Pertaruhan Astra International Tak Cuma di Otomotif


JAKARTA (DP) – Nama PT Astra International Tbk. sangat kental dengan nuansa otomotif. Bahkan sektor otomotif selama ini menjadi mesin pertumbuhan perusahaan berkode saham ASII ini. Tapi seiring kian ketatnya persaingan, Astra harus melirik sektor lain demi menjaga kinerja.

Kita tahu bahwa belakangan ini semakin banyak model kendaraan baru yang memadati pasar otomotif Tanah Air, termasuk dengan kehadiran merek-merek asal China yang menawarkan harga terjangkau tapi dengan fitur lengkap. Tak pelak, kondisi itu mengikis pangsa pasar yang dikuasai Astra International, yang diwakili oleh Toyota Astra Motors (TAM), Astra Daihatsu Motor (ADM), Isuzu Astra Motor Indonesia, BMW Astra dan juga United Tractors yang memasarkan bus dan truk Scania serta alat berat.

Terkait dengan sektor otomotif, manajemen Astra memprediksi pertumbuhan permintaan kendaraan roda empat pada tahun ini tidak akan signifikan dari tahun lalu, yaitu di kisaran 2%. Dengan asumsi tersebut, ASII mematok target pangsa pasar sebesar 50%, dari 54% pada 2017.

Baca juga:  Selamat Jalan Gustom Muzlie, Sang Inspirator Wartawan Otomotif

Beralih ke sektor lain, ternyata komoditas ikut berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ASII. Pemulihan harga komoditas yang telah berlangsung sejak tahun lalu diyakini akan menjadi katalis positif bagi kinerja ASII sepanjang 2018.

“Perseroan akan memaksimalkan pendapatan pada entitas anak yang aktivitas usahanya terhubung langsung dengan harga komoditas,” kata Head of Investor Astra International, Tira Ardianti, di Jakarta awal pekan ini.

Tira mengatakan, beberapa entitas anak Astra International yang kinerjanya bergantung pada sektor komoditas membukukan pendapatan dan laba memuaskan pada tahun lalu.

“Kalau mau lihat kinerja Astra, bisa lihat harga komoditas. Misalnya kinerja United Tractors tahun lalu, sangat positif karena harga batu bara sudah di atas US$90 per ton, lalu kinerja Astra Agro Lestari juga tahun lalu positif, karena harga CPO meningkat,” papar dia.

Pada tahun ini, PT United Tractors Tbk menganggarkan belanja modal mencapai Rp12 triliun untuk dapat kembali berinvestasi dan menyalurkan alat-alat berat. Pada dua hingga tiga tahun sebelumnya, emiten dengan kode saham UNTR tersebut terpaksa memangkas investasi untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar.

Baca juga:  Inilah Pemenang 10th SATU Indonesia Awards 2019

Tahun ini, United Tractors akan menganggarkan belanja modal sebesar Rp12 triliun atau nyaris setengah dari capex konsolidasi 2018 yang sebesar Rp25 triliun. Perseroan akan meningkatkan investasi untuk menyejajarkan diri dengan banyaknya permintaan alat berat yang tahun ini diprediksi mencapai 4.200 unit.

Kendati demikian, ASII sebagai induk usaha, mendorong UNTR dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang bergerak di sektor perkebunan, untuk tidak bergantung sepenuhnya pada harga komoditas, yaitu dengan melakukan diversifikasi usaha. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, UNTR mulai melirik sektor lain seperti infrastruktur dan pertambangan emas.

Untuk Astra Agro Lestari, perseroan akan perlahan mengurangi porsi penjualan bahan mentah berupa CPO, dan akan memperbesar produksi dari produk-produk turunan CPO yang harganya lebih stabil di pasar.

“Berbahaya kalau Astra hanya bergantung pada harga komoditas. Pada 2012 hingga 2013, kinerja kami bagus, tapi 2014 sampai 2015 malah nyungsep karena harga komoditas turun. Ke depan harus ada upaya balancing,” ujar Tira. [dp/TGH]