Untuk Biodiesel, Indonesia Jauh Lebih Maju dari Negara Lain


JAKARTA (DP) – Di tengah upaya mengoptimalkan pelaksanaan program Biodiesel B20, Indonesia juga sibuk mengembangkan program ini dengan standar lebih tinggi lagi, yakni 50 persen untuk pencampuran dengan minyak solar atau B50.

Adalah Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), yang merupakan lembaga di bawah PT Riset Perkebunan Nusantara, sebagai lembaga yang mengembangkan penggunaan biodiesel 50 persen pada pencampuran minyak solar atau B50, untuk kendaraan roda empat.

Penelitian ini sebagai antisipasi terhadap berbagai pembatasan dari negara pengimpor produk sawit asal Indonesia, kata Komisaris Holding PT Perkebunan Nusantara, Muhammad Syakir, di Jakarta medio pekan ini.

Menurut Syakir, pengembangan B50 mulai dilakukan sebagai antisipasi Indonesia sebagai negara penghasil sawit terbesar di dunia, apabila pembatasan dari negara tujuan ekspor tersebut semakin besar.

Ia menyebutkan penelitian yang dilakukan ini juga untuk meyakinkan berbagai pihak bahwa Indonesia siap memanfaatkan produk sawit lebih besar dari segi sumber daya manusia maupun teknologinya. Dengan demikian, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan minyak sawit mentah (CPO) sehingga tidak hanya bergantung pada ekspor.

Baca juga:  Indonesia Targetkan 2035 Produksi Kendaraan Pengonsumsi Biofuel

Dalam hal ini, PPKS telah menguji sebuah kendaraan jenis Multi Purpose Vehicle (MPV) berbahan bakar B20 untuk jarak tempuh 2.000 kilometer, dan hasilnya akan segera dipublikasikan.

Beberapa keunggulan bahan bakar biodiesel, ungkap Syakir, antara lain mampu diproduksi di dalam negeri, non-toksik, ramah lingkungan dan bio-degradable.

Selain itu, bahan baku biodiesel berupa minyak nabati juga terdapat di Indonesia, serta dalam produksinya melibatkan jutaan petani.

“Ini baru awal, kami akan lebih menajamkan pengembangannya dengan bekerja sama lebih komprehensif, misalnya dengan lembaga riset lain, industri otomotif dan Pertamina,” pungkasnya. [dp/TGH]