Hino Siap ‘Minum’ Biodiesel 20%

Penjualan New Dutro mencapai angka tertinggi sepanjang Oktober 2018.

JAKARTA (DP) – PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) berkomitmen untuk terus mengembangkan produk sesuai dengan kebutuhan pasar dan regulasi yang berlaku dari Pemerintah. Alih-alih mewujudkan kendaraan yang ramah lingkungan, Hino mengimplementasikannya ke dalam mesin yang rendah emisi.

Berbagai upaya pun dilakukan guna mewujudkan hal itu, salah satunya dengan mengubah spesifikasi bahan bakar sesuai yang beredar di pasar, mulai dari B10, lanjut ke B15, hingga mengimplementasikan B20 atau perpaduan 20% minyak nabati dengan 80% solar.

Hal ini dilakukan untuk menjawab kebijakan pemerintah yang telah merampungkan program mandatori B20 secara keseluruhan terkait perluasan insentif biodiesel dari PSO (Public Service Obligation) ke non-PSO, yang mulai berlaku pada 1 September lalu, baik itu untuk bahan bakar Biosolar, Dexlite maupun Dex.

Terkait dengan implementasi tersebut, Hino meminta kepada pelanggan untuk tidak perlu khawatir akan jaminan perawatan dan suku cadang kendaraannya. Sebab, Hino telah mempersiapkan semua komponen pendukung untuk aftersales-nya.

Baca juga:  Daihatsu Berikan Edukasi Pada 'Sahabat Klub'

Santiko Wardoyo, Direktur Penjualan dan Promosi HMSI, mengaku seluruh produk Hino telah siap disusupkan bahan bakar B20 sejak awal kebijakan ini dikumandangkan oleh pemerintah.

“Karena, truk Hino yang produksi selalu dilakukan pengembangan dan penyesuaian mengikuti kondisi yang ada di Indonesia. Untuk itu, bagi customer setia Hino tidak perlu khawatir, karena Hino telah lulus uji dan siap menggunakan bahan bakar biodiesel 20% atau B20,” kata Santiko.

Dirinya menuturkan bahwa sejak tiga tahun lalu, Hino telah melakukan pengujian mesin berteknologi common rail dengan metode uji engine bench test. Pengujian dilakukan di Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP-BPPT) selama 400 jam dengan beban penuh pada putaran mesin maksimum yaitu 2.500 rpm selama 8 jam/hari.

Metode pengujian tersebut disarankan oleh prinsipal Hino Motors, Ltd di Jepang, dengan memaksa mesin melakukan performa maksimal jika dibandingkan dengan road test, atau kondisi pemakaian aktual di jalan. Hasilnya tidak ada yang membahayakan dalam pengujian itu.

Baca juga:  Begini Cara Bikin Sopir Bus Taat Aturan Main di Jalan

Pengujian ini menemukan ada penyumbatan filter bahan bakar yang diakibatkan oleh gliserol dan selulosa, hasil blending bahan bakar kelapa sawit dan solar. Namun dengan kontrol dan perawatan yang benar akan dapat mencegah penyumbatan filter.

Hasilnya mesin Hino lulus uji menggunakan bahan bakar B20. Secara otomatis membuktikan bahwa penggunaan biodiesel B20 tidak akan berpengaruh terhadap mesin berteknologi mekanikal.

Hasil pengujian tersebut juga sudah dilaporkan ke Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM sebagai salah satu bentuk komitmen Hino dalam mendukung kebijakan pemerintah.

“Kami juga menghimbau kepada pemerintah untuk menyempurnakan proses pencampuran solar dan FAME agar meminimalisir efek samping yang ditimbulkan bagi kendaraan,” pungkas Santiko. [dp/MTH]