Vale Indonesia Siap Pasok Bahan Baku Baterai Mobil Listrik


JAKARTA (DP) – Industri mobil listrik di Indonesia sejauh masih sebatas wacana, namun demikian PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berambisi menjadi pemasok bahan baku baterai mobil listrik.

Selain potensi pasar, Vale Indonesia juga meyakini nickel matte yang selama ini diproduksi sesuai untuk kebutuhan bahan baku pembuatan baterai mobil listrik. Nickel matte adalah nikel sulfida yang diproduksi dari hasil peleburan di smelter.

“Nantinya saat permintaan lebih tinggi, akan berdampak positif juga untuk perusahaan,” kata Senior Manager of Communications PT Vale Indonesia Tbk, Budi Handoko, di Jakarta, Kamis (19/7/2018).

Sepanjang tahun ini, Vale Indonesia menargetkan produksi sebanyak 77.000 ton nickel matte. Target produksi itu belum penuh kalau dibandingkan dengan kemampuan produksi, sebab smelter perusahaan tersebut sejatinya memiliki total kapasitas produksi terpasang sekitar 77.000 hingga 80.000 ton nickel matte per tahun.

Total kapasitas produksi smelter Vale Indonesia masih mungkin akan bertambah lebih besar lagi. Harapan mereka pada 2022 adalah memiliki smelter atau fasilitas pengolahan dan pemurnian konsentrat berkapasitas 90.000 ton nickel matte setiap tahun.

Baca juga:  Lihat! Baterai Bekas Nissan Leaf Bisa Menerangi Johan Cruijff Arena

Dalam rangka mengejar target empat tahun ke depan, manajemen Vale Indonesia akan melanjutkan proyek smelter di Bahodopi, Sulawesi Tengah, dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Tak sendiri, perusahaan ini berniat menggandeng investor strategis untuk pengembangan kedua smelter tersebut.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan pada 2035, kendaraan roda empat dengan energi terbarukan dan ramah lingkungan alias biofuel sudah diproduksi di Tanah Air.

“Untuk mencapai target tersebut, masih ada sejumlah tahapan yang harus dilewati, yaitu mobil hybrid, plug in hybrid dan mobil listrik,” kata Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kemenperin, Putu Juli Ardika.

Sejumlah pemerintahan, bukan hanya Indonesia tetapi juga negara lain, telah mengarahkan penggunaan energi terbarukan untuk kendaraan. Hal ini mengingat cadangan energi fosil terus mengalami penurunan.

“Dalam roadmap ini, banyak hal dikembangkan tapi yang menjadi concern yaitu energy security, penghematan atas energi fosil. Karena di Indonesia itu, 12 tahun lagi cadanan energi fosil diperkirakan akan habis,” papar Putu.

Baca juga:  Menyambut Everus, Si Honda HR-V Berteknologi Listrik

Indonesia, lanjut Putu, memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah sebagai bahan bakar kendaraan, seperti minyak sawit (CPO) dan etanol dari tebu. Bahkan, sumber energi ini bisa tersedia hingga kiamat.

‎”Tetapi kita punya sumber yang sustainable, yang sampai kiamat masih ada, yaitu biofuel. Yang terkait dengan karbon untuk energi ini berlimpah, yaitu dari CPO jadi biodiesel, kita juga punya biomass yang jadi etanol,” ujarnya. [dp/TGH]