Balap di Kelas Senior di X30 Asia Tenggara, Prassetyo Hardja Raih Podium Pertama


JAKARTA (DP) – Pegokar muda Tanah Air yang berlaga di ajang internasional, Prassetyo Hardja, berhasil menjuarai kelas senior di ajang X30 Asia Tenggara 2018 putaran kelima yang digelar di Sirkuit Internasional Shah Alam (ISH), Malaysia pada Sabtu dan Minggu (28-29/7) akhir pekan kemarin.

Prass yang pernah berhasil menduduki peringkat 13 besar dari puluhan pegokar yang tampil pada ajang IAME International Final pada 2017 yang berlangsung di Le Mans, Perancis, tiba di Malaysia sejak Kamis langsung melakukan persiapan di sirkuit ISH.

Bersama dengan tim mekanik, pemuda berusia 17 tahun ini menjalani sesi latihan bebas. Hasil yang belum maksimal di sesi latihan bebas membuat Prass lebih bersemangat untuk melakukan pengaturan pada gokar berkapasitas 125 cc yang digunakannya.

Saat sesi latihan resmi dimulai, Prass mengaku sudah mendapatkan pengaturan gokar yang tepat. Hasilnya, Prass mampu menduduki posisi pertama di sesi latihan resmi. Selanjutnya, Prass menjalani babak kualifikasi. Lagi-lagi, tak banyak kesulitan yang dihadapi ia kembali menempati posisi pertama.

Baca juga:  Begini Cara Mitsubishi 'Awasi' Pemilik Xpander

Perlombaan di hari Sabtu terdiri dari Heat 1 dan Heat 2. Prass tiba di sirkuit dengan percaya diri mengingat hasil baik yang didapat di sesi latihan resmi dan kualifikasi. Benar saja, Prass berhasil menjadi yang terdepan di kedua heat tersebut. Bahkan selisih waktu dengan rivalnya Amer Haris Jefry asal Malaysia cenderung jauh.

“Di hari pertama perolehan waktu saya memuaskan. Terutama saat menjalani heat 1, saya bisa menyelesaikan lomba dalam waktu 11 menit 4,070 detik atau lebih cepat tiga detik dari rival saya,” ungkap Prass.

Memasuki hari kedua, Prass semakin siap menghadapi babak Pre-Final dan Final. Kali ini dengan pebalap rival-rivalnya seperti Alex Brown asal Filipina dan Dick Yu dari Hongkong yang lebih meyakinkan dari hari sebelumnya. Baik Alex dan Dick sama-sama memberikan perlawanan lebih intens yang justru membuat Prass juga semakin berkonsentrasi.

Baca juga:  Para Modifikator Lokal Makin Mendapatkan 'Wadahnya'

Karakter aspal di Sirkuit Shah Alam yang cenderung tidak grip membuat Prass tampil lebih hati-hati, karena kesalahan kecil yang dilakukannya bisa menyebabkan lawan-lawan dapat dengan mudah menyusul. “Sirkuit di sini kurang grip, jadi saya tidak boleh agresif. Harus lebih hati-hati dalam menikung.”

Ritme permainan dan kontrol yang baik pada akhirnya membuat Prass dapat mengalahkan rival-rivalnya. Meski sempat terjadi usaha susul menyusul dan catatan waktu yang sangat tipis antar para pegokar, namun kedisiplinan Prass bermain di racing line-nya membuat siswa SMA Kesatuan Bogor ini mampu mengibarkan bendera merah putih di akhir perlombaan.

Rasa puas Prass tak berhenti sampai di situ. Prass yang juga turun di kelas Super Shifter 175 cc, mampu menempati podium kedua. Ia mengaku jika di kelas Super Shifter ini, tenaga yang dikeluarkan jauh lebih besar ketimbang kelas Senior. “Di kelas Super Shifter ini, power yang dikeluarkan gokarnya lebih besar jadi tenaga juga lebih terkuras. Ditambah lagi para rival di kelas ini lebih berpengalaman, jadi saya pun juga harus lebih siap.”

Baca juga:  BYD Siap Banjiri Jalan Raya Thailand dengan Mobil Listrik

“Namun saya senang karena pada akhirnya bisa berdiri di atas dua podium berbeda dan kemenangan ini kembali saya persembahkan untuk anak-anak muda di Indonesia,” pungkas Prass. [dp]