Indonesia Kian Dekat dengan Mobil Listrik, Ini Perkembangannya


JAKARTA (DP) – Indonesia tak lama lagi akan mengikuti negara-negara lain di dunia yang menerapkan regulasi yang mengatur tentang mobil listrik dan mobil ramah lingkungan lainnya. Yang menjadi pertanyaan, apakah insentif pajak dari pemerintah akan membuat harga mobil listrik menjadi lebih terjangkau?    

Peraturan Presiden (Perpres) terkait mobil listrik diharapkan terbit akhir tahun ini dan pelaku industri serta perguruan tinggi tengah melakukan studi soal pengembangan kendaraan tersebut.

“Saat ini Perpres tersebut tengah dalam tahap harmonisasi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Hari ini roadmapnya sedang kita dorong di peraturan pemerintah atau Perpres terkait dengan fasilitas,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai acara Electrified Vehicle Comprehensive Research dan Study di Jakarta, Selasa (6/11).

Airlangga mengatakan, insentif yang diberikan untuk program mobil listrik berupa keringanan Pajak Pertambahan Nilai atas Barang Mewah (PPNBM).

“Terutama dengan fasilitas fiskal, di mana fasilitas fiskal ini dibahas bersama dengan superdedictable tax untuk vokasi dan inovasi. Jadi di situ ada terkait dengan PPNBM, terkait dengan roadmap daripada mobil, termasuk sedan dan termasuk electric vehicles),” papar dia.

Baca juga:  Mitsubishi Motors Tampilkan SUV Listrik di Tokyo Motor Show 2019

Meski studi terkait pengembangan mobil listrik ini masih terus dilakukan, namun Airlangga menyatakan terbitnya Perpres tersebut tidak akan menunggu selesainya studi.

‎”Perpres tahun ini, tidak usah menunggu studi,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Airlangga menjelaskan penggunaan mobil listrik mampu menghemat energi hingga 80% dibandingkan mobil berbahan bakar minyak (BBM).

“Jika dibandingkan dengan kendaraan hybrid yang mengkombinasikan BBM dan listrik, ada penghematan energi hingga 50%. Berdasarkan hasil studi, sudah pasti electric vehicles dengan internal combustion engine (BBM) akan lebih hemat,” katanya usai acara Final Report Electrivied Vehicle Comprehensive Research dan Study di Jakarta, Selasa (6/11).

Sementara untuk yang kendaraan dengan mesin plug-in hybrid, energi bisa dihemat hingga 80%. Hal ini memberikan dampak signifikan terhadap penghematan BBM.

“Lalu yang plug-in hybrid itu hampir 75% sampai 80%,” papar Airlangga.

Jika dibandingkan dengan penggunaan pencampuran CPO ke solar sebanyak 20% atau B20, lanjut Airlangga, maka penghematan penggunaan BBM akan lebih besar lagi. Bahkan dua kali lebih hemat dari penghematan BBM yang diklaim mencapai 6 juta kilo liter (KL).

Baca juga:  Honda e Resmi Dijual Mulai Musim Panas 2020

“Artinya, kalau B20 saja sudah bisa hemat sekitar 6 juta KL, maka dengan hybrid atau plug-in hybrid akan ada dua kali penghematan,” tuturnya. [dp/TGH]