Trump ‘Ganggu’ China, Mobil AS Siap-siap Jadi ‘Rongsokan’

SHANGHAI (DP) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menabuh genderang perang dagang melawan China, dengan menaikkan bea masuk untuk baja dan aluminium. Tapi China sudah menyiapkan balasannya.

Tak main-main, Negeri Tirai Bambu itu sudah membuat daftar produk AS yang terkena kenaikan bea masuk ke China, yang nilainya mencapai US$50 miliar (Rp697,5 triliun).

Bagaimana dengan sektor otomotif AS dengan adanya perang dagang ini? Untuk mobil AS yang diekspor ke China, seperti Ford, Lincoln dan juga termasuk merek Jerman, sepertinya tak terpengaruh. Hanya saja agak lama tertahan di pelabuhan di China akibat ketatnya pemeriksaan oleh pihak Bea dan Cukai setempat, demikian dilaporkan Reuters pekan ini.

Dampaknya terhadap mobil merek AS dan merek global sangat kecil, karena kebanyakan produk itu diproduksi di China, yang bermitra atau membentuk perusahaan patungan dengan perusahaan lokal.

Tapi yang justru paling ditakutkan oleh sejumlah pengamat terkait dengan tekanan yang diberikan Trump terhadap China adalah munculnya sentimen anti-Amerika di kalangan konsumen China. Sentimen itu bisa memicu aksi boikot terhadap produk AS, termasuk mobil.

Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Mungkin Trump tak pernah tahu bahwa merek mobil Korea Selatan sempat diboikot di China tahun lalu, sedangkan merek Jepang pernah mengalami hal serupa pada 2012 silam.

Pada Mei 2017, Korea Selatan berencana mengerahkan sistem pertahanan anti-rudal buatan Amerika, yang diyakini Beijing akan membahayakan keamanan nasional mereka.

Langkah Seoul itu langsung memantik ketegangan anti-Korea di seantero China. Akibatnya, penjualan mobil Hyundai rontok 31 persen, sedangkan Kia anjlok 45 persen.

Meski hubungan bilateral antara China dan Korea Selatan mulai membaik sejak akhir tahun lalu, tapi baik Hyundai maupun Kia belum berani memproduksi sesuai kapasitas terpasang. Tetapi dari sisi penjualan mulai terlihat pulih.

Kemudian pada September 2012, perselisihan teritorial antara China dan Jepang terkait saling klaim beberapa pulau kecil di Laut China Selatan, telah memicu protes anti-Jepang di seluruh pelosok Negeri Panda seraya menyerukan boikot produk Jepang di sejumlah kota di China.

Selama gelombang protes itu, banyak mobil Jepang dirusak dan sebuah dealer Toyota di kota  Qingdao dibakar. Penjualan mobil merek Jepang pun anjlok dan belum pulih hingga tiga tahun kemudian.

Mengaca pada aksi kontroversial Trump, sebenarnya antara China dan AS tak terlibat konflik teritorial. Tapi Trump menilai bahwa dalam hubungan dagang dengan Amerika, China dinilai sangat diuntungkan, sementara Amerika justru mencatat defisit perdagangan. Itulah yang kemudian mendorong Washington untuk memberikan tekanan terhadap Beijing.

Setelah mengusik soal tarif untuk impor baja dan aluminium pada Maret, Trump mengumumkan rencana untuk menaikkan tarif terhadap impor beragam produk China senilai hingga $60 miliar (Rp837 triliun).

Sebenarnya Beijing tak terlalu emosi menyikapi kebijakan Washington itu. Bahkan bulan lalu Beijing berjanji untuk memangkas tarif impor kendaraan dan menghapus pembatasan kepemilikan oleh asing untuk produk yang diproduksi oleh perusahaan patungan di China pada 2022.

Tak cuma itu, pemerintah China juga berjanji untuk terus membuka pasar keuangan domestik bagi investor asing dan memperbaiki perlindungan atas hak intelektual perusahaan-perusahaan multinasional.

Tapi Trump seperti menutup mata dan tetap menerapkan kebijakan perdagangan yang keras. China membukukan surplus perdagangan senilai $370 miliar dengan AS pada 2017, tuding Trump. Bulan lalu, Trump mendesak China memangkas surplus sebesar $100 miliar mulai Juni 2018 hingga Mei 2019.

Lebih parah lagi, pekan lalu Trump kembali mendesak China untuk menurunkan surplus perdagangan sebesar $100 miliar per tahun mulai Juni 2019.

Di sisi lain, Beijing masih mengupayakan untuk menyelesaikan perang dagang dengan AS melalui negosiasi. Tapi jika Trump terus memaksa Beijing mematuhi keinginannya, dikhawatirkan akan memukul balik Trump dan bisa memicu sentimen anti-Amerika, seperti yang pernah dialami Jepang dan Korea Selatan.

Jika itu sampai terjadi, ada kekhawatiran produk-produk Amerika akan diboikot konsumen China. Dan meski sejumlah besar merek mobil Amerika diproduksi di China, tapi jika sentimen anti-Amerika menggema di mana-mana, jangan-jangan mobil merek Chevrolet, Ford, Buick, Chrysler, atau Jeep hanya akan menjadi rongsokan karena tak laku dijual atau karena dirusak massa di jalan. Apalagi ZTE dan Huawei, perusahaan teknologi asal China, juga terancam sanksi AS untuk tidak lagi menggunakan teknologi AS karena dituding melakukan transaksi bisnis dengan Iran.

Trump harusnya sadar bahwa China adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia, menjadi pasar otomotif terbesar sejagat dan negeri dengan populasi terbesar di planet Bumi. Jika mereka sampai terusik kepentingannya, ditakutkan mereka akan mengerahkan kekuatan besar yang mereka miliki, baik secara ekonomi maupun militer. [dp/TGH]

Previous articleToyota C-HR Kemahalan? Bakal Segera Hadir Versi Murahnya
Next articleMudik Lebaran Aman dan Nyaman Ala Toyota