah satu komponen vital pada kendaraan listrik, tak terkecuali sepeda motor adalah baterainya. Oleh karena itulah, faktor keamanannya sangat diutamakan.

    Polytron kembali memperlihatkan keseriusannya mengembangkan motor listrik yang aman dan berkualitas bagi konsumen Indonesia. Termasuk teknologi keamanan pada baterai.

    Melalui pemilihan cell LFP dan standar uji internasional, pabrikan telah menegaskan untuk memfokuskan pada keselamatan lewat teknologi keamanan baterai di lini Fox Electric.

    Langkah ini semakin memperkuat posisi Polytron sebagai produsen kendaraan listrik lokal yang menaruh perhatian penuh pada keselamatan para penggunanya.

    Edukasi ini muncul seiring peluncuran Fox 350 beberapa waktu lalu, dengan dua skema kepemilikan, Battery as a Service (sewa baterai) dan opsi pembelian baterai.

    Meski menghadirkan pilihan baru bagi konsumen, Polytron menegaskan aspek keselamatan tetap menjadi pilar utama seluruh pengembangan ekosistem kendaraan listrik mereka.

    CEO Polytron, Hariono menjelaskan, Polytron menekankan bahwa baterai merupakan komponen paling vital sekaligus paling kompleks dalam motor listrik.

    Oleh karena itu, Polytron mengimplementasikan standar pengujian internasional untuk memastikan setiap cell yang digunakan benar-benar aman sebelum dipasang pada FOX Electric.

    Seluruh cell baterai yang digunakan telah melewati serangkaian uji ketat setingkat standar global, mengacu pada UN 38.3, QC/T 743, SNI 8872:2019, UN R136, hingga ISO 26262.

    “Polytron menerapkan standar pengujian setingkat internasional guna memastikan setiap cell baterai yang digunakan aman sebelum dipasang pada motor listrik FOX Electric,” imbuhnya.

    “Pengujian tersebut mencakup simulasi tekanan panas ekstrem, getaran, benturan, tusukan, hingga skenario kecelakaan,” paparnya dalam keterangan tertulis.

    Standar ini diterapkan guna memastikan setiap cell tak hanya aman di kondisi normal, tapi juga mampu bertahan dalam situasi ekstrem yang mungkin terjadi saat berkendara atau pengisian daya.

    Alasan Memilih Cell LFP

    Polytron menjelaskan, tidak semua jenis baterai lithium menawarkan tingkat keamanan yang sepadan. Beberapa kimia baterai seperti NMC, NCA dan LCO dikenal berisiko tinggi.

    Hal ini dikarenakan unsur kimiawi tersebut menghasilkan oksigen internal ketika terbakar, membuat api cepat membesar dan sulit untuk dikendalikan. Bahkan berpotensi menimbulkan ledakan.

    Material cell LFP (Lithium Iron Phosphate) dipilih oleh Polytron karena memiliki stabilitas termal lebih baik dan tidak memproduksi oksigen saat terbakar.

    Dengan begitu, potensi api berkembang lebih lambat dan jauh lebih mudah dikendalikan, sehingga risiko kecelakaan akibat baterai dapat diminimalkan secara signifikan.

    Cell LFP memiliki titik thermal runaway pada suhu 250–300°C, jauh lebih tinggi dibanding NMC yang berada pada 170–220°C. Margin keamanan ini sangat penting terutama di kondisi panas, macet, atau saat proses charging.

    Cell LFP Polytron juga telah melalui pengujian nail penetration dan mechanical impact, guna memastikan tidak terjadi kebakaran atau ledakan meski mengalami tusukan, tekanan tinggi, atau kerusakan fisik yang mensimulasikan kondisi kecelakaan.

    Desain Battery Pack dengan Proteksi Berlapis

    Polytron menegaskan bahwa sistem keamanan baterai tidak berhenti pada pemilihan cell saja. Desain battery pack menjadi lapisan proteksi berikutnya yang sama pentingnya.

    Untuk itu, Polytron merancang battery pack FOX Electric dengan struktur heatsink aluminium yang mampu meredam panas, sekaligus pelindung benturan, getaran dan gesekan.

