‘Bos Milenial’ ASCO Siap Mengarungi Dunia Otomotif di Era Digital


JAKARTA (DP) – Ditemani kopi panas dan air mineral, suasana hangat dan akrab tercipta dalam obrolan santai bersama Alvina Atmadja di tengah dinginnya cuaca akibat guyuran hujan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Tak terlihat gemerlap dan aura glamor di ruang kerja wanita muda yang memimpin PT ASCO Dwi Mobilindo ini, dealer resmi beberapa merek di bawah payung Astra International, yaitu Daihatsu, Isuzu, Peugeot dan UD Trucks.

Padahal, Alvina adalah ‘bos besar’ di ASCO mewarisi kepemimpinan dari sang ayah, Stanley Atmadja, yang notabene adalah pendiri Atmadja Stanley Corporation (ASCO). Hebatnya, tak hanya ASCO Automotive, Alvina juga memegang kendali ASCO Capital, yakni holding dari emporium bisnis Stanley.

Alvina tetaplah Alvina, sosok yang memiliki jiwa petualang dan boleh dibilang sebagai cerminan kaum milenial yang lebih mendambakan hal-hal praktis, simpel namun tetap dinamis. Untuk itu, ia mengaku merasa nyaman tampil ‘apa adanya’ tanpa dipenuhi beragam aksesoris ‘wah’.

Begitu juga ketika berbicara soal strategi bisnis ASCO Automotive, lulusan University of Melbourne bidang pemasaran dan ekonomi ini juga tak terlalu berapi-api. Tapi yang jelas, penyuka masakan Nusantara ini punya semangat besar untuk membawa ASCO Automotive mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Menanggapi perubahan tren jual beli kendaraan bermotor yang kini sudah banyak memanfaatkan teknologi digital, terutama dengan bermunculannya marketplace untuk mempertemukan antara penjual dan pembeli di dunia maya, Alvina menegaskan bahwa ASCO sudah menuju ke arah yang sama.

“Di 2019, kami akan melakukan transformasi untuk menyesuaikan dengan budaya bisnis era digital. Kita tahu konsumen di era digital ingin serba cepat, simpel dan instan. Mereka tidak mau lagi bermacet-macet datang ke dealer untuk melihat-lihat dan membeli mobil,” ujarnya.

Alvina melihat perubahan tren itu sebagai sesuatu yang positif. Menurut sulung dari dua bersaudari ini, pihaknya tak lagi fokus menggiring konsumen datang ke dealer, tapi bisa memanfaatkan channel yang lain untuk menjangkau mereka, seperti melalui media sosial.

Alvina, sosok yang memiliki jiwa petualang dan boleh dibilang sebagai cerminan kaum milenial .

“Justru dengan memanfaatkan teknologi digital, kita menjadi lebih produktif. Contohnya, ketika tampil di pameran, tenaga penjual sambil duduk juga bisa berjualan melalui media sosial. Jadi kita bisa menjangkau dua tiga tempat secara bersamaan,” ungkapnya.

ASCO sendiri, kata wanita kelahiran 1989 ini, sudah menerapkan digitalisasi pada ‘perangkat jualan’, seperti membuka kanal untuk media sosial. Selain itu, seluruh tenaga penjual dibekali ilmu melalui berbagai pelatihan agar mereka mampu berjualan secara online.

“Sekarang ASCO juga tengah mengembangkan aplikasi untuk layanan bengkel. Jadi konsumen tak perlu antre, tapi cukup melakukan booking melalui aplikasi untuk menjalani perawatan kendaraan. Melalui aplikasi ini, konsumen juga bisa mendapatkan poin dan menukarnya untuk mendapat diskon dan lain-lain,” tutur wanita bertubuh jenjang ini.

Ramah konsumen

Tahun depan akan menjadi tonggak bagi ASCO untuk lebih dekat lagi dengan konsumen, tak cuma melalui pembenahan saluran informasi dan promosi yang memanfaatkan teknologi digital, tapi juga meningkatkan pelayanan bagi konsumen yang berkunjung ke dealer atau bengkel.

Baca juga:  Raup Keuntungan Besar, Astra Financial Sponsori GIIAS Sampai 2020

“Tak bisa dipungkiri, saat ini konsumen sudah jarang berkunjung ke dealer. Tapi yang sebenarnya konsumen masih datang itu kan ke bengkel. Jadi kami akan fokus di situ, di mana ruang tunggunya dibuat lebih nyaman. Konsep itu akan kami terapkan mulai tahun depan,” janji Alvina.

Lebih jauh, wanita yang belum lama membangun rumah tangga ini menjelaskan bahwa konsep bengkel yang memanjakan konsumen itu baru akan diterapkan di bengkel ASCO Daihatsu Jakarta, dan setelah itu dilanjutkan ke bengkel yang ada di Surabaya.

“Tapi konsep yang lebih ramah konsumen yang ingin kami ciptakan itu bukan hanya untuk dealer atau bengkel Daihatsu, tapi juga untuk ASCO secara keseluruhan. Jadi signature-signature itu yang akan kami ciptakan, sehingga orang akan langsung tahu bahwa ini Daihatsu-nya ASCO,” ucapnya.

Segala perubahan yang sedang dan akan dikerjakan itu adalah semata-mata untuk membantu para tenaga penjual melakukan tugasnya seraya memudahkan konsumen dalam berurusan dengan ASCO.

“Secara korporat dalam menyambut dunia digital, tentu saja kami sudah mengantisipasinya, seperti membenahi website atau online presentation. Hal-hal seperti itulah yang akan kami terapkan mulai tahun depan. Untuk aplikasi, akan dimulai dari bengkel, kemudian juga menyiapkan tablet untuk menampilkan katalog, sehingga tak perlu lagi menyediakan brosur,” sebut Alvina, yang hobi mendaki gunung ini.

Terkait dengan website, Alvina mengaku ASCO sudah mengembangkannya. Namun, yang perlu dibenahi untuk tahun depan adalah pengkinian (update) informasi, termasuk untuk kanal media sosial.

“Ini penting, karena kalau dulu orang mendapat informasi melalui ‘word of mouth‘, tapi kini kini sudah berubah menjadi ‘worth of post‘,” imbuhnya.

Perkembangan teknologi ini mau tidak mau harus diikuti agar tidak ketinggalan zaman. Tenaga penjual sebagai garda terdepan perusahaan, menurut Alvina, harus menguasai teknologi terbaru yang menjadi tren di masyarakat, terutama harus aktif di media sosial.

Alvina bersama sang suami, saling memberi dukungan, meski berbeda profesi.

“Beruntungnya, melalui perekrutan baru, lebih banyak terjaring tenaga muda yang sudah akrab dengan media sosial. Ini jelas akan lebih mudah mengajarkan mereka untuk berjualan dan berinteraksi dengan konsumen di dunia maya. Sedangkan bagi orang-orang lama, kami ikutkan mereka berbagai pelatihan agar ter-update kemampuannya terhadap teknologi digital.”

Namun, dukungan dari para atasan, juga jajaran direksi, sangat dibutuhkan agar pengaplikasian teknologi digital menjadi budaya baru di ASCO. Selain itu yang tak kalah penting, kata Alvina, adalah dukungan infrastruktur di semua dealer dan bengkel ASCO, seperti Internet yang cepat, ruang kerja yang nyaman dan sebagainya.

Meski demikian, digitalisasi ini tidak akan menghilangkan budaya lama untuk merangkul konsumen. Contohnya, ASCO masih tetap mengikuti kegiatan pameran, baik di mall maupun pameran resmi.

Baca juga:  Astra International Raup Laba Rp4,98 Triliun Kuartal I

“Bagaimana pun, pameran itu penting, karena masih banyak konsumen yang ingin melihat langsung unit kendaraan yang mereka idamkan, meski sebenarnya mereka telah melihatnya via Internet. Pameran selain untuk menunjukkan brand existence, juga cara kami untuk meng-touch konsumen,” tuturnya.

Pahami bisnis
Sebagai anak muda, terlebih seorang perempuan, Alvina melihat keterlibatan dirinya di dunia otomotif yang lebih kuat labelnya sebagai dunianya laki-laki, bukanlah sebagai challenge (tantangan) khusus. Bagi dia, ketika pertama kali masuk ke dunia otomotif, yang notabene adalah dunia baru, tantangan utamanya adalah mengerti tentang bisnisnya.

“Yang perlu kita pahami ketika terjun ke dunia bisnis baru adalah bagaimana business process-nya, kemudian bagaimana business culture-nya, lalu bagaimana memahami orang-orangnya, yaitu bagaimana saya bisa connect dengan mereka. Jadi, mungkin saya tak terlalu merasakan challenge, oh saya cewek tapi di dunia otomotif. Jadi saya tak terlalu berpikiran seperti itu,” aku Alvina.

Meski ia mewarisi posisi kepemimpinan dari ayahnya, tapi kuncinya agar bisa sukses dan diterima di dunia yang digelutinya, Alvina menyebut dua kiat yang ia terapkan, yaitu integritas dan kredibilitas.

“Dua kiat dari ayah saya, yaitu yang satu integritas dan satu lagi adalah kredibilitas. Untuk integritas, saya gak bisa hanya nyuruh-nyuruh, tapi saya sendiri gak ngerjain. Juga saya gak boleh ngomong A tapi sebenarnya B. Sedangkan untuk integritas, menurut saya adalah seberapa mengerti saya akan bisnis ini. Karena nanti kalau tidak, anak buahnya bisa lebih mengerti, itu kan gak bisa juga seperti itu,” jelasnya.

Alvina juga menceritakan bahwa sebelum ia menduduki posisi direktur di ASCO, ia perlu belajar dulu, baik dari ayahnya langsung maupun melalui bekerja dan belajar di berbagai divisi untuk mengetahui lebih banyak tentang perusahaan yang akan ia pimpin.

“Proses awalnya adalah tawaran dari ayah saya untuk menduduki posisi tertentu. Misalnya begini, kamu mau gak ditempatin di posisi ini, tapi kalau kamu gak bisa ya gak usah. Jadi sebenarnya saya pertama bekerja seperti karyawan yang lain juga. Jadi waktu pertama saya bekerja, saya hanya pegang finance saja. Kamu lihat semua transaksi, ya sudah saya cuma begitu saja tugasnya,” Alvina mengisahkan proses pembelajaran di ASCO.

Setelah bekerja di divisi finance, Alvina kemudian pindah ke divisi lain. “Jadi pertama masuk, saya keliling ke semua departemen untuk mempelajari semua departemen di perusahaan. Semua proses itu saya jalani sekitar enam bulan. Kalau orang lain mungkin butuh waktu dua tahun untuk belajar, tapi saya cukup enam bulan, karena di rumah saya masih belajar lagi dengan ayah saya setiap hari. Jadi ini semacam program akselerasi,” candanya.

Baca juga:  Toyota Yaris Sedan Andalkan 'Jurus' Ini Biar Memikat

Untuk saat ini, menurut Alvina, ia lebih bertukar pikiran dan diskusi dengan ayahnya seputar pekerjaannya. Hal itu karena ia sudah lebih paham dengan tugas-tugas yang diembannya.

“Sebagai anak tentunya saya tetap datang ke ayah saya, tapi hubungannya sekarang berbeda. Kalau dulu kan seperti mentor dengan mentee, tapi sekarang lebih seperti kolega kerja,” kata penyuka kendaraan SUV ini.

Tapi yang jelas, ungkap Alvina, sebelum menduduki jabatan tinggi di ASCO, dirinya sudah diarahkan oleh keluarganya untuk menjalankan bisnis. Hal itu terlihat dari pendidikan yang dijalaninya dan juga bisnis yang digelutinya semasa di Australia sebelum kembali ke Tanah Air sekitar tiga tahun lalu.

“Kalau BoD (direksi) kena marah tiga jam selama meeting, tapi kalau saya bisa kena marah selama 24 jam, karena saya ketemu setiap hari dengan ayah saya.”

Ia juga menampik anggapan bahwa posisi dirinya saat ini di ASCO lebih karena diwariskan oleh ayahnya. Alvina menyebut bahwa proses belajar dan tempaan dari ayahnya itulah yang membawa dirinya ke posisi yang ia duduki sekarang ini.

“Kalau BoD (direksi) kena marah tiga jam selama meeting, tapi kalau saya bisa kena marah selama 24 jam, karena saya ketemu setiap hari dengan ayah saya. Jadi sebenarnya, dibilang anak bos, memang keadaannya seperti itu. Tapi yang gak kelihatan kan proses digembleng dan akselerasinya itu,” sebut Alvina.

Yang terpenting bagi Alvina adalah mendapatkan kepercayaan dari para karyawannya. Kemudian untuk menjalin keakraban sesama karyawan, ada acara makan siang bersama, kemudian juga ada review dengan mendatangi setiap dealer, juga ada sales convention setiap tahun, yang semua itu untuk menjembatani hubungan dan interaksi karyawan dengan atasan dan sebaliknya. Untuk acara sales convention, kata Alvina, perusahaan memberikan penghargaan kepada tenaga penjual yang berprestasi.

“Itu dari sisi perusahaan, karena harus touch langsung kepada semua karyawan. Apalagi kan cabangnya banyak dan tersebar, jadi agak susah untuk ketemu satu per satu. Tapi kalau secara personal, yang saya lakukan mungkin simpel sekali, misalnya tanya karyawan baru namanya siapa, ngucapin selamat bergabung. Yang penting saya tahu dia siapa dan dia tahu saya siapa. Jadi dari kenalan itu sih bonding-nya,” cerita Alvina tentang bagaimana menjalin kedekatan dengan seluruh karyawan yang berjumlah total sekitar 900 hingga 1.000 orang yang tersebar di kantor pusat dan 17 cabang.

Di akhir obrolan, Alvina mengungkapkan optimismenya ASCO mampu menghadapi ketatnya persaingan, termasuk dengan masuknya beberapa merek China, karena ia bersama jajaran direksi selalu menanamkan customer service mindset di seluruh benak karyawan, bukan cuma salesman, mekanik, tapi juga semuanya, termasuk satpam. Apa yang diucapkan Alvina itu memang bukan isapan jempol, karena ketika Dapurpacu.id datang ke head office ASCO Automotive di bilangan Pasar Minggu, keramahan itu terpancar mulai dari mereka yang bertugas di pos Satpam, di front office hingga ke Alvina sendiri. [dp/Teguh Ralfa & Gustom Muzlie]