BEIJING (DP) – Memudarnya popularitas mobil kecil di China memberi dampak buruk pada kinerja Suzuki, yang memutuskan untuk menghentikan operasional di Negeri Tirai Bambu itu.
NHK World melaporkan bahwa Suzuki akan menghentikan produksi mobil di China dan akan lebih fokus ke pasar India, yang merupakan pasar penting bagi Suzuki secara global.
Langkah itu sejalan dengan pernyataan Suzuki belum lama ini, yang menyatakan akan memprioritaskan investasi di India sebagai pusat pertumbuhan bagi perusahaan berlogo S itu.
Untuk diketahui, India adalah pasar utama Suzuki di luar Jepang, dengan menguasai segmen B, yakni mobil berdimensi panjang di bawah 4 meter. Tapi di segmen A, Suzuki juga mendominasi.
Sedangkan di China, konsumen lebih menyukai mobil mewah dan berdimensi besar. Selain itu, yang menjadi hambatan bagi Suzuki dalam berbisnis di China adalah tekanan dari pemerintah negeri itu agar semua pabrikan menambah porsi untuk mobil ramah lingkungan, seperti hybrid, plug-in hybrid, fuel cell dan mobil listrik.
Suzuki dalam operasionalnya di China menggandeng dua perusahaan lokal untuk membentuk perusahaan patungan, yakni Changhe Suzuki Automobile Co. dan Changan Suzuki Automobile Co. Dan kabar terbaru menyebutkan bahwa Suzuki telah menghentikan kemitraan dengan Changhe Automobile.
Suzuki sendiri punya rencana besar di India. Hingga 2020, Suzuki berencana memasarkan 2 juta unit kendaraan per tahun. Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, Suzuki bersama anak perusahaan di India akan menambah jaringan dealer menjadi 4.000 gerai hingga akhir dekade ini.
Pada 2020, mobil listrik Maruti Suzuki EV, yang berbasis Maruti Wagon R, akan diluncurkan. Tak hanya itu, Suzuki juga telah menjalin kerja sama dengan Toyota untuk menjalankan program cross-branding di India, dengan beberapa model Suzuki akan menggunakan logo Toyota, sedangkan model Toyota Corolla akan berlogo Suzuki. [dp/TGH]