    Casing baterai juga telah bersertifikasi IP67, sehingga tahan terhadap air, banjir, serta kondisi lingkungan yang ekstrem. Termasuk sistem elektronik yang dilengkapi Battery Management System (BMS).

    Sistem ini dilengkapi serangkaian fitur proteksi: sensor temperatur, pemutusan arus otomatis saat terjadi overcharge atau over-discharge dan mekanisme cell balancing untuk menjaga keawetan baterai.

    Polytron turut menyoroti masih ditemukan motor listrik di pasaran yang memakai baterai rakitan tanpa perlindungan mekanik memadai, tidak tahan air dan minim sistem pendinginan.

    Produk-produk seperti ini berpotensi menimbulkan risiko kebakaran, terutama saat motor mengalami benturan, tertusuk benda tajam, atau terendam air (banjir).

    Simulasi Crush Test Pada Battery Pack Motor Listrik Polytron FOX Electric yang berbahan alumunium sehingga aman terhadap segala bentuk benturan.

    Melalui edukasi seperti ini, Polytron berharap konsumen semakin cerdas dalam menilai kualitas baterai dan menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama.

    Dalam bagian edukasi lainnya juga dijelaskan perbandingan baterai LFP dengan Graphene Lead Acid yang masih digunakan di beberapa kendaraan listrik, khususnya motor listrik.

    Namun Polytron menegaskan teknologi ini punya sejumlah kelemahan signifikan: waktu pengisian lebih lama, efisiensi rendah, bobot lebih berat, serta tingkat self-discharge tinggi.

    Sebaliknya, jenis LFP unggul dalam efisiensi energi, durabilitas, kemampuan fast charging, dan keamanan jangka panjang. Dari sisi keamanan maupun performa, LFP tetap menjadi pilihan terbaik untuk kendaraan listrik modern.

    Head of Design, Quality and Assurance EV Polytron, Josaphat Bagus Purnama menuturkan, komitmen perusahaan dalam menjaga keamanan baterai tak pernah menjadi area kompromi.

    “Kami memilih cell LFP bersertifikasi yang lolos pengujian paling ketat, termasuk nail penetration test, untuk memastikan ketahanan bahkan dalam skenario kecelakaan ekstrem,” ujarnya.

    Josaphat pun meyakini bahwa industri kendaraan listrik hanya bisa berkembang jika pengguna merasa aman dan percaya dengan teknologi yang diusungnya.

    Untuk itu, Polytron juga menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang aman, berkualitas dan dapat diandalkan oleh masyarakat Indonesia.

    Hal ini ditegaskan Hariono bahwa teknologi yang digunakan FOX Electric dirancang bukan hanya menghadirkan performa, tapi juga memberikan rasa aman bagi para pengguna dalam berbagai kondisi.

    “Polytron berharap konsumen semakin cerdas memahami perbedaan teknologi baterai dan menjadikan aspek keselamatan sebagai pertimbangan utama dalam memilih motor listrik,” pungkasnya. [dpid/TH]

  • Resiko Kebakaran, Pengguna EV Wajib Perhatkan Ini

    Resiko Kebakaran, Pengguna EV Wajib Perhatkan Ini

    DAPURPACU – Keselamatan berkendara menjadi perhatian seluruh pihak, tujuannya tidak lebih dari mengurangi resiko selama berkendara, khusus pada era mobil listrik berbasis listrik. Terkait keselamatan berkendara, Forum Wartawan Otomotif (Forwot) menggelar diskusi ‘Hak-hak Konsumen dan kelengkapan Keselamatan Berkendara, pada Rabu (16/08).

    Dengan menghadirkan nara sumber yang kompeten dibidangnya, yakni Joko Kusnantoro, PLt Kasubdit Uji Tipe Bermotor, Kementerian Perhubungan RI, Ahmad Wildan – Investigator Senior KNKT dan Ludiatmo – CCO PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk.

    Dalam pembahasan, setiap kendaraan harus dilengkapi perlengkapan keselamatan. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 74 tahun 2021, tentang Perlengkapan Keselamatan Kendaraan Selain Sepeda Motor. Dalam PM Perhubungan Nomor 74 Tahun 2021, aspek keselamatan yang harus disediakan pada kendaraan selain sepeda motor adalah sabuk keselamatan, ban cadangan, segitiga pengaman, dongkrak, pembuka roda, peralatan P3K, alat pemantul cahaya tambahan, fasilitas tanggap darurat, perisai kolong belakang, perisai kolong samping, dan helm & rompi pemantul cahaya bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak memiliki rumah-rumah.

