Perdana, Kilang RU III Plaju Resmi Hasilkan Biosolar (B-20)

Kilang RU III Plaju melakukan peluncuran perdana BBM Biosolar (B-20).

PALEMBANG (DP) – Akhirnya, Pertamina Refinery Unit III resmi melakukan peluncuran Perdana Bahan Bakar Ramah Lingkungan Biosolar (B-20) di Kilang RU III Plaju, Kamis (24/1) lalu. Langkah ini dilakukan guna menjalankan Kebijakan Pemerintah sesuai Permen ESDM No 41 Tahun 2018.

“Peluncuran bahan bakar B-20 menunjukkan bahwa Pertamina Refinery Unit III Plaju siap mendukung program Pemerintah dan memenuhi security of supply khususnya di daerah Sumbagsel melalui sinergi bersama dengan Marketing Operation Region II Sumbagsel,” ujar GM RU III Plaju, Yosua I. M Nababan, dalam siaran resminya, Sabtu (26/1) lalu.

RU III telah melakukan improvement baik dari segi sarfas penerimaan FAME maupun produksi B-20 dalam tempo yang cukup cepat. Kilang RU III mampu mengolah pasokan FAME dari supplier dengan kapasitas 30.000-40.000 KL/bulan.

FAME diterima melalui kapal dan disalurkan melalui RPM (Rumah Pompa Minyak) Fuel di area storage tanki untuk dilakukan blending Solar sebagai B-20, untuk kemudian di lifting melalui sarfas existing baik via kapal maupun pipeline ke TBBM wilayah Sumsel dan Lampung.

Baca juga:  Pertamina Jamin Stok BBM Jelang Mudik Lebaran di Kalimantan Aman!

“Kami berterima kasih atas apresiasi Menteri ESDM RI saat kunjungannya ke RU III lalu. Menciptakan energi bersih menjadi prioritas kami sebagai Green Refinery pertama di Indonesia,” sambung Yosua.

Selain untuk memenuhi Regulasi, injeksi FAME sebanyak 20% ke dalam produk solar dapat memberikan potensi improvement kualitas finish product.

Menurut Pjs. General Manager MOR II, Hendrix Eko Verbriono, keunggulan B-20 ini memiliki CetaNe number diatas 50 yang artinya lebih tinggi dibandingkan dengan CetaNe number Solar murni yakni 48.

“Semakin tinggi angka cetane, semakin sempurna pembakaran sehingga polusi dapat ditekan. Kerapatan energi pervolume yang diperoleh juga makin besar. Selain itu, campuran FAME menurunkan sulfur pada produk Diesel tersebut”, tuturnya.

Penerapan Bahan Bakar Ramah Lingkungan ini tentunya juga berdampak pada pengendalian angka impor BBM sehingga diharapkan ikut mendukung stabilitas nilai rupiah dan menghemat devisa negara.

Baca juga:  Toyota Agya Club Manado Pilih Nakhoda dan Pengurus Baru

Melalui pemanfaatan minyak sawit ini, selain menyejahterakan petani sawit dengan menjaga stabilisasi harga CPO, juga mampu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% dari Business as Usual (BAU) pada 2030 mendatang.

Sebagai informasi, RU III Plaju merupakan salah satu dari 30 lokasi yang ditentukan menerima FAME dengan pertimbangan kebutuhan B-20 untuk Provinsi Sumsel dan Lampung sebanyak 3.500 – 5.000 KL/hari.

Saat ini secara reguler dapat dipenuhi seluruhnya dari RU III Plaju yang mampu menghasilkan 180.000-200.000 KL/bulan B-20. [dp/MTH]