BLITS, Tantangan Mobil Balap Masa Depan Dari ITS dan UBL

'PLN BLITS Explore Indonesia' bakal menempuh jarak 15.000 km.

JAKARTA (DP) – Mobil listrik yang ‘diperuntukkan’ untuk balap reli Dakar, BLITS, dapat dikatakan punya ambisi tersendiri baik dari Universitas Budi Luhur (UBL) maupun Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Bagaimana tidak, bukan merupakan produk komersial layaknya Gesits, BLITS diklaim menjadi salah satu purwarupa terbaik yang diciptakan oleh dua akademisi berbeda di Tanah Air tersebut.

Kasih Hanggoro, MBA, Ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, menuturkan bila sebuah akademisi bisa melahirkan suatu produk lalu dirancang untuk sampai ke tangan konsumen, dapat dikatakan suatu negara itu adalah negara maju.

“Itu filosofinya, negara maju tentunya diisi oleh orang-orang terutama generasi muda yang punya pemikiran maju dalam mengembangkan sesuatu, dimana dalam hal ini yaitu BLITS,” ujar Hanggoro, disela-sela kick-off pelepasan ekspedisi ‘PLN BLITS Explore Indonesia’, di kampus UBL, Jakarta, Senin (12/11).

Dosen pembimbing dan ketua tim mobil listrik BLITS, Muhammad Nur Yuniarto.

Pria yang akrab disapa Pak Aang ini menuturkan asal muasal munculnya mobil listrik ini, yang berawal dari kunjungan tim UBL ke ITS beberapa tahun sebelumnya. Saat itu dirinya dan tim belum membicarakan rencana apapun untuk merancang mobil tersebut.

Baca juga:  New Terra, Pertaruhan Akhir Nissan di Kelas SUV Medium

Pihak UBL meminta kepada ITS agar bisa menjalin kerja sama dengan melihat apa yang tengah mereka lakukan saat ini, terutama dengan rancangan mobil nasional (mobnas).

“Karena mereka (ITS) telah ditunjuk oleh pemerintah sebagai central-nya untuk riset kendaraan listrik. Dan kita kesana melihat bagaimana riset serta prosesnya, dimana kala itu Gesits masih di sana dan belum keluar,” kata Hanggoro lebih lanjut.

“Kok tiba-tiba muncul omongan BLITS, padahal awalnya kita di sana cuma obrolin soal balap Dakar saja, sebab saya pernah ikut balap tersebut dua kali yaitu tahun 2010 dan 2011”.

Bermula dari inilah tantangan itu muncul. Ide membuat mobil listrik khusus untuk ajang reli terganas di dunia itu keluar dari mulut mereka, yang membuat pihak UBL merasa tertantang untuk mengammininya.

“Mereka menantang kalau bisa bikin mobil bermesin ‘murni’ listrik untuk spek balap Dakar, dan kita awalnya gak yakin,” lanjut Hanggoro.

Baca juga:  H+5 Lebaran, Konsumsi Pertamax Melonjak Hampir 50%

Sebab, menurutnya, untuk membuat mobil listrik itu biasa, tapi merancang mobil yang bisa diterjunkan dengan spesifikasi balapan di ajang itu, dirinya berkeyakinan tidak sembarangan orang bisa merealisasikannya.

Dan BLITS lah jawabannya. Beruntung, ditengah jalan PLN pun mau bergabung untuk mendukung ekspedisi tersebut, dan mereka pun melempar ide untuk mengujinya terlebih dulu keliling Indonesia sebelum nantinya beraksi di reli Dakar.

“Keterlibatan PLN ini adalah menyediakan asupan tenaga listrik untuk pengisian ulang baterai BLITS di tiap Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang PLN miliki di sepanjang rute yang dilewati,” tutur Hanggoro.

“Kita akan monitor terus bersama ITS untuk ekspedisi itu. Setiap kerusakan kita data, jadi memang kita cari rusaknya sebagai bagian dari rencana ke Dakar. Memang gak mudah,” pungkasnya. [dp/MTH]