Michelin Kembangkan Ban Baru Berbasis Kayu


PARIS (DP) – Aspek berkelanjutan juga menjadi semangat para pembuat ban kendaraan, seperti Michelin, yang tak lagi memanfaatkan minyak dalam proses produksi ban di masa mendatang.

Sebagai gantinya, produsen ban asal Perancis ini melirik bahan kayu untuk membuat ban. Menurut laporan Motoring.com.au, Michelin kini mengupayakan untuk mencari bahan pengganti dari minyak fosil, dan ditemukanlah bahan yang berbasis kayu.

Michelin memanfaatkan serpihan kayu untuk menggantikan peran elastomer yang berbasis minyak, yakni polimer dengan sifat elastis karet, pada ban. Untuk saat ini, 80 persen material pada ban berasal dari minyak.

Untuk ban ramah lingkungan ini, kabarnya Michelin baru akan memperkenalkan produk terbarunya ini pada 2020 mendatang.

Bagi Michelin, pemilihan bahan baku pembuatan ban dari kayu memiliki manfaat sendiri bagi perusahaan. Pasalnya, kayu dapat tumbuh di mana-mana, sedangkan minyak fosil semakin berkuran cadangannya di seluruh dunia. Terlebih, polimer berbasis kayu lebih ramah lingkungan dan memenuhi aspek berkelanjutan yang dicanangkan perusahaan.

Baca juga:  Kirab Obor Asian Games 2018 Bakal Dikawal 250 Vespa se-Jabodetabek

“Kami memiliki proyek yang memanfaatkan serpihan kayu. Kami akan menggunakan limbah kayu itu dari industri kayu untuk dibuat elastomer untuk produksi ban,” kata Cyrille Roget, worldwide director of scientific and innovation communication di Michelin. “Kami yakin ini merupakan solusi bagus untuk masa depan.”

Saat ini Michelin tengah melakukan penelitian di Brasil yang memiliki areal hutan yang sangat luas. Raksasa ban asal Negeri Anggur itu sedang mengembangkan model perkebunan memungkinkan tumbuhnya pisang dan kakao bersamaan dengan tanaman karet. Michelin juga tengah mengamati proses cetak ban tiga dimensi, yang diprediksi bakal bergulir di jalan raya pada 10 hingga 15 tahun mendatang.

“Kami tengah mengembangkan teknologi cetak 3D untuk ban, atau cetak polimer,” imbuh Roget. “Tapi teknologi ini masih dalam tahap awal, dan diperlukan industrialisasi sehingga siap memasuki era mendatang.”

Kita belum tahu kapan ban ramah lingkungan itu mulai menggelinding. Yang jelas, ban-ban berteknologi anyar itu harus memiliki performa yang sama dengan ban yang ada sekarang, atau bahkan bisa lebih baik, dan di saat yang sama baik bagi lingkungan. [dp/TGH]