    Dapat dikatakan, seluruh unsur dalam PM Perhubungan No 74 telah terpenuhi pada seluruh kendaraan. Termasuk alat pemadam api ringan, maupun alat pemecah kaca berupa martil sebagai peralatan tanggap darurat.
    Tetapi bagaimana dengan sistem keselamatan pada kendaraan elektrifikasi berbasis baterai. Dengan energi yang disimpan sangat besar, tentunya dapat menimbulkan kebakaran yang tinggi. Sayangnya, diperkirakan alat pemadam api ringan tidak dapat memadamkan api pada mobil listrik.

    “Dari indikasinya, kebakaran pada mobil listrik akan sulit dipadamkan, bahkan mungkin dengan direndam air pun belum dapat dipadamkan. Pemadaman dapat dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran untuk melokalisir api agar tidak menjalar ke tempat yang berbahaya. Saat ini, kami dari Kemenhub sedang membahas persoalan tersebut. Kami juga sedang melakukan kajian, metode apa yang tepat dalam mengatasi bila mobil listrik mengalami kebakaran.” Jawab Joko Kusnantoro, PLt Kasubdit Uji Tipe Bermotor, Kementerian Perhubungan RI.

    Joko Kusnantoro menambahkan, besarnya daya beli pada mobil listrik sehingga pihak kementerian Perhubungan sangat berkonsentrasi dalam mengatasi permasalahan tersebut. Menanggapi tentang resiko kebakaran pada kendaraan listrik, Ahmad Wildan – Investigator Senior KNKT mengatakan baterai lithium di EV memiliki kelemahan. Pada satu box ada ratusan sel baterai, jika salah satu ada yang mengalami mallfunction. Maka hanya dapat melakukan pengisian daya hingga 70 persen. Sedangkan sel yang lain dapat mencapai 100 persen, tapi sel baterai yang rusak hanya bisa 70 persen maka akan menimbulkan permasalahan.

    “Malfunction pada salah satu sel dapat menimbulkan memicu munculnya panas. Jika menjalar ke yang lainnya maka akan meledak. Keamanan yang paling utama di dalam baterai adalah Battery Management System (BMS).” Jelas Ahmad Wildan.
    Tentunya setiap pabrikan mobil listrik menggunakan Battery Management System (BMS) yang telah mengadopsi fitur demi memberikan rasa aman dalam berkendara. Terdapat kemampuan BMS yang hanya bisa mendeteksi kemampuan satu box. Tetapi juga ada yang bisa mendeteksi setiap sel dari ratusan sel dalam satu box.

    BMS yang tergolong lengkap akan langsung melakukan cut off atau pemutusan arus ecara otomatis ketika menemukan masalah. Sementara BMS yang sering mengalami permasalahan hingga terjadi kebakaran, model yang hanya mwmbaca satu box saja. Biasanya kerap ditemui pada baterai yang digunakan untuk sepeda motor listrik karena BMS tidak dapat membaca ketika terjadi malfunction.

    Dari sederet fitur keselamatan canggih yang ditawarkan pada mobil – mobil listrik modern, tentu akan demi menunjang rasa aman dan nyaman selama berkendara. Tetapi, demi meningkatkan rasa aman, fitur baterai harus diperhatikan.
    Pihak Kementerian Perhubungan RI telah melakukan tindakan preventif dengan melakukan pengujian pada baterai, baik dari elektrikal ataupun mekanikalnya. “Untul elektrikalnya seperti direndam dan sebagainya. Sedangkan dari mekanikalnya seperti mengetahui kondisi keamanan ketika saat pengisian daya.”

    Rencananya, Kementerian Perhubungan akan menambahkan regulasi untuk kendaraan listrik. Tujuannya tentu memberikan hak konsumen dalam perlengkapan keselamatan berkendara yang terkadang luput dari perhatian berbagai pihak.[dp/DB]