Toyota Siap Buka Gerbang Australia Sebagai Tujuan Ekspor

Penjualan merek mobil di bawah Grup Astra terjadi penurunan pada Januari lalu.

JAKARTA (DP) – Melihat moncernya pencapaian ekspor di tahun lalu, membuat PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) berkomitmen untuk mulai melirik pasar negara lain sebagai tujuan ekspor selanjutnya di tahun ini.

Tak hanya itu, ambisi lain yang diharapkan bisa tercapai tahun ini yaitu tergapainya peningkatan kinerja ekspor sebesar lima persen.

Disisi lain, Toyota juga tetap fokus menjaga kestabilan performa ekspor (termasuk didalamnya kualitas produk, ketepatan waktu pengiriman) di negara tujuan baru bisa tetap terjaga.

“Studi-studi untuk mempelajari destinasi ekspor baru termasuk ke Australia masih terus kami lakukan,” kata Presiden Direktur PT TMMIN, Warih Andang Tjahjono, dalam siaran resminya.

“Di saat yang sama, kami juga berupaya tetap fokus dalam hal menjaga kestabilan performa ekspor di negara baru tujuan ekspansi tahun lalu seperti Afrika dan Amerika Latin,” lanjut Warih.

Semua kendaraan CBU yang diekspor ke berbagai negara itu merupakan produksi lokal dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) mencapai 75% sampai 94%, dengan negara tujuan ekspor lebih dari 80 negara di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, Karibia dan Timur Tengah.

Baca juga:  Toyota Indonesia Academy Terus Cetak SDM Berprestasi
TMMIN juga tetap fokus menjaga kestabilan performa ekspor (termasuk didalamnya kualitas produk, ketepatan waktu pengiriman) di negara tujuan baru bisa tetap terjaga.

Kondisi ekonomi makro dunia merupakan tantangan tersendiri bagi kinerja ekspor otomotif dalam negeri. Menyikapinya, Toyota memandang daya saing industri menjadi kunci untuk bisa bertahan bahkan memenangkan persaingan.

“Tak ada jalan lagi selain meningkatkan competitiveness industri dalam negeri dari hulu hingga ke hilir untuk bisa mempertahankan posisi Indonesia sebagai salah satu basis produksi dan ekspor di kawasan Asia-Pasifik,” kata Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal TMMIN, Bob Azam.

“Peningkatan kandungan lokal murni (true localization) produk yang dimulai dari penggunaan sumber material dalam negeri, menjadi upaya yang fundamental untuk menjaga daya saing,” lanjut Bob Azam.

Menurutnya, kegiatan ini juga dapat membantu menekan impor ‘raw material’ sehingga dapat memberi sumbangan terhadap kestabilan neraca perdagangan terutama di sektor komponen otomotif, yang saat ini masih menjadi perhatian Pemerintah.

Bob Azam menambahkan, pendalaman TKDN merupakan isu yang serius karena pada umumnya menjadi beban tanggung jawab industri kecil yang berperan sebagai pemasok di lapis ke-2 atau ke-3.

Baca juga:  Toyota Indonesia Academy Terus Cetak SDM Berprestasi

Inefisiensi menjadi salah satu kendala mendasar operasi bisnis industri kecil di Indonesia. Untuk memerangi ketidakefisienan itu, diperlukan upaya berkelanjutan dalam membangun SDM terutama pembekalan keterampilan dasar yang pada gilirannya akan berperan dalam meningkatkan efisiensi.

Saat ini TMMIN sedang dalam proses riset dan pengembangan penggunaan aluminium lokal untuk dipergunakan pada velg bekerja sama dengan INALUM dan Pako. TKDN murni produk Toyota berada di angka 65%. Ke depannya, Toyota menargetkan bisa mencapai level 80% di 2020. [dp/MTH]