Hyundai Kian ‘Loyo’, Ada Apa dengan ‘Si Raja Ginseng’? (Part 1)


CHONGQING (DP) – Hyundai adalah salah satu ikon industri raksasa Korea Selatan yang mendunia. Di industri otomotif, Hyundai juga menjadi rival paling diperhitungkan oleh sejumlah pabrikan mobil Jepang. Tapi sang raja dari Negeri Ginseng itu terlihat mulai loyo, terutama di pasar China.

Di sejumlah dealer Hyundai Motor di Negeri Tirai Bambu kini mulai sepi pembeli, seperti yang dialami dealer Hyundai di kota besar Chongqing. Manajer dealer di sana mengeluhkan kurangnya model crossover Hyundai yang berukuran besar dan berharga terjangkau.

Bahkan meski diiming-imingi diskon harga hingga 25 persen, tetap saja dealer tersebut hanya mampu melego sekitar 100-an unit mobil sebulan, kata manajer yang dipanggil dengan nama Li itu. Padahal di dealer Nissan yang lokasinya tak jauh dari dealer Hyundai, terjual sekitar 400 unit kendaraan per bulan, keluh sang manajer.

Ironisnya, berjarak sekitar satu jam perjalanan dengan mobil dari dealer Hyundai di Chongqing, berdiri pabrik besar milik Hyundai yang baru dioperasikan tahun lalu dengan investasi $1 miliar. Pabrik tersebut menetapkan target produksi 300.000 unit per tahun. Tapi dengan lesunya penjualan seiring dengan melambatnya pasar otomotif di China, pabrik tersebut hanya mengoperasikan sekitar 30 persen dari kapasitas terpasang.

Baca juga:  Rusia Gagal ke Semifinal, Penjualan Mobil Juga Loyo

Hyundai sendiri menolak menanggapi soal pabrik di Chongqing dan kondisi dealer yang sepi di kota itu. Begitu juga dengan BAIC, mitra lokal Hyundai di China, yang juga menolak berkomentar.

Bagi Hyundai, situasi saat ini menjadi semacam titik balik dari sukses mereka ketika masuk ke Negeri Kung Fu itu, yang dengan cepat mampu menggaet banyak konsumen. Pada 2009, Hyundai bersama Kia berhasil menapak ke posisi ketiga dari sisi penjualan di China, di belakang General Motors dan Volkswagen. namun saat ini, duo Korea itu berada di posisi ke-9 dan pangsa pasarnya di China tergerus hingga menjadi 4 persen pada 2017 lalu, dari sekitar 10 persen pada awal dasawarsa ini.

Para pengamat industri otomotif menyebut Hyundai telah terkikis pangsa pasarnya di segmen low-end oleh sejumlah rival lokal, seperti Geely dan BYD.

Sedangkan para rival di luar China, tak hanya mempertahankan kartu truf mereka di segmen premium, tapi juga menjaga harga yang kompetitif untuk model-model mass-market, sehingga mengganggu posisi Hyundai sebagai merek asing berharga terjangkau, kata sejumlah pengamat yang dikutip Reuters.

Baca juga:  Kejutan Nakagami, Marquez 'Melempem' di Jerez

Di Amerika Serikat, pangsa pasar Hyundai juga turun menjadi 4 persen tahun lalu, yang mendekati level terendah dalam sedasawarsa. Lantas, apa yang terjadi dengan Hyundai?

Hyundai menghadapi problem besar baik di China dan AS dengan alasan yang mirip: yakni mereka gagal memenuhi selera pasar, terutama mengantisipasi melonjaknya permintaan untuk model crossover. Selain itu, mereka mematok harga tinggi yang tak sesuai dengan citra brand sebagai mobil berharga terjangkau.

Namun Hyundai berkilah bahwa mereka telah mengatasi masalah itu di AS dan China, yakni dengan melakukan ubahan desain, meluncurkan beberapa model crossover baru dan memberikan kewenangan kepada divisi regional untuk mengembangkan produk yang sesuai dengan selera setempat. [dp/TGH]