Mau Mudik? Bawa Barang Bawaan Seperlunya Saja

Ratusan kendaraan terjebak kemacetan di jalur keluar tol Jagorawi menuju kawasan Puncak Bogor di Ciawi, Bogor, Jabar, Rabu (1/1). Macet total di jalur tol sepanjang 3 km tersebut sebagai imbas dari penutupan jalur menuju puncak selama lebih dari 5 jam untuk memberi kesempatan pada pengendara dari arah puncak menuju Jakarta yang merayakan malam pergantian tahun. ANTARA FOTO/Jafkhairi/pd/13

JAKARTA (DP) – Tradisi mudik bisa berjalan mulus di dalam perjalanannya bila berbagai kondisi bisa dilakukan sebelum keberangkatan. Salah satunya yang paling vital adalah kendaraan. Selain pengecekan dini, ada beberapa faktor krusial yang diibutuhkan agar perjalanan aman dan nyaman.

Terkait barang bawaan, sebuah mobil, apapun jenisnya punya kapasitas dan bobot maksimal untuk mengangkut barang-barang dan kebutuhan Anda. Apa yang terjadi jika barang bawaan Anda melebihi kapasitas maksimal? Apalagi bila disini berbicara perjalanan jauh dengan kondisi kemacetan panjang yang dipastikan bakal ditemui kelak.

Rifat Sungkar sebagai pereli nasional sekaligus Direktur Utama Rifat Drive Labs coba memberikan beberapa tips mudik melalui kacamata pribadinya, yang tentu berkaitan dengan kapasitas dan bobot maksimal sebuah mobil.

Menurutnya, pemilik mobil pasti berpikir bahwa kemampuan kendaraan akan selalu siap untuk melakukan perjalanan luar kota. Sebab, mereka telah mengetahui bagaimana karakter mobilnya.

“Apalagi mobil tersebut baru berusia satu atau dua tahun. Akan tetapi perlu disadari, sifat perjalanan dalam kota dan luar kota saja sudah jauh berbeda. Jadi tidak bisa dipukul rata begitu saja,” ungkap Rifat.

Disini Rifat menitikberatkan pada barang bawaan saat mudik. Dengan maksud ingin membawa sesuatu kepada keluarga di kampung atau sebaliknya—membawa oleh-oleh dari kampung untuk rekan atau kerabat di Jakarta—kita tidak mengingat lagi akan standar kemampuan mobil yang kita gunakan.

“Suatu benda jika dibebankan secara berlebihan, maka perilaku dari benda tersebut akan berubah. Konsep inilah yang berlaku di mobil kita. Dalam hal ini, perilaku mobil ketika melakukan pengereman, saat bermanuver, ataupun berinteraksi. Semua berbeda karena akan menjadi lebih lambat dan limbung.”

Dalam perjalanan dan setelah melalui berbagai situasi dan kondisi jalanan, Anda baru akan menyadari jika karakter mobil Anda berbeda dengan yang biasa digunakan saat melakukan aktivitas sehari-hari.

Rifat menambahkan, “Inilah yang akan terjadi jika kita mudik dengan kapasitas bobot maksimal di kendaraan. Anda akan berpikir agility atau standar kelincahan dari mobil berbeda. Untuk bisa memaksimalkan segala unsur keselamatan dan menghindari bahaya-bahaya yang dapat terjadi, tentunya diperlukan persiapan.”

Pertama, Anda harus memastikan kondisi brake pad. Apalagi untuk mobil yang sudah berusia dua atau tiga tahun, karena biasanya kondisi brake pad sudah overheat dan mulai habis. Lalu perlu diperhatikan juga kampas remnya.

Selanjutnya adalah ban mobil. Ketika mobil Anda membawa beban yang berlebih, ban tidak akan bisa memberikan performa maksimal. Menurutnya, ban berisi angin dan memiliki tingkat elastisitas yang berbeda-beda.

Wajib diperhatikan tekanan anginnya sehingga dengan bobot yang maksimal, setidaknya akan mendekati performa terbaik dari ban tersebut dengan tekanan angin yang direkomendasikan.

“Jangan hanya memasukkan barang ke bagasi lalu tergantung bagaimana nanti di jalan. Tidak bisa begitu. Ban itu sangat menentukan unsur keselamatan karena pada akhirnya ban merupakan bagian terakhir yang bisa mengendalikan kendaraan. Baik itu bermanuver, berakselerasi, maupun mengerem,” seru Rifat.

Persiapan lain yang bisa Anda lakukan adalah terkait kesiapan diri Anda sebagai pengemudi. Anda harus memahami atau mengantisipasi beberapa standar. Seperti cara mengeluarkan dongkrak, di mana lokasi penyimpanan tongkat dongkrak, posisi jacking point (titik pendongkrakan), hingga cara menurunkan ban serep.

Karena itu Rifat berpesan untuk meluangkan waktu di rumah sebelum berangkat untuk mempelajarinya agar Anda dapat mengantisipasi jika sesuatu terjadi di perjalanan. Dengan barang bawaan yang banyak saat mudik, diyakini bakal banyak persoalan yang menyusul.

“Anda sudah harus berpikir bagaimana nanti ketika terpaksa harus ganti ban, kemudian barang yang banyak itu harus diletakkan di mana, Anda harus mengevakuasi penumpang ke mana, lalu permukaan jalan seperti apa yang aman untuk mendongkrak. Semua ini mungkin terasa malas dilakukan,” pungkasnya. [dp/MTH]