Sudah Saatnya Sektor Otomotif Terapkan Industri Daur Ulang Plastik


JAKARTA (DP) – Kementerian Perindustrian mendorong implementasi industri daur ulang untuk sektor otomotif dalam upaya mendongkrak daya saing ekspor manufaktur nasional.

“Sekarang 73 persen ekspor kita ditopang dari industri manufaktur dan sektor otomotif menjadi salah satu andalan,” ucap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (7/2).

Konsep tersebut dinilai mampu mendongkrak daya saing ekspor manufaktur Tanah Air, sekaligus bisa berkontribusi dalam menerapkan ekonomi berkelanjutan atau circular economy yang menjadi bagian dari industri 4.0.

Airlangga menyampaikan hal itu dalam Seminar Nasional Kesiapan Sumber Daya manusia Industri Manufaktur Menghadapi Revolusi Industri 4.0 di SMK Ananda Mitra Industri Deltamas di Cikarang, Jawa Barat.

Pada Januari-September 2018, jumlah ekspor mobil utuh (completely built up/CBU) mencapai 187.752 unit, atau naik 10,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian, ekspor sepeda motor dari Indonesia pada 2018 naik melejit 46,3 persen menjadi 575.000 unit.

Baca juga:  Jelang Liburan Tahun Baru, Auto2000 Beri 3 Promo Menggoda

Ekspor sektor otomotif diperkirakan jumlahnya terus naik seiring rencana diterapkannya kebijakan fiskal, seperti harmonisasi tarif dan revisi besaran Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Untuk itu, Menperin mengajak para pelaku industri otomotif nasional agar terus meningkatkan daya saingnya, dengan bersinergi mengusung ekonomi berkelanjutan melalui daur ulang, salah satunya plastic recycle.

Tren saat ini, komponen besar dalam kendaraan seperti, bumper, fender, dan dashboard pada mobil tidak lagi menggunakan baja antikarat, tetapi menggunakan kandungan plastik.

Ajakan Menperin tersebut sekaligus untuk mengakomodasi standar-standar keberlanjutan dari 10 prioritas nasional di dalam inisiatif Making Indonesia 4.0.

“Plastik itu bukan sampah. Dari segi biaya, plastik adalah bahan baku yang relatif lebih kompetitif dibanding yang lain, dan menyerap emisi lebih rendah,” kata Airlangga.

Apabila industri otomotif menggunakan virgin plastic, menurut Airlangga, maka biaya produksi akan lebih mahal. Terlebih apabila dengan impor virgin plastic, kebutuhan devisa akan menjadi lebih tinggi, karena saat ini Indonesia baru mampu memproduksi satu juta ton virgin plastic, padahal kebutuhannya mencapai lima juta ton.

Baca juga:  Jelang Liburan Tahun Baru, Auto2000 Beri 3 Promo Menggoda

“Karena itu, pemerintah mendorong yang namanya circular economy, yang bagian juga dari industri 4.0,” tegasnya.

Airlangga menilai kapasitas daur ulang plastik di Tanah Air masih jauh dari standar, padahal kemampuan itu masih bisa ditingkatkan. Saat ini, di dalam negeri baru mampu mendaur ulang 12,5 persen dari standar industri yang seharusnya, yakni 25 persen. [dp/TGH]