Suksesnya Pereli Tanah Air di Ajang Reli Malaysia

Tiga pereli nasional berhasil meraih podium utama ajang Tri-Nations Sprint Rally 2018, yang digelar di Tanamera, Selangor, Malaysia.

JAKARTA (DP) – Putra bangsa terbaik kembali mempersembahkan hasil positif untuk Indonesia di ajang balap internasional. Kali ini prestasi tersebut datang dari ajang Tri-Nations Sprint Rally 2018, yang digelar di Tanamera, Selangor, Malaysia, akhir September lalu.

Mereka adalah Rachmat dengan navigator Donny Wardono, H. Putra Rizky bersama Rizky Fauzi, serta Ahmad Taufiq Harahap dan navigator Tri Arjuna.

Rachmat berhasil mengukuhkan diri sebagai juara umum usai melibas total 6 special stages (SS) berjarak keseluruhan 29,34 km dengan total catatan waktu 29 menit 12 detik. Lalu Putra di posisi kedua dengan waktu 33 menit 7 detik. Adapun Ahmad menduduki posisi ketiga dengan 33 menit 23 detik.

“Rally di Malaysia punya sejarah yang sangat baik. Keberhasilan Rachmat, Putra, dan Ahmad diharapkan dapat terus menjadi titik cerah untuk kemajuan kerja sama antara kancah rally Indonesia dengan di Malaysia,” ungkap Ketua Komisi Rally IMI Pusat, Rifat Sungkar.

Dirinya berharap agar ketiganya terus konsiten menggali lebih dalam potensi diri agar ke depannya bisa terus memberikan yang terbaik bagi kemajuan rally di Indonesia.

Harapan lain pun datang dari Rifat agar kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia—secara khusus dalam kancah rally—dapat terus berkembang mengingat kedua negara memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

“Saya rasa kolaborasi dan keserasian antara Indonesia-Malaysia dalam hal balapan rally harus terus dirajut. Indonesia punya sangat banyak mobil, punya banyak pereli-pereli berpotensi, namun minim kejuaraan. Sedangkan Malaysia banyak sekali kejuaraan, banyak sekali fasilitas yang dapat digunakan, namun pebalapnya tidak sebanyak di Indonesia.”

Rifat mengaku bahwa peluang bagi pereli-pereli yang ingin berlaga di Malaysia sangat besar, karena dai segi biaya dari keikutsertaan rally di sana masih lebih terjangkau, dibandingkan di Indonesia.

Hal ini disebabkan Malaysia memiliki keuntungan logistik, berada di satu pulau yang sama sehingga perpindahan kendaraan tidak menyulitkan.

Fasilitas Carnet de Passage en Douane (CPD) yang dikeluarkan oleh IMI sudah seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, karena sangat memudahkan pereli Indonesia untuk menggunakan mobilnya sendiri ketika bertanding di ajang internasional.

“Dengan menggunakan fasilitas ini, pereli kita diizinkan mengikuti balap dengan menggunakan mobil sendiri, berpindah negara, dan kembali ke negara asal dengan jaminan dari IMI,” tutup Rifat.

Dengan biaya Carnet yang diklaim terjangkau, Rifat bakal terus mendorong para pereli Indonesia untuk mau berkompetisi di negara tetangga. Karena ini merupakan suatu langkah yang baik untuk bisa mendapatkan pengalaman akan suasana balap yang seru dan kompetitif. [dp/MTH]