Hyundai Kian ‘Loyo’, Ada Apa dengan ‘Si Raja Ginseng’? (Part 2)


CHONGQING (DP) – Jika Hyundai menyebut bahwa mereka telah mengatasi masalah yang membuat penjualan di AS dan China lesu, tapi apakah semua itu sudah cukup untuk kembali menjadi merek otomotif ‘pengganggu’ hegemoni Jepang dan Eropa?

Sejumlah rival dari Jepang, misalnya Honda yang telah lama menjadi role model bagi Hyundai, juga telah berjuang untuk dapat beradaptasi dengan meningkatnya tantangan di industri otomotif global, termasuk untuk segmen mobil otonom dan mobil listrik.

Bulan lalu, Hyundai mencatat penurunan laba bersih 68 persen pada kuartal III dan melaporkan marjin operasi turun 2,7 persen pada periode Januari-September. Pada 2011, marjin operasi Hyundai sebesar 10,3 persen, merupakan yang tertinggi di industri otomotif setelah BMW. Minimnya model crossover dan SUV di sejumlah pasar penting, juga menjadi penghalang laju Hyundai.

Tahun lalu, SUV dan crossover menyumbang hanya 36 persen dari penjualan Hyundai di AS, dibandingkan dengan GM yang sebesar 76 persen dan rata-rata industri sebesar 63 persen, menurut data perusahaan riset pasar, Autodata Corp.

Baca juga:  Jangan Salah, Ini Bukan Jeep Wrangler Lho!

“Salah satu dari tantangan yang kami hadapi sekarang, dan itu sepertinya masih akan berlanjut, adalah bahwa manajemen di kantor pusat masih memikirkan sedan,” kata Ed Kim, seorang manajer produk Hyundai di AS pada 2004-2008 yang kini menjadi vice president di perusahaan konsultan otomotif Auto Pacific.

Sementara COO Hyundai Amerika, Brian Smith, mengakui bahwa pabrikan asal Korea ini sedikit lengah dengan cepatnya perubahan pasar yang kini menyukai kendaraan besar.

Tapi dengan adanya beberapa model SUV dan crossover yang direncanakan Hyundai, termasuk pickup bongsor pada 2020, diharapkan dapat memulihkan kinerja penjualan, kata Smith.

Apalagi Hyundai dalam beberapa tahun terakhir telah merekrut sejumlah desainer baru untuk menyegarkan desain beberapa model generasi terbaru.

Salah desain

Hyundai telah membuat kesalahan fatal terkait desain untuk sedan flagship Sonata pada empat tahun lalu ketika pabrikan itu memutuskan melakukan ubahan sejumlah aspek desain, seperti sporty dan tarikan garis yang melandai. Ubahan desain pada Sonata itu turut memicu penurunan penjualan, kata beberapa mantan eksekutif Hyundai.

Baca juga:  Demi Menangi Persaingan Global, Ini yang Dilakukan Toyota Indonesia

Pada 2007, harga Sonata 10 persen lebih murah dari Toyota Camry, tapi mulai 2014 seiring lahirnya Sonata baru, harganya menjadi lebih mahal dari sedan andalan Toyota itu. Hyundai, yang menjual hampir 200.000 unit Sonata di AS pada 2010, hanya melego 131.803 unit pada tahun lalu.

Sementara di Chongqing secara khusus dan China pada umumnya, kehadiran crossover baru Hyundai bernama Encino, yang berbasis pada Kona, ternyata kurang dilirik konsumen.

Beberapa pabrikan mobil global memang mengambil pendekatan khusus untuk pasar China, seperti menambah lega kabin, memperpanjang wheelbase, atau menambah kemewahan di kabin belakang untuk memanjakan penumpang. Dan cara seperti ini belum dilakukan Hyundai.

“Kami tidak menjual Encino. Model ini tidak cocok dengan pasar China,” kata store manager Hyundai bernama Liu di Chongqing. “Kebanyakan konsumen China menyukai mobil lebih besar, lebih murah dan lebih cantik.”

Baca juga:  Hyundai Kona Bakal Gegerkan IIMS 2019

Hyundai mematok target produksi Encino sebanyak 60.000 unit per tahun. Tapi hanya sekitar 6.000 unit Encino yang dibeli selama periode enam bulan sejak diluncurkan pada April lalu.

Beberapa langkah telah dilakukan Hyundai untuk mengatasi masalah itu, seperti vice president Koo Zayong yang mendesak dipersingkatnya waktu pengembangan untuk model-model baru di China, di mana tren pasar begitu cepat, seiring dengan tumbuhnya pembeli muda.

Hyundai bahkan telah membentuk divisi khusus untuk memperbaiki produk di China pada Agustus, dan mengganti kepala operasional di China pada Juli.

Namun, pertumbuhan ekonomi China yang kemungkinan tidak terlalu cepat, ditambah lagi dengan kian ketatnya persaingan, segala upaya itu sepertinya belum akan mengobati masalah dalam waktu singkat. [dp/TGH